by

Ummu Dzakiyah Ashraf SHI: Menghapus Label Halal Demi Persaingan Di Pasar Global

-Opini-46 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Akhir- akhir ini Indonesia mengalami kekalahan dalam sengketa perdagangan di Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Hal ini membuat pemerintah menerbitkan aturan baru. Pemerintah menerbitkan Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) Nomor 29 Tahun 2019 tentang ketentuan ekspor dan impor hewan dan produk hewan. Aturan ini merevisi Permendag 59 Tahun 2016. Dalam aturan itu, impor produk hewan tak lagi diwajibkan mencantumkan label halal sebagaimana yang sebelumnya diatur dalam Permendag 59 Tahun 2016. (tempo.co)

Kementerian Perdagangan menyatakan, aturan ini diterbitkan sebagai bentuk kepatuhan terhadap WTO akibat kekalahan Indonesia dalam sengketa perdagangan nomor DS484 dengan Brasil.

“Hal ini sangat disayangkan karena label halal memberi jaminan perlindungan produk yang dikonsumsi bagi konsumen Indonesia yang mayoritas beragama Islam,” kata Direktur Indonesia for Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti saat dihubungi, Jumat (6/9/2019)

Perlu kita ketahui bersama bahwa Brazil hanya mempersoalkan produk ayam dalam sengketa perdagangan bernomor kasus DS484. Akan tetapi, Permendag Nomor 29 Tahun 2019 berlaku untuk semua produk hewan dan turunannya. (kompas.id)

Benar sekali apa yang dikatakan Rahmi Hertanti bahwa hal ini sangat disayangkan terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim namun kenyataan berbicara bahwa “kepentingan agama dikalahkan saat bertabrakan dengan kepentingan materi (kapitalis)”. Ketiadaan label halal pada makanan impor akan membingungkan umat Islam sebagai mayoritas Warga Negara Indonesia untuk membedakan produk halal dan haram, terlebih masuknya produk impor makanan dari negara kaum kafir yang harganya bersaing.

Sebagian muslim kita tidak bisa tidak mempedulikan apa yang masuk dalam perut kita. Asal enak dan ekonomis, akhirnya disantap. Tidak tahu manakah yang halal, manakah yang haram. Padahal makanan, minuman dan hasil nafkah dari yang haram sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seorang muslim, bahkan untuk kehidupan akhiratnya setelah kematian. Baik pada terkabulnya do’a, amalan sholehnya dan kesehatan dirinya bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim begitu urgent untuk memperhatikan halal dan haramnya makanan.

Ketika pemimpin negeri memahami hukum islam dan dampak dari dicampakkanya halal haramnya makanan maka ingatlah “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Selain dampak tidak terkabulnya doa ada dampak lain dari masuknya makanan haram kedalam tubuh manusia yaitu malas dalam melakukan amal sholeh.Rizki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal shaleh. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal.

Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasehat. Semoga Allah memberi pada mereka balasan karena telah member contoh yang baik pada para hamba.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 126).

Dengan demikian dahsyatnya dampak makanan haram yang masukdalam tubuh kita kaum muslimin juga yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini maka setiap doa muslim tidak terkabulkan juga malas melakukan aktifitas atau amal sholih maka negara akan dipenuhi dengan penghuni yang sebaliknya. Penduduk yang bermoral rusak, enggan beramal soleh, ringan dalam menjalankan kemaksiatan dan tinggal menunggu saja kerusakan dan kehancuran negara.

Itulah, ketika dasar landasan negara hanya mencari manfaat dan keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan hukum Allah dan memang wajar terjadi dalam sistem kapitalisme. Maka dari itu marilah kita bersama terapkan hukum Allah sang pembuat manusia, alam semesta dan kehidupan agar negeri ini dilimpahi berkah dari langit dan bumi karena doa muslim yang bersih dari makanan haram akan di ijabah oleh-Nya serta ringan melakukan amal sholih, ringan dalam menolong, peka terhadap penderitaan sesama kaum muslimin, gemetar ketika mau melakukan kemaksiatan.

Dengan demikian tidak ada lagi orang  yang melakukan korupsi dan tidak ada pemerintahan yang berani berlaku dzolim. Wallahua’lam bishowab.()

*Penulis buku “Muslimah Perindu Syurga

Comment

Rekomendasi untuk Anda