by

Tawati*: Jalan Cemerlang Memelihara Fitrah Manusia

Tawati

RADARINDONESIANEWS.COM,JAKARTA – Sangat miris mengikuti berita yang dikabarkan berbagai media akhir-akhir ini terkait peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam negeri.

Sebagai contoh, kasus pembunuhan terhadap jabang bayi sendiri yang dilakukan oleh remaja berinisial SNI (18) di dalam toilet Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beriman pada Rabu 24 Juli. Lantaran belum siap menikah dan belum siap punya anak, ia terpaksa melakukan hal itu (Okezone, 28/7/2019).

Dan yang terjadi sebelumnya di Kuningan, Jawa Barat, sepasang muda-mudi yang masih berstatus pelajar ditahan karena menghilangkan nyawa bayi mereka sendiri. Bayi tersebut dibekap hingga meninggal dunia. (Radar Cirebon, 22/7/2019)

Mengapa semua ini terjadi? Apakah mereka sudah kehilangan akal sehatnya atau telah rusak naluri kasih sayangnya?

Kapitalisme rusak dan merusak. Itulah sebutan yang tepat untuk sistem yang sekarang sedang mendominasi kehidupan manusia. Kapitalisme telah merampas dan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Kapitalisme, ideologi yang menuhankan materi. Segala sesuatu diukur dengan capaian uang dan uang.

Dalam implementasinya kapitalisme yang akidahnya adalah sekularisme (pemisahan aturan agama dari kehidupan) telah melahirkan liberalisme. Kebebasan berperilaku menyebabkan lahirnya orang-orang yang liar tidak mengenal batas halal dan haram. Demi memenuhi hasrat seksual yang menyimpang, mereka melakukan kemaksiatan yang dilarang agama dengan pacaran, seks bebas sehingga terjadi kehamilan di luar nikah. Akhirnya, aborsi, bahkan membunuh bayi sendiri tanpa berpikir panjang dan tidak bertanggung jawab.

Sistem sekuler memberi ruang kebebasan pada remaja dalam berperilaku kemaksiatan yang mencabut fitrah manusia. Negara tidak hadir dalam mendidik remaja berkarakter yang  siap bertanggung jawab pada pilihannya dan melindungi mereka dari pergaulan bebas.

Menerapkan sistem sekulerisme dalam kehidupan adalah pangkal dari semua penderitaan dan akan menjerumuskan pada penderitaan di dunia dan kerugian abadi nanti di akhirat.

Berbeda dengan sekulerisme yang telah merusak fitrah manusia, Islam memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia karena berasal dari Allah Swt, Pencipta manusia, yang Mahamengetahui apa yang tepat untuk manusia, yang menganugrahkan akal dan fitrah kepada manusia.

Telah tercatat dalam sejarah, tatkala menerapkan aturan Islam, negara mampu senantiasa memelihara naluri manusia. Islam senantiasa hadir dalam mengurusi semua persoalan manusia. Kita dapat melihat contoh istimewa Khalifah (presiden) Umar bin Khatab ketika mengurusi fitrah keibuan seorang perempuan.

Umar telah merubah keputusannya berkaitan dengan subsidi susu bagi anak-anak yang telah disapih menjadi semenjak lahir sudah langsung mendapat subsidi. Yang demikian itu dilakukannya setelah melihat seorang ibu yang menolak atau menghentikan menyusui bayinya, sementara bayinya itu menangis karena lapar. Si ibu buru-buru menyapihnya supaya bisa mendapatkan subsidi bayi itu.

Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya nasib para bayi andaikan Umar tetap mematok subsidi hanya bagi bayi yang telah disapih, tentunya akan banyak bayi yang kehilangan kesempatan emas mendapat asupan gizi terbaik dari air susu ibunya.

Dalam sistem Islam mustahil terjadi khalifah membiarkan seorang ibu menjual anaknya apalagi membunuhnya.

Sungguh kapitalisme telah terbukti gagal. Kapitalisme tampak nyata sebagai biang segala masalah manusia, dan perusak naluri manusia. Saatnya kita kembali kepada aturan Islam sebagai  solusi dalam segala aspek kehidupan dan jalan cemerlang yang memelihara fitrah manusia. Wallahua’lam.[]

*Anggota Revowriter Majalengka

Comment

Rekomendasi untuk Anda