by

Arina Hikmatul Husna*: Bunuh Diri Bukan Solusi

-Opini-209 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Warganet geger, tanggal 14 oktober kemarin terdengar sebuah kabar kematian seorang idol korea -Sulli ex f(x), yang kemudian ramai tagar #sulli. Diduga kematian sang idol itu karena depresi oleh bullying netizen yang berujung dengan menghabisi hidupnya di apartemen dengan bunuh diri.

Sebenarnya kasus bunuh diri seorang idol di negeri gingseng tak hanya kali ini saja, tahun kemarin masih segar di ingatan, Lee Jong Hyun personil Shinee bernasib serupa dengan Sulli. bunuh diri sebagai solusi akhir hidup.

Padahal, apa sih yang belum dimiliki seorang sulli dan Jong Hyun? Cantik dan tampan, iya. Tenar, tajir melintir, jelas. Banyak fans dan kawan juga. Apa yg belum mereka  temukan? Bukankah itu tujuan mereka menjadi idol? Tajir dan tenar?

Hakikatnya mereka sedang tak bahagia. Mereka masih kesepian sekalipun banyak harta dan penggemar. Selain itu mereka tak punya pemahaman hakikat hidup di dunia yang sesungguhnya.

Ketika manusia hanya berpikir dengan menjadi tajir sudah bahagia, lantas kenapa mereka memilih bunuh diri sebagai jalan akhir kehidupan?

Ketika manusia hidup cuma mencari uang, sampai kapankah dunia dikejar? Tak kan habis! sedang kita lupa bahwa usia semakin menua.

Dunia ini tak kekal dan hanya sementara. Sebagai muslim, hendaknya kita mengenali hakikat hidup sebelum dan setelahnya.

Sebelum di dunia, siapakah yang menciptakan kita? Tentu Allah yang telah menciptakan kita dari air mani yang hina, menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh, dan dibentuk fisik kita. Sembilan bulan di rahim, kemudian kita lahir ke alam dunia.

Saat hidup di dunia? Untuk apa? Tentu
hanya untuk beribadah kepada Allah. sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Setelah fase kehidupan kita akan kemana? Kembali kepada Allah. Semua makhluk setelah kehidupan dunia, kembalinya ke Allah.

Akan ada hari di hisab seluruh amal kita di dunia, sebelum nanti nya kita di masuk kan ke dalam syurga atau neraka.

Islam memiliki standard kebahagiaan secara soesifik. Standar seluruh perbuatan kita termasuk kebahagiaan harus sesuai dengan islam, yakni menggapai ridho Allah dengan menjadi insan bertaqwa, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNYA.

Dengan cara inilah insya Allah kita selalu bahagia dalam segala kondisi baik dalam segi finansial, suka duka dan musibah sekalipun. Karena ketika Allah ridho dalam segala aktivitas kita, maka Allah tidak akan membiarkan kita – hamba Nya sengsara berlarut larut. Sebab Allah Swt berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ ….

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)

Oleh karena itu, saat masalah menghampiri, bersegeralah mencari solusi. Mendekatkan diri kepada sang Pencipta, merenung, ber muhasabah serta berpikir ulang tentang hakikat dan tujuan hidup di dunia. Maka, bunuh diri bukan solusi. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Penulis adalah siswi SMIT di Probolinggo.

Comment

Rekomendasi Berita