by

Tersandung Kasus Narkoba, Jaksa Penuntut Umum Tuntut Fani 6 Tahun Lebih

ilustrasi/net
RADARINDONESIANEWS.COM, GUNUNGSITOLI – Kepemilikan narkotika jenis pil ekstasi yang sempat menggemparkan beberapa waktu lalu di Gunungsitoli akhirnya memasuki tahap pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum di ruang sidang Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Selasa (13/8).
Persidangan yang dipimpin oleh Taufik selaku Ketua Majelis Hakim sempat tertunda beberapa jam karena menunggu jaksa dalam membacakan tuntutan.
Puluhan masa LSM dan ormas yang ikut mengawal proses persidangan juga sempat merasa kecewa akibat tertundanya waktu, namun sekitar pukul 5 sore sidang dibuka kembali dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum.
Jaksa Penuntut Umum, Eliksander Siagian (Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Gunungsitoli-red) yang digantikan Yudi Permana dalam membacakan tuntutannya menuntut terdakwa dengan pasal 114 ayat 1 dengan tuntutan penjara selama 6 tahun dan subsider denda 1 miliyar atau kurungan 6 bulan penjara. 
Diketahui sebelumnya, kasus ini berhasil diungkap oleh Polres Nias 19 Februari 2019 lalu dengan menangkap terdakwa disalah satu KTV yang ada di Kota Gunungsitoli.
Dari tangan terdakwa, polisi mengamankan berupa 4 (empat) butir narkotika jenis ekstasi serta uang pembelian sebesar Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah). Kemudian dari hasil penggeledahan dirumah terdakwa ditemukan barang bukti berupa 1 (satu) buah toples plastik warna merah yang berisi 9 (sembilan) butir pil ekstasi dan 48 (empat puluh delapan) butir pil ekstasi lainnya yang di bawah meja dapur rumah terdakwa.
Masih dilingkungan Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Ketua DPW LSM Gempita Kepulauan Nias Sabarman Zalukhu meminta kepada Hakim yang akan memutuskan perkara ini agar menghukum terdakwa seberat beratnya.
“Sidang hari ini sudah kita lihat dan dengarkan sendiri hasilnya seperti apa, Jaksa sudah membacakan tuntutannya. Agar tersangka tidak mengulangi perbuatannya yang bisa merusak generasi bangsa maka kami dari LSM Gempita meminta kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa lebih berat lagi,” ucapnya. 
Ketua LSM Gempita itu juga menjelaskan jika di kasus tersebut ada oknum yang lebih dulu di vonis.
“Perlu kita ingatkan bahwa kasus yang sama dari kepemilikan 61 butir ekstasi ini dalam pengembangannya ada keterlibatan salah seorang oknum dan itu sudah diputus dengan vonis 5 tahun lebih. Oleh karenanya kita menemukan ada kejanggalan, karena yang duluan tertangkap itu Vani ini. Kok, ini yang terakhir disidang, karena semestinya menurut kita si Vani ini yang mestinya duluan diputus, makanya kita kawal kasus ini, kita ingin lihat seperti apa putusan hakim, apakah nantinya si Vani ini putusannya lebih ringan dari oknum yang sudah diputus itu, kalau lebih ringan nantinya putusan hakim maka patut kita menduga ada permainan, tapi kita berharap agar hakim nantinya memberikan hukuman yang berat kepada terdakwa ini,” tegas Sabarman. (Albert)

Comment

Rekomendasi Berita