by

Ainul Mizan, S.Pd: Merangkul Bayang-Bayang (Sebuah Cerpen)

-Sastra-47 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Entah apa yang dipikirkannya. Sudah beberapa kali ia pindah dari satu kota ke kota lainnya. Pak Andri terpekur di beranda rumah kontrakannya.

Tinggal sepekan lagi ia bisa tinggal di dalamnya. Sebentar lagi ia harus meninggalkan kota ini. Ya, sebuah kota yang menyambutnya dengan kemunafikan. Kalau memang demikian untuk apa ia meninggalkan rumahnya sendiri di ujung penantian panjangnya. Rasa menyesal sudah menyelimuti dirinya. Apakah benar bahwa masa depan menurut WS Rendra adalah gabungan antara angan – angan dan keinginan?

Lantas, angan – angannya selama ini di perantauan hanya sebuah halusinasi? Sebuah halusinasi untuk mengubur ketidakberdayaannya tersudut dalam lorong gelap kemiskinan yang menakutkan.

“Bu, gimana mobil barangnya?”, Pak Andri bertanya pada istrinya dengan perasaan tak menentu.
“Belum bisa pak. Mobilnya masih dipakai oleh bosnya”, jawab Bu Andri dengan mimik datar.

Ini apalagi ya? Batin Pak Andri bergejolak. Akankah ini tanda biar mereka sekeluarga mengurungkan niatnya.
Wajarlah bagi seorang kepala keluarga untuk cemas takut jika dapur rumah tidak lagi bisa mengepul setiap hari.

Satu sisi Pak Andri ingin penghidupannya jauh dari intimidasi. Walau intimidasi sekedar komitmen tentu akan dirasakannya sebagai larangan. Konflik antara angan – angan dan keinginan ini didapatkan setelah ditelpon oleh temannya yang lebih senior akan penghidupan yang lebih baik.

“Halo, Pak Andri, gimana sudah siapkan untuk pindah?”, suara itu begitu dikenalnya. Pemilik suara itu memang tidak asing di lingkungan sekolahnya yang sekarang.
“Gimana ya pak?”, Pak Andri menjawab dalam keraguan.
“Tenang aja. Di sini anda akan langsung mengajar. Nggak perlu ikut tes masuk guru. Anda diharapkan juga untuk ikut membantu kajian pembinaan ke-Islaman untuk guru – gurunya”, di ujung telpon sebut saja Pak Aris meyakinkannya.
“Jadi gimana keputusannya Pak Andri?”, di ujung telpon sebelahnya, Pak Andri merasa disambar petir di siang bolong ditanya demikian.

Pak Andri ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik dari yang sekarang digelutinya. Apalagi ia dijanjikan akan dikontrakkan oleh yayasan barunya nanti. Dari segi ngajinya juga diwadahi. Pak Andri diberikan kehormatan untuk mengisi kajian pembinaan untuk para guru. Kurang apa coba?

Matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia menengadah memandang langit – langit rumah yang sekarang ditempatinya. Cukup besar rumahnya. Sudah permanen lagi. Sudah sekitar 2 tahun ditempatinya rumah tersebut bersama anak istrinya. Ya, rumah hadiah pernikahan dari orang tua istrinya.

Apakah ia harus meninggalkannya untuk menjemput asa baru di kota orang dengan kedua kakinya sendiri? Waktu itu tekad Pak Andri ingin membuktikan bahwa dengan pendidikannya yang sarjana, ia bisa mandiri. Tidak menjadi parasit bagi kedua orang tua istrinya sebagaimana keluarga kakak iparnya.

“Ah… kamu tidak realistik Andri!”, nasehat sahabatnya, Pak Usman.
“Lho…tidak realistic bagaimana? Aku memilih pekerjaan yang lebih baik demi keluargaku. Lagian di sana banyak fasilitas yang diberikan”, Pak Andri menegaskan dengan telunjuknya menunjuk – nunjuk secara tidak beraturan.

“Ah… kamu. Jangan baper…! Masak cuman dibuat akad baru aja udah begitu. Ya, wajarlah kalau ada yang ketahuan ikut tes CPNS dibuat komitmen lagi. Lagian siapa yang suruh ikut tes CPNS!”, tajam pernyataan dari Pak Usman yang sempat membuatnya keder di kota baru nanti.

“Ndri,kamu itu udah dapat rumah. Eh malah mau ditinggal…aneh kamu…! Setelah menyelesaikan ucapannya, Pak Usman berlalu.

Kuatnya keinginan dari Pak Andri, menjadikan ia nekad pergi meninggalkan kota tempatnya membangun mahligai rumah tangga. Keinginan ataukah yang lebih tepat adalah obsesi. Ya, betul memang rasa keakuan di dalam diri Pak Andri yang banyak menjadi alasan. Masak lulusan sarjana masih ngenger kebutuhan belanja ke mertuanya.

Padahal jika sedikit menggunakan akal sehatnya akan mampu menghentikan langkahnya. Banyak orang yang mendambakan memiliki rumah sendiri. Bahkan walau penghidupan belum menentu, mereka sanggup bertahan di rumah sendiri.

“Bapak ayo diangkat semuanya ke mobil barangnya”, Bu Andri menegur dengan lembut.
“ Oh iya….”. segera Pak Andri bangkit dari duduknya.

Ia memandangi pemandangan di depannya. Sebuah mobil barang yang sarat dengan muatan. Semua perkakas keluarganya sudah tertata rapi di atas mobil. Ia mengalhkan pandangan kearah keluarganya, kepada istri dan anak – anaknya. Hatinya bergetar. Rasa sesal itu menyusup lagi dalam kalbunya. Timbullah keraguan untuk melangkah.
Melihat gelagat demikian, Bu Andri segera memberikan senyuman termanisnya. Akhirnya dalam sekejap keluarga mereka meluncur menuju sebuah kota yang di dalamnya rumah mereka menanti.

Ah, dirinya menjadi sadar.Janganlah urusan agama dijadikan sebagai kamuflase keinginan dan angan – angan yang belum bisa diukur. Memang, melakukan pembinaan itu bisa di daerah mana saja.Sebagai kepala keluarga tentunya tanggung jawab yang besar pada keadaan keluarganya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa harta yang diinfaqkan untuk menafkahi keluarga itu lebih utama daripada untuk keperluan ibadah lainnya.

Pak Andri tidak tahu garis nasib seperti yang digariskan oleh Allah untuk dirinya. Dinamika apa lagi yang akan dihadapinya saat ia hidup lagi di lingkungan di sekitar rumahnya sendiri tersebut.

Sudahlah, rasa bersyukur harus selalu dibesarkan guna mengalahkan egoisme, angan – angan dan kesombongan dalam menghadapi fragmen hidup ini. Di samping akan menyelamatkannya dari kemunafikan yang tersembunyi dari setiap hasutan dan kedengkian.[]

Comment

Rekomendasi Berita