by

Mamik Laila*: HIV/AIDS, Perenggut Generasi Harapan

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berkaca pada pengalaman banyak orang serta mengambil pelajaran darinya. Tentunya harus dilakukan. Supaya kehidupan semakin sempurna dan mulia. Namun itu seolah hanya mitos belaka. Tak ada yang mampu mengambil peran terbaik. Blitar, kota kecil nan elok menawan kini terpapar sekulerisme yang telah menjatuhkan korban jiwa lebih kurang 362 jiwa meninggal korban dari penyakit HIV/AIDS. 1.408 orang diantaranya menderita penyakit tanpa obat itu. Data tersebut diambil mulai tahun 2015 sampai sekarang  (www.mayangkaranews.com/16/8/2019).

Kasus yang demikian terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tentunya ini harus menjadi perhatian penuh semua pihak. Namun yang harus bertanggung jawab penuh adalah pemerintah. Pasalnya pengelola urusan rakyat adalah mereka. Atas persetujuan maupun ketidaksetujuan suatu kebijakan diterapkan, ada ditangan mereka. Dan merekalah yang menjadi ro’in/pengelola. Wewenang dan tanggung jawab ada para pengambil kebijakan ini.

Rakyat hanya pasrah atas kebijakan yang digulirkan. Rakyat tak memiliki perangkat yang mampu menguatkan pilihan mereka. Lagi-lagi yang memiliki kekuasaan ya mereka. Yang memiliki perangkat lengkap mulai UU sampai polisi yang menindak atas UU yang dilanggar. Maka jangan sekalipun melepas tanggung jawab. Karena semua itu akan dimintai perhitungannya. Pemimpin akan dekat dengan Allah SWT atau bahkan dia akan terjerumus pada jurang jahannam, itupun karena kekuasaan yang telah ia ambil sebagai amanah.

Kebijakan membolehkan semua tayangan kebebasan mangkal di negeri tercinta ini merupakan kebijakan yang keliru. Pandangan bahwa kebebasan harus dimiliki oleh setiap manusia. Manusia tidak boleh dikekang, mereka memiliki hak untuk berekspresi. Atas dasar pemikiran yang dangkal ini, kebijakan kebebasan pun tergulir. Hingga masyarakat pun sangat mudah untuk meniru gaya hidup para penikmat euforia kebebasan.

Tayangan televisi, munculnya situs-situs porno diinternet, bahkan iklan-iklan produkpun tak lekang oleh nuansa erotis. Maka tak ayal, generasi yang minim keimanan akan sangat mudah tergoda dengan semua itu. Dan akhirnya mengamini sikap hidup seperti itu. Jadilah ditengah-tengah kita, pergaulan muda-mudi tanpa batas. Gonta-ganti pasangan. Seringnya mengindahkan ajaran agama yang notabene hanya berfungsi untuk mengingatkan bukan mengikatkan pada aturan yang termaktub dalam kitab suci. Tak ada perangkat yang yang mampu menindak aturan yang tak sesuai dengan agama.

Perangkat yang bisa menindak hanya dengan kekuasaan. Kekuasaan yang memiliki payung hukum untuk menindak setiap perbuatan yang tak sesuai dengan aturan agama. Yang bisa merusak tata laksana kehidupan masyarakat yang mulia. Ini bisa terjadi ketika perangkat yang ada mengambil konsep ilahi dalam setiap kebijakan yang diambil. Bukannya malah konsep jahil yang muncul karena ketersiksaan masyarakat barat oleh dogma gereja dalam mengelola rakyatnya. Munculnya ide J.J Roessouw tentang sekulerisme serta kebebasan manusia.

Ide ini bukan malah membuat masyarakat semakin baik, namun bermunculan efek samping lain yaitu seperti munculnya penyakit HIV/AIDS. Penyakit kelamin itu ada karena kesalahan menemukan ide shohih dalam menyikapi naluri seksual. Mereka mengambil sesuai dengan hawa nafsunya, gonta-ganti pasangan. Pasangan bukan hanya pada beda jenis. Bahkan mereka dengan lugas mengambil jenis yang sama. Muncul LGBT, Lesbian Gay Biseksual dan Transgender. Ide ngawur yang menyesatkan manusia.

Maka pentingnya memiliki cara pandang kehidupan yang shohih/benar. Harus mengenal diri, dari mana dia berasal untuk apa dia tinggal di dunia. Pasca meninggal dunia, dia akan kemana?

Cara pandang untuk memikirkan hal mendasar inilah menjadi cikal bakal kekuatan iman. Karena perilaku yang muncul ditopang dari pemahaman apa yang dia memiliki dalam memandang kehidupan. Oleh karena itu, cara pandang yang benar yang menempatkan bahwa manusia sejatinya berasal dari sang Khalik, untuk beribadah dia di dunia dan akan kembali lagi mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Inilah yang bisa mengantarkan manusia kembali meniti kehidupan dengan aturan yang benar.

Aturan ini tidak hanya berlaku bagi individu saja, namun lebih dari itu. Cara pandang yang benar harus diadopsi oleh negara sebagai pengatur rakyat. Mengelola dengan aturan yang benar akan berimplikasi pada kehidupan yang benar. Tak akan muncul lagi penyakit aneh-aneh yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya seperti HIV/AIDS. Sehingga generasi yang menjadi harapan umatpun akan terwujud, bukan generasi tanpa harapan. Wallahu’alam.[]

* Konselor remaja

Comment

Rekomendasi untuk Anda