by

The Santri: Liberalisasi yang Berbalut Islami

-Berita-117 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sudah lebih dari sepekan jagat dunia maya dihebohkan dengan trailer film “The Santri” yang kontroversial. Sejak peluncurannya pada hari Senin 9/9/2019, warganet tak hentinya berkomentar hingga sempat menjadi trending topic di twitter.

Film yang disutradarai oleh Livi Zheng yang telah bekerja sama dengan Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU) ini tak sedikit menuai penolakan. Seperti yang dilakukan oleh Kyai Luthfi Bashori, Tokoh NU Jawa Timur. Beliau beralasan karena film ini tidak mendidik dan cenderung liberal. Terdapat akting pacaran, campur aduk laki perempuan, dan membawa tumpeng ke gereja. (MuslimahNews.com18/9/19)

Sementara wakil sekjen PBNU yang sekaligus menjadi Produser Eksekutif film The Santri ini, beliau berdalih bahwa film ini menunjukkan semangat Indonesia dengan kebhinekaannya, sangat ramah, damai, dan toleran. (CNN, 18/9/19)

Jika kita telisik lebih dalam menggunakan kacamata islam, tentu bisa menilai bahwa film ini memang sarat akan nilai-nilai liberalisme dan pluralisme. Dimana didalamnya terdapat adegan laki-laki dan perempuan berduaan, saling berpandangan dan juga campur baur antara laki-laki dan perempuan. Tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran islam, apalagi jika yang digambarkannya adalah lingkungan pesantren.

Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat Ahmad dalam kitab Musnad hadits no. 14692,

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan.

Begitupun dengan saling bertatapan mata antar lawan jenis, Allah sudah menetapkan dalam firman-Nya:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur [24]:31)

Sementara dalam hal ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan), mari kita meneladani Nabi saw yang selalu berupaya mencegah terjadinya ikhtilath. Termasuk dibagian bumi yang paling Allah cintai, yaitu masjid, dengan cara memisahkan barisan antara laki-laki dan wanita, kemudian agar jamaah laki-laki tetap berada di masjid hingga jamaah wanita keluar, lalu dibuatkan pintu khusus di bagian masjid untuk wanita.

Selain itu didalamnya juga terdapat adegan yang salah satunya diperankan oleh Wirda Mansyur, dimana adegan tersebut memasuki gereja dengan membawakan tumpeng kepada pendeta di acara peribadatannya. Lagi lagi ini bukanlah ajaran islam, justru ini adalah paham pluralisme yang bersumber dari luar islam.

Meski islam adalah agama yang toleransi terhadap agama lain, namun bukan berarti umatnya bebas membaur dan berpartisipasi didalamnya. Karena aqidahlah batasannya. Sikap toleransi pun dijelaskan oleh Allah dalam Alqur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8-9,

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (TQS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Begitupun yang dikatakan Umar radhiallahu ‘anhu berkaitan dengan memasuki peribadatan agama lain, “Hati-hatilah kalian dari bahasa orang kafir dan janganlah kalian masuk bersama orang muyrik pada saat peribadatan mereka di gereja mereka, karena pada saat itu dan di tempat itulah murka Allah sedang turun”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap toleransi dalam islam cukup berlaku adil, berlaku baik terhadapnya tanpa memasuki atau berpartisipasi dalam peribadatannya. Karena dalam QS. Al-Kafirun Allah sudah menegaskan, “bagiku agamaku, dan bagimu agamamu”.

Dari hasil telaah mengenai isi film The Santri diatas, dapat kita simpulkan bahwa film ini tak layak tayang dan tak layak ditonton. Karena didalamnya menggambarkan kehidupan santri namun tak sesuai dengan santri yang dididik di pesantren dengan aturan-aturan islam. Bisa jadi ini justru pencemaran nama baik santri, fitnah terhadap santri, bahkan akan menjadi contoh yang buruk bagi generasi santri mendatang.

Sudah seharusnya pemerintah memberikan controling terhadap film yang disuguhkan. Tak hanya mementingkan film sebagai sarana komoditas yang menguntungkan bagi negara, namun juga memberikan pendidikan terhadap masyarakatnya. Terlebih didikan beragama yang sesuai dengan ajaran-Nya.[]

Herawati Hartiyanti Lestari, S.Hum
Aktivis remaja muslimah Pantura Subang

Comment

Rekomendasi untuk Anda