by

Fachrudin AR: Para Sarjana Banjiri Kantor Gojek Malang, Lapangan Kerja Ideal Makin Langka?

-Opini-23 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa hari ini publik Malang dikejutkan dengan fenomena para pencari kerja yang rela datang sejak dini hari pada Selasa (17/9) ke kantor Gojek perwakilan Malang untuk daftar menjadi pengemudi ojek berbasis online, bahkan sejak pukul 3 antrian sudah mengular padahal jadwal ambil nomor urut baru dibuka pukul 5 pagi.

Hal ini untuk mengantisipasi tingginya animo pencari kerja yang kebanyakan bergelar sarjana tersebut dimana biasanya kantor buka pukul 8 pagi sebagaimana pada umumnya.

Alhasil begitu kantor dibuka tepat pukul 5 pagi untuk sekedar ambil antrian, puluhan bahkan ratusan calon driver online sudah berdesakan hingga tumpah ruah memakan separuh jalan raya depan kantor yg terletak di Jl. Laksamana Martadinata, Klojen, Malang. Imbasnya banyak yang tidak kebaikan nomor urut dan harus kembali antri sejak pagi buta hari berikutnya.

Fenomena di atas bukan hal baru, namun terjadi pula di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Manado, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Kabar terakhir di Semarang, para pendaftar ini sampai rela menginap agar dapat nomor antrian.

Bahkan sekitar 2 bulan lalu di kantor Gojek Yogyakarta yang terletak tak jauh dari Terminal Giwangan, karena terlalu lama berdesak-desakan dan khawatir tidak kebagian nomor urut, ratusan calon driver online yang sudah menunggu sejak dini hari nekat merangsek masuk dengan melompat dan merubuhkan pagar hingga menyebabkan saling injak, kaca pecah, dan bagian dalam gedung berserakan dalam video yang tersebar dan diunggah oleh warganet yang berada di lokasi kejadian.

Akhirnya proses penerimaan driver online wilayah Yogyakarta hingga saat ini dialihkan ke markas militer untuk menghindari kejadian serupa, yang dikenal dengan istilah “driver angkatan 403”.

SULIT CARI KERJA DENGAN GAJI IDEAL

Secara umum fenomena ribuan pencari kerja yang notabene bergelar sarjana berbondong-bondong ingin menjadi pengemudi ojek online menggejala di setiap daerah.

Begitu ada momen penerimaan driver baru hampir bisa dipastikan pendaftar membludak, hal ini tak lepas dari asumsi para pencari kerja yang tergiur dengan pendapatan tinggi yang diperoleh driver terdahulu yang bisa meraup Rp 3-9 juta/bulan dari dunia per-ojolan, sebuah hal yang langka diperoleh dari profesi lainnya.

Padahal jika melirik pendapatan para guru honorer atau buruh pabrik contohnya, dengan pekerjaan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran mereka hanya digaji tak seberapa.

Di sisi lain dengan adanya regulasi yang terus mengalami tarik ulur antara pihak aplikator transportasi online dan pemerintah, kebijakan pembatasan pengemudi di tiap daerah, hingga pemberlakuan tarif batas bawah yang berujung kenaikan tarif semakin mengonfirmasi gelombang pencari kerja ini makim berebut menjadi pengemudi transportasi online.

MENYEDIAKAN LAPANGAN KERJA TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Kinerja Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri terus disorot dalam mengentaskan angka pengangguran dan membuka lapangan kerja baru bagi usia angkatan kerja. Padahal jelas pemerintah dalam hal ini Presiden dengan Menteri Tenaga Kerja sebagai pembantunya menjadi pihak paling bertanggungjawab memberikan pekerjaan yang layak untuk seluruh rakyat.

Dalam pandangan Islam, kepala negara berkewajiban memberikan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan sebagai realisasi Politik Ekonomi Islam. Rasulullah saw.:

«اَلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ»

Imam/Khalifah adalah pemelihara urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Lebih detail, Rasulullah saw. secara praktis senantiasa berupaya memberikan peluang kerja bagi rakyatnya. Suatu ketika Rasulullah memberikan dua dirham kepada seseorang. Kemudian beliau bersabda (yang artinya),”Makanlah dengan satu dirham, dan sisanya, belikanlah kapak, lalu gunakan kapak itu untuk bekerja!”

Mekanisme yang dilakukan oleh Khalifah dalam mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan secara garis besar dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu: mekanisme individu dan sosial ekonomi.

1. Mekanisme individu.

Dalam mekanisme ini Khalifah secara langsung memberikan pemahaman kepada individu, terutama melalui sistem pendidikan, tentang wajibnya bekerja dan kedudukan orang-orang yang bekerja di hadapan Allah Swt. serta memberikan keterampilan dan modal bagi mereka yang membutuhkan. Islam pada dasarnya mewajibkan individu untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Banyak nash al-Quran maupun as-Sunnah yang memberikan dorongan kepada individu untuk bekerja. Misalnya, firman Allah Swt.:

]فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ[

Berjalanlah kalian di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. (QS al-Mulk [67]: 15).

Imam Ibnu Katsir (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, IV/478) menyatakan:”Maksudnya, bepergianlah kalian semua ke daerah di bumi manapun yang kalian kehendaki, dan bertebaranlah di berbagai bagiannya untuk melakukan beraneka ragam pekerjaan dan perda­gangan.”

Dalam hadis, Rasulullah saw. berdabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ أَنْ يَحْبِس عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ َ

Cukuplah seorang Muslim berdosa jika tidak mencurahkan kekuatan menafkahi tanggungannya. (HR Muslim).

Bahkan Rasulullah pernah mencium tangan Saad bin Muadz ra. tatkala beliau melihat bekas kerja pada tangannya, seraya bersabda (yang artinya), “Ini adalah dua tangan yang dicintai Allah Taala.”

Jelas, Islam mewajibkan kepada individu untuk bekerja. Ketika individu tidak bekerja, baik karena malas, cacat, atau tidak memiliki keahlian dan modal untuk bekerja maka Khalifah berkewajiban untuk memaksa individu bekerja serta menyediakan sarana dan prasarananya, termasuk di dalamnya pendidikan. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ra. ketika mendengar jawaban orang-orang yang berdiam di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja bahwa mereka sedang bertawakal. Saat itu beliau berkata, “Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” Kemudian Umar ra. mengusir mereka dari masjid dan memberi mereka setakar biji-bijian.

2. Mekanisme sosial ekonomi.

Mekanisme ini dilakukan oleh Khalifah melalui sistem dan kebijakan, baik kebijakan di bidang ekonomi maupun bidang sosial yang terkait dengan masalah pengangguran.

Dalam bidang ekonomi kebijakan yang dilakukan Khalifah adalah meningkatkan dan mendatangkan investasi yang halal untuk dikembangkan di sektor real baik di bidang pertanian dan kehutanan, kelautan, dan tambang maupun meningkatkan volume perdagangan.

Di sektor pertanian, di samping intensifikasi juga dilakukan ekstensifikasi, yaitu menambah luas area yang akan ditanami dan diserahkan kepada rakyat. Karena itu, para petani yang tidak memiliki lahan atau modal dapat mengerjakan lahan yang diberi oleh pemerintah. Sebaliknya, pemerintah dapat mengambil tanah yang telah ditelantarkan selama tiga tahun oleh pemiliknya, seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika berada di Madinah. Itulah yang dalam syariat Islam disebut i‘thâ’, yaitu pemberian negara kepada rakyat yang diambilkan dari harta Baitul Mal dalam rangka memenuhi hajat hidup atau memanfaatkan kepemilikannya.

Dalam sektor industri Khalifah akan mengembangkan industri penghasil mesin sehingga akan mendorong tumbuhnya industri-industri lain. Selama ini negara-negara Barat selalu berusaha menghalangi tumbuhnya industri alat-alat di negeri-negeri kaum Muslim agar negeri-negeri Muslim hanya menjadi pasar bagi produk mereka. Di sektor kelautan dan kehutanan serta pertambangan, Khalifah sebagai wakil umat akan mengelola sektor ini sebagai milik umum dan tidak akan menyerahkan pengelolaannya kepada swasta. Selama ini ketiga sektor ini banyak diabaikan atau diserahkan kepada swasta sehingga belum optimal dalam menyerap tenaga kerja.

Sebaliknya, negara tidak mentoleransi sedikitpun berkembangnya sektor non-real. Sebab, di samping diharamkan, sektor non-real dalam Islam juga menyebabkan beredarnya uang hanya di antara orang kaya saja serta tidak berhubungan dengan penyediaan lapangan kerja, bahkan sebaliknya, sangat menyebabkan perekonomian labil. Menurut penelitian J.M, Keynes, perkembangan modal dan investasi tertahan oleh adanya suku bunga; jika saja suku bunga ini dihilangkan maka pertumbuhan modal akan semakin cepat. Hasil penelitian di Amerika membuktikan bahwa masyarakat berhasil menabung lebih banyak pada saat bunga rendahbahkan mendekati nol.

Dalam iklim Investasi dan usaha, Khalifah akan menciptakn iklim yang merangsang untuk membuka usaha melalui birokrasi yang sederhana dan penghapusan pajak serta melindungi industri dari persaingan yang tidak sehat. Adapun dalam kebijakan sosial yang berhubungan dengan pengangguran, Khalifah tidak mewajibkan wanita untuk bekerja, apalagi dalam Islam, fungsi utama wanita adalah sebagai ibu dan manajer rumah tangga (ummu wa rabbah al-bayt). Kondisi ini akan menghilangkan persaingan antara tenaga kerja wanita dan laki-laki. Dengan kebijakan ini wanita kembali pada pekerjaan utamanya, bukan menjadi pengangguran, sementara lapangan pekerjaan sebagian besar akan diisi oleh laki-laki—kecuali sektor pekerjaan yang memang harus diisi oleh wanita.

Penutup

Itulah mekanisme Islam yang insya Allah bisa mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangana pekerjaan secara adil. Ini hanya akan terwujud jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah Islamiyah.Wallâhu a‘lam. []

Catatan kaki:
1. M. Ikhsan Mojo, Inflasi, Pengangguran dan Krisis Baru.

2. S. Muharrom, “Trend Perubahan Pasar dan Perilaku Biaya, “www.smfranschise.com

3. Abdurrahman al-Maliki, 2001 Politik Ekonomi Islam, Penerbit al-Izzah, Bangil.

4. Anonymous, Teori Bunga dan Sistem Pemecahan Islam.

5. Dr. Arim Nasim, Mengatasi Pengangguran

*Penulis adalah seorang guru

Comment

Rekomendasi untuk Anda