by

Sambut Muharam 1441 H: Lupakan Duka Masa Lalu, Mampukah?

Desi Wulan Sari, S.E, MSi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menyambut tahun baru Islam, 1 Muharam 1141 H semestinya ditandai dengan dimulainya lembaran indah di negeri ini. Suka cita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat menjadi kekuatan negara dalam eksistensi sebuah negara.

Nyatanya satu tahun berlalu. Tahun 2019 M atau tahun 1440 H akan diakhiri dengan susah payah, penuh dengan drama dan duka bagi rakyat Indonesia. Betapa tidak, bertubi-tubi datang silih berganti musibah datang di negeri ini. Tentu bencana alam adalah urusan Allah sebagai maha pengatur alam ini. Tetapi perlu direnungkan Allah menurunkan kekuatannya dengan alasannya sendiri.

Bencana alam nenimpa wilayah-wilayah yang ada di Indonesia seperti Sukabumi dengan gempa , Serang anyer dengan gempa dan tsunami, Bandung dengan gunung erupsinya, banjir bandang di Kulawi-Sigi-Sulawesi Tengah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang mengerikan lagi adalah pelaksanaan pesta Demokrasi Indonesia April 2019 lalu telah banyak meninggalkan kedukaan yang dalam. Dimana pelaksanaan pemilu tahun ini jauh dari kata jurdil. Alih-alih memilih pemimpin dengan harapan mendapat pemimpin baru sesuai kriteria rakyat, justru korban air mata rakyat semakin memilukan. Banyaknya korban 440 petugas KPPS yang bertugas mengawal jalannya pemilu malah menjadi korban kematian ganasnya pesta demokrasi ini. Dan yang menyedihkan lagi kasus ini tidak pernah diusut hingga tuntas.

Tak kalah mirisnya kriminalisasi ulama muslim semakin merajalela, persekusi ulama dan adu domba antar umat juga menjadi catatan buram negara tahun ini. Sangat disayangkan Indonesia yang notabene penduduknya adalah mayoritas muslim justru mendapat tekanan luar biasa dari orang-orang yang tidak menyukai persatuan umat muslim tegak di Indonesia. Seharusnya para penguasa dengan pemimpin intelektualnya mengetahui sejarah bagaimana Indonesia berjuang memperoleh kemerdekaan atas jasa para ulamanya di seluruh bumi nusantara. Dalam UUD 45 pun disebutkan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang sadar beragama dan berketuhanan yang maha esa. Indonesia tidak mengakui keberadaan paham selain yang dibolehkan, dimana tertuang dalam Pasal 107 a UU tersebut berbunyi, “Barangsiapa yang melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme dalam segala bentuk, dipidana penjara paling lama 12 tahun.” Juga tertuang Jelas dalam TAP MPRS pasal 1,2,3 .

Belum lagi kenaikan-kenaikan harga pada fasilitas umum negara, seperti listrik, PAM, BBM, bahan pokok, pajak, tiket pesawat, BPJS kesehatan, lapangan kerja yang sulit.  Dan lain sebagainya. Kesemunya itu seharusnya menjadi tanggung jawab dan urusan negara dalam melindungi rakyatnya. Semestinya negara dapat mencukupi kebutuhan rakyatnya dengan memberikan kemudahan atas akses publik seperti kesehatan, pendidikan, keamanan dan kebutuhan pokok sandang pangan dan papan rakyatnya. Justru yang terjadi saat ini, rakyat semakin tercekik dengan kebijakan-kebijakan penguasa yang semakin menyulitkan hidup masyarakat.

Itulah rangkaian peristiwa duka tahun 1440 H, banyak peristiwa yang sulit dipahami oleh masyarakatnya sendiri. Bagimana mungkin azab dan bencana yang diturunkan Allah semestinya hanya diberikan pada negara-negara zalim yang selalu nenyengsarakan rakyatnya. Apakah Indonesia sudah begitu parahnya?. Apakah benar Allah menurunkan juga azabnya di bumi tercinta ini?.  Siapakah yang mampu menjawab semua pertanyaan ini?

Sejatinya  para penguasa dan pemimpin yang bijak akan mampu menjawab pertanyaan rakyatnya sendiri.  jika mereka masih memiliki hati nurani dalam melindungi dan memiliki tujuan atas amanah kepemimpinan yang ada di pundaknya, yaitu dalam memakmurkan, mencerdaskan, dan ingin nenuliskan tinta emas kepemimpinannya  dalam buku-buku tahunan abadi rakyat.

Sebagai bahan perenungan tahun baru Muharam mendatang, datangnya 1 Muharam 1441 H sebagai momentum perubahan dalam kepemimpinan bagi penguasa amanah. Merealisasikan harapan rakyat untuk dapat hidup lebih baik lagi di bumi Allah ini. Indonesia negara yang diraih melalui perjuangan darah dan air mata rakyat, semestinya dapat menjadi tempat selayak-layaknya atas kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Menjadi pemimpin yang dirindukan umat seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasul SAW beserta para sahabat ketika memimpin satu negara penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan. Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis:

Oleh: Desi Wulan Sari, S.E, MSi

Comment

Rekomendasi untuk Anda