by

Dewi Istiharoh, AMd.Kom*: Muharram Momentum Hijrah Hakiki

Dewi Istiharoh, AMd.Kom

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tak terasa bulan Muharram telah menyapa kita pertanda memasuki tahun baru, tahun 1441 Hijriyah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijriyah disikapi oleh kaum Muslim dengan ‘dingin-dingin’ saja.

Memang, Tahun Baru Hijriyah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijriyah dijadikan sebagai momentum untuk merenung atas kondisi masyarakat saat ini. Karena Tahun Baru Hijriyah melekat erat dengan peristiwa hijrahnya Baginda Rasul dan para shahabat dari Makkah ke Madinah.

Esensi hijrah, bukanlah sebatas berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, Hijrah Nabi saw lebih menggambarkan momentum perjuangan Islam dan Kaum Muslim. Perubahan masyarakat Jahiliah menjadi masyarakat Islam. Inilah awal dari penerapan sistem Islam di seluruh aspek kehidupan. Dimana setiap orang di dalam daulah pertama di Madinah ini diatur dengan aturan Sang Pencipta. Perubahan yang sungguh revolusioner.

Kini, sejak runtuhnya Daulah Utsmaniy 3 Maret 1924 M Islam tak lagi menjadi aturan dalam kehidupan. Islam dicampakkan. Islam hanya diemban oleh individu dan kelompok saja. Kondisi masyarakat terpuruk karena hidup di bawah sistem buatan manusia. Maka, sudah selayaknya menjadikan pergantian tahun ini sebagai momentum perubahan hakiki baik perubahan secara pribadi, masyarakat maupun negara.

Hijrah Hakiki
Berbagai masalah kehidupan terjadi saat ini akibat diterapkannya sistem kufur buatan manusia di negeri-negeri muslim. Mudahnya umat terprovokasi, ulama dikriminalisasi, dakwah dipersekusi, meningkatnya kriminalitas, kesempitan hidup, mahalnya biaya kesehatan, pendidikan dan bahan-bahan pokok.

Belum lagi bila berbicara tentang bencana. Banjir, gunung meletus, gempa bumi, tsunami dan kebakaran hutan terjadi seolah tiada henti. Itu semua tidaklah cukup jika dipandang sebagai ketetapan Allah. Namun sebagai seorang muslim seharusnya melihat dari sisi keimanan. Bencana terjadi silih berganti akibat perbuatan manusia. Manusia enggan menggunakan aturan Sang Pencipta sebagai pedoman hidupnya, hingga kemaksiatan terus meningkat. Seperti firman Allah:

 “Telah Nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum: 41)

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha:124).

Jika melihat ayat di atas, wajar bila kehidupan kita semakin hari semakin sempit dan negeri ini menjadi negeri rawan bencana karena kemaksiatan yang terus dilakukan oleh umat. Bahkan kemaksiatan menjadi sesuatu yang biasa dilakukan dan dilegalkan.

Oleh karenanya, kunci untuk lepas dari segala kesempitan hidup tidak lain adalah dengan kembali kepada aturan Allah, aturan dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui atas manusia yaitu aturan Islam. Bukan Islam sebatas aturan ruhiyah yang mengatur urusan manusia dan Pencipta saja. Namun, Islam sebagai sebuah sistem yang mengatur segala aspek kehidupan. Baik yang mengatur hubungan antara manusia dan Pencipta (Allah), manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan sesamanya.  Dimana Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan Islam secara totalitas, tanpa terkecuali.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 208).

Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam bukan hanya kepada muslim. Oleh sebab itu, kekuasaan dan kepemimpinan yang amanah adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam penerapan Islam secara totalitas. Karena hanya Islam yang mampu memuliakan kehidupan manusia. Sejarah telah membuktikan. Selama 13 abad lamanya Islam memimpin 2/3 belahan dunia, selama itu pula kehidupan umat penuh dengan keberkahan dan kemuliaan.

”Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari atas langit dan dari perut bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf:96).

Maka tak ada jalan lain untuk meraih hijrah yang hakiki kecuali kembali kepada Islam secara kaffah, mengambil jalan hidup dan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat. Karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Wallahua’lambishshowwab.[]

*Motivator Remaja, CEO Sahabat Qur’anic, Member Revowriter

Comment

Rekomendasi Berita