by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd: Film The Santri, Layak Dikritisi

-Opini-26 views
Nanik Farida Priatmaja, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Meski film “Kucumbu Tubuh Indahku” mendapatkan piala Oscar, tapi kontroversi di negeri sendiri. Pastilah film tersebut bikin kontroversi, karena nyata-nyata mengkampanyekan liberalisme kaum elgebete khususnya kaum sodom.
 
Di film tersebut dikisahkan seorang bocah lelaki yang sejak kecil mengalami kecenderungan untuk berperilaku layaknya wanita(gemulai, cengeng dan suka pekerjaan yang dilakukan wanita pada umumnya). Kemudian orang-orang di sekitarnya memaksanya agar si lelaki kecil tersebut berubah sesuai fitrahnya. Hingga melakukan tindakan yang dinilai keras secara fisik.
 
Saat si bocah ini beranjak dewasa, ia mulai mencari jati dirinya yang dirasa sesuai dengan hati nuraninya. Ngenesnya, ia bertemu dengan orang yang sama dengan keadaan dirinya. Dari situlah si lelaki itu mulai menganut paham liberal dan berubahlah tak lagi sesuai dengan fitrahnya. Naudzubillah….
 
Bayangkan, saat ini hampir tiap hari di negeri ini ada saja kisah pencabulan kaum sodom. Mirisnya yang menjadi sasaran kebejatan mereka adalah anak-anak lelaki. Di Tulungagung saja terdapat ratusan pelajar yang menjadi korban kaum Gay. Ratusan korban ini yang berani melapor. Sedangkan yang tak masuk data, belum terhitung. 
 
Miris sekali, generasi penerus bangsa ini telah tersakiti ulah kaum bejat penganut liberal. Entahlah bagaimana bangsa ini ke depan jika generasinya telah dirusak sejak dini oleh elgebete (cara hidup yang lebih hina dari binatang). Hingga saat ini pun tak ada tindakan yang berupaya meminimalisir maraknya elgebete. Hukuman bagi pelaku pencabulan pun tak mampu memberi efek jera (hukuman penjara 3 hingga 15 tahun). Padahal untuk merehabilitasi para korban bisa jadi membutuhkan waktu puluhan tahun.
 

Trending topik di twitter hari ini“Kucumbu Tubuh Indahku” dan “The Santri”. Kedua film tak bermutu dijadikan tontonan anak bangsa

Film The Santri memang masih belum tayang. Akan tetapi iklannya udah bejibun di berbagai media. Sangat mudah ditebak bagaimana maksud film tersebut mengkampanyekan liberalis. Tingkah laku para santri di film tersebut sangat jauh dari fakta kehidupan santri yang sebenarnya. Ikhtilat(pergaulan campur baur) antar santri laki-laki dan perempuan begitu kentara. Belum lagi adegan memasuki tempat ibadah agama lain atas nama toleransi. Toleransi yang sangat konyol dilakukan seseorang yang mengaku sebagai santri.
 
Ajaran Islam tak perlu diragukan masalah toleransi. Sejak Islam diterapkan dalam kehidupan secara sempurna, toleransi pastinya sangat dikedepankan. Namun tak sebodoh layaknya yang digambarkan film The Santri. Film The Santri sepertinya ingin menggambarkan bagaimana santri itu bersikap  sesuai padangan sang sutradara yang notabene seorang non muslim. Sungguh lucu bukan? Film yang katanya islami namun isinya bertentangan dengan syariat Islam. Anehnya lagi film tersebut telah didukung ormas Islam yang mengaku paling terdepan menjaga NKRI. 
 
Sebenarnya bukan hanya kedua film tersebut yang merusak generasi. Masih banyak film-film Indonesia lainnya yang mengajarkan liberalisme. Namun tidak adanya peran negara memfilter pemikiran yang rusak, menjadikan film-film tak layak tayang (merusak generasi) tetap saja bebas tayang. Apalagi jika ratingnya tinggi atau tiket terjual bak kacang goreng, pastinya negara akan diam seribu bahasa. Yaah….begitulah jika negeri ini masih menganut sistem sekuler. Apapun yang dinilai menguntungkan pastinya akan dibiarkan meskipun merusak generasi.
 
Kepentingan kapitalis memang sangat mendominasi di negeri ini, tak terkecuali di dunia perfilman. Mereka tak akan memperhatikan nilai-nilai yang terdapat di dalam film yang telah mereka produksi, apakah bermanfaat bagi penonton ataukah tidak. Berpengaruh positif atau negatif. Yang ada hanyalah keuntungan materi semata.
 
Sudah saatnya rakyat yang peduli generasi berupaya melindungi generasi dari pemikiran-pemikiran yang merusak seperti liberalisme ataupun pluralisme. Keduanya tak akan membawa kebaikan bagi generasi masa depan karena pemikiran tersebut bertentangan dengan fitrah manusia dan tak layak dijadikan pedoman hidup.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda