by

Siti Rahmah: Hikma Sanggala, Sinyal Bangkitnya Idealisme Mahasiswa

Siti Rahmah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa yang tak kenal dengan Hikma Sanggala. Terutama kamu generasi muda dan mahasiswa. Hikma Sanggala yang namanya melejit menjadi pembicaraan akhir-akhir ini, bahkan berhasil beberapa kali menjadi trending topik dunia. Dia viral bukan karena dia mendadak jadi selebriti terkenal, bukan pula pemenang ajang pencarian bakat. Dia mendadak terkenal karena kedzaliman yang menimpanya, kerena ketidak adilan yang diterimanya.

Hikma Sanggala bukanlah sosok mahasiswa biasa yang kuliah hanya demi selembar ijazah. Walaupun tidak dipungkiri dia pun berusaha keras untuk bisa lulus, bahkan dia termasuk mahasiswa yang menginginkan lulus dengan nilai terbaik. Sehingga sederet prestasi pernah dia sabet, Piagam Sertifikat Penghargaan sebagai Mahasiswa dengan IPK  terbaik pun pernah dia dapatkan. Kiranya hal itu cukup menjadi syarat untuk mendapatkan ijazah dan kelulusan.

Namun, cita-cita untuk lulus itu tiba-tiba harus pupus di tangan seorang rektor berdarah dingin bernama prof Faizah binti Awad, M.Pd. Dia dikeluarkan dengan cara yang tidak akademik dan tidak terhormat. Hikma Sanggala dituding berafiliasi dengan aliran sesat dan kelompok radikal. Sebuah tudingan sepihak yang tidak mendasar namun berujung pada terenggutnya  hak Hikma sebagai mahasiswa.

Catatan Hikma Sanggala
Dalam perjalanan hidupnya, mengenyam pendidikan bukanlah hal yang mudah bagi Hikma. Pendidikan adalah barang mewah. Dia harus berjuang untuk bisa masuk dan membiayai sendiri pendidikannya. Kecerdasannya menuntun dia untuk terus berjuang demi bisa bertahan di bangku kuliahan. Namun, kesulitan dan beratnya beban kehidupan tidak mengikis integritasnya sebagai mahasiswa teladan. Dia tetap aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan, dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan perkembangan Islam. Karenanya dia memilih IAIN Kendari sebagai tempat untuk memperdalam pengetahuannya. Tapi sayangnya kampus kebanggaannya telah berubah menjadi sarang liberal.

Dia adalah seorang mahasiswa langka di era sekarang, mahasiswa dengan segudang prestasi, namun tetap memiliki kepedulian yang tinggi. Di saat mahasiswa lain sedang terlena dengan berbagai kesenangan dunia. Sibuk dengan urusan pribadi. Lebih suka menghabiskan waktu di cafe, bioskop dan tempat hiburan yang lain. Hikma menjadi sosok yang berbeda, dia sibuk memperhatikan kondisi sekitar dan mengkaji. Karenanya dia terus giat berdakwah untuk menyelamatkan umat terutama generasi negeri ini. Dia tidak pernah gentar dalam mencegah kemungkaran. Sehingga dia dikenal sebagai orator ulung, yang selalu terdepan menyuarakan apa yang harus disuarakan oleh mahasiswa sebagai ujung tombak kemajuan bangsa.

Negeri ini harusnya bangga memiliki sosok mahasiswa yang berprestasi, kritis, punya kepedulian tinggi. Mahasiswa yang bersih dari racun narkoba, mahasiswa yang tidak tercemari dengan aktifitas pacaran, pergaulan bebas dan terbebas dari racun liberal. Tapi sayangnya, justru mahasiswa seperti ini yang diincar oleh sang rektor dan dipersalahkan terpapar paham radikal. Padahal sejatinya Islam yang sedang dia pegang, Islam yang sedang dia dakwahkan dan Islam yang sedang dia perjuangkan.

Kalaupun yang meraka tuduhkan itu terbukti, bukankah selayaknya Hikma diberi peringatan bukan dipaksa dikeluarkan. Bukankah Hikma layak mendapat pembinaan dan pengarahan? Bukankah kampus tempat berkembangnya akal sehat? Bukankah kampus tempat tumbuh suburnya diskusi? Bukankah kampus tempat lahirnya insan-insan yang kritis? Jika ini yang terjadi tidakkah hal ini memberi gambaran betapa menakutkannya wajah pendidikan di negeri ini. Seolah tidak ada ruang dan kebebasan untuk mahasiswa menyuarakan kebenaran, tidak ada tempat untuk mahasiswa berdiri tegap dengan idealismenya. Justru sebaliknya dikampus bahkan kampus Islam  sekalipun menumbuh suburkan represifisme dan membiarkan kediktatoran.

Sinyal Kebangkitan

Kasus Hikma bagai dentuman keras yang membangunkan mahasiswa yang sedang tertidur pulas. Hikma membuka mata dunia pendidikan terutama perguruan tinggi, kalau mahasiswa dengan integritas tinggi itu masih ada.

Mahasiswa yang berjuang mengusung kebenaran itu masih hidup. Keinginanan bangkit atas semua kedzaliman dan ketidak adilan itu masih kuat. Hal ini nampak dari gelora mahasiswa yang terus berjuang untuk membela Hikma. Mereka sadar apa yang dipukulkan kepada Hikma sejatinya adalah peringatan untuk yang lain, agar tidak meniti jalan seperti yang Hikma tempuh.

Namun lagi-lagi kobaran keimanan dan panggilan menegakkan kebenaran tidak bisa mereka bendung. Mereka akan terus berjuang bukan hanya sekedar untuk mengembalikan status Hikma sebagai mahasiswa.

Tapi mereka akan terus berjuang sampai kebenaran itu bisa ditegakan. Berjuang sampai racun liberal dikampus Islam itu bisa dihilangkan.

Mereka adalah singa-singa yang sudah terbangun, mereka adalah orator ulung yang terus mengaung, mereka adalah pejuang sejati, mereka adalah simbol kebangkitan. Idealismenya tidak akan terbeli, integritasnya akan terus dijunjung tinggi. Pantang pulang sebelum perang, pantang mundur sebelum bertarung.

Wahai mahasiswa generasi pembaharu. Bangkitlah. Janganlah takut akan kedzaliman, janganlah ciut karena kesewenang-wenangan. Karena kebenaran akan menemukan jalan. Jadilah kalian agen perubahan, jadilah generasi yang selama ini kami rindu, jadilah yang terdepan dalam menggenggam kebenaran. Hikma sudah memberikan kita teladan akan keberanian dan konsekuensi perjuangan.

Hikma sudah mengajarkan kita tentang arti sebuah pengorbanan dan Hikma sudah memberi sinyal akan kebangkitan. Tinggal kalian lanjutkan, tinggal kalian sambut dengan penuh kebanggan.

Ingatlah, kalian lahir dari generasi terbaik dari generasi pejuang. Al Qur’an sudah menggambarkan bahwa kalian pun akan menjadi generasi terbaik ketika kalian terus menggaungkan ke ma’rufan dan mencegah dari kemungkaran.
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu`minụna billāh. (Al Imran 110)

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Wahai mahasiswa, gerbong perjuangan menanti kalian, untuk melaju meraih kemenangan yang sudah dijanjikan. Allahu Akbar.[]

*Motivator

Comment

Rekomendasi untuk Anda