by

Syafna Mela Zainia*: Tuntaskah Masalah Dengan Pindahnya Ibukota?

Syafna Mela Zainia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo memutuskan kawasan Penajam Paser Utara danni Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, sebagai kawasan ibu kota baru pemerintahan.(https://m.republika.co.id/berita/pwu1tp382/ini-alasan-jokowi-pilih-kaltim-jadi-ibu-kota-baru).
Presiden indonesia Joko Widodo kembali membuat sebuah rencana yang memilukan hati rakyat, belum selesai masalah-masalah yang datangnya dari kebijakan pemerintah, sekarang joko widodo menimbulkan masalah baru yakni memindahkan ibu kota ke Kalimantan timur, dalam pemindahan ibu kota pastinya sangat membutuhkan biaya yang sangat besar. Belum lagi lahan seluas 40 ribu hektar, bangunan yang harus ditata kembali, DARI MANA DANA SELANGIT ITU DIDAPATKAN??
Apakah dengan menambah total hutang yang telah bertumpuk dan menumpuknya kembali? Kebijakan sekarang memang sangat menyeleweng, selain pilu, luka, juga membuat resah. Dengan dipindahnya ibu kota kekalimantan, pasti ada sesuatu rencana yang disusun oleh pemerintah. Contohnya tuan rumah menenangkan hati rakyat dengan mengajak pihak swasta berkerja sama supaya kantong APBN negara tidak terkuras. Seperti BUMN sebagai investor, kerja sama pemerintahan badan usaha, kerja sama pemanfaatan aset. Kerja sama dengan pihak swasta memang sangat disambut oleh pemerintah karena ingin melakukan pemerataan ekonomi dg pindahnya ibu kota. Sadarkah pemerintah apabila swasta ikut bergabung maka ini makin mengukuhkan neoliberalisme ekonomi. Dan itu akan menjadikan pemerintahan menjadi babu dinegeri sendiri karen sang raja adalah pihak swasta.
Seperti yang dikatakan menteri bahwa pemindahan ibukota ini bermuatan politis dan sangat berhubungan erat dengan proyek obor China serta New Jakarta 2025. Dalam pemindahan ibu kota pastinya ada lahan yang diperlukan, maka butuh dana banyak untuk pembebasan lahan, belum untuk pembangunan. Tidak ada cara lain lagi selain kerja sama dan menambah hutang.
Lalu dengan pindahnya ibu kota apa untungnya untuk rakyaat?
Apakah pemimpin dalam sistem kapitalis ini tidak sadar telah menindas rakyat secara perlahan. Bagaimana bisa mereka berbahagia ria diatas kebijakan kebijakan yang sangat jelas melukai hati rakyat.?
Oleh sebab itu sudah saatnya kita kembali kepada aturan sang pencipta, karena aturan-aturan-NYA lah yg mampu membuat manusia sejahtera tidak dengan keberadaan hukum hukum lain. Karena dalam islam semua yang ber urusan dengan negara harua diurus untuk memenuhi kepentingan rakyat, termasuk dalam pemindahan ibukota.
Saat ibu kota negara islam berada  di Baghdad, kota tersebut berdiri sangat megah dibangun dalam pemerintahan islam, keKhalifaan Ab-basyiah ke 8, Al-mu’hashim.
Karena konstatinopel telah ditaklukan muhammad fattah alfatih maka ibu kota kekhalifahan berpindah keTurki , kota Konstatinopel yang telah berubah nama sekarang menjadi istanbul, dalam pemindahan ini pemerintahan islam tidak perlu menumpuk hutang, mereka hanya berjihad dengan berjuang dan menyebarkan islam. Sehingga Turki pada masa kekhalifahan sangat disegani oleh negara non muslim. Karena Turki merupakan pusat perekonomian, budaya, dan sejarah negara. Kejayaan islam pada saat memegang tampuk negara pada dunia memang telah terbukti. Maka oleh sebab itu kami butuh kembali perisai umat yang sempat mensejahterakan  kehidupan, kami ingin khilafah bukan demokrasi ataupun kapitalis. Wassalam.[]
*Mahasiswi UIB Padang, Fakultas Tarbiyah, semester 5

Comment

Rekomendasi untuk Anda