by

Ermawati*: Peran Ibu Pembangun Bangsa

-Opini-179 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Wanita yang tidak dapat menjalankan perannya sebagai pendidik utama dan pendamping hidup yang baik, berarti ia juga telah gagal menjalankan perannya sebaga tiang negara bahkan sebaliknya, secara tidak langsung ia telah meruntuhkan negara.

Ketika wanita gagal menjalankan peran sebagai pendidik utama maka yang dihasilkan bukanlah generasi harapan bangsa tetapi generasi “preman” yang suka tawuran, narkoba dan pergaulan bebas.

Apa jadinya masa depan bangsa ini jika tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada generasi semacam itu?

Begitu juga, ketika wanita gagal menjalankan perannya sebagai pendamping hidup yang baik bagi suaminya, maka yang muncul adalah suami-suami yang bermental “tikus”.

Maraknya para pejabat sebuah negeri yang korupsi, bisa jadi disebabkan oleh wanita (istri,red) yang tidak dapat menjalankan perannya sebagai pendamping hidup yang baik.

Ketika tiang-tiang negara ini bobrok, akan hancurlah negara ini.

Islam menempatkan posisi wanita yang sangat strategis – sebagai tiang negara. Jika baik wanitanya, maka akan jayalah negara tersebut. Akan tetapi, jika jelek sikap dan perilaku wanitanya, maka akan runtuhlah negara itu.

Karena itu, jika ingin memperbaiki bangsa ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki kaum prianya, tapi juga harus memperbaiki pula kaum wanitanya. Hingga akhirnya, dengan wanita-wanita yang baik, yang memahami tugas serta kewajibannya, memahami hakikat dirinya. Insya Allah, akan tercipta sebuah peradaban yang baik bagi dunia ke depan.

Era globalisai berdampak pada aktivitas wanita muslimah dan ini terlihat dari semakin banyak wanita yang memiliki peran ganda sebagai seorang ibu rumah tangga yang merupakan tugas utama dan kodrat sebagai seorang wanita, sekaligus menjadi wanita karir yang berpartisipasi di ruang publik dengan alasan membantu perekonomian keluarga dan mengamalkan ilmu yang diperoleh ketika berada di bangku kuliah.

Selama seluruh aturan-aturan lain dipenuhi (tidak meninggalkan kewajiban di rumah, menutup aurat dan berpakaian lengkap, tidak bertabbaruj/sengaja mengumbar kecantikan, mendapatkan izin dari orang tua atau suami, menjaga diri dari fitnah, serta dalam rangka aktivitas yang wajib, sunnah atau mubah), para muslimah pun bisa beraktivitas di luar rumah.

Meski demikian, aktivitas ini harus dikembalikan lagi kepada hukum yang terkait, misalnya, bagi wanita bekerja itu mubah, syiar Islam itu wajib, menuntut ilmu Islam itu fardhu ‘ain, menuntut ilmu untuk kemaslahatan ummat selainnya adalah fardhu kifayah, mengunjungi saudara itu sunnah, jalan-jalan itu mubah, dan lain sebagainya.

Dengan keimanan dan ketaqwaan yang dimilikinya, seorang muslimah akan melakukan prioritas aktivitas dalam beramal semata karena ridha Allah.
Islam, sebagai sebuah aturan yang sempurna dari Dzat Mahasempurna dan Mahamengetahui fitrah penciptaan manusia, telah memberikan sebuah konsep kehidupan yang memuliakan dan mendudukkan peran wanita.

Menghadapi klaim-klaim Barat,  kaum Hawa abad ini harus sungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat Allah dan mengejar ilmu yang bermanfaat, mengajarkannya ke tengah ummat dan juga memberikan contoh yang nyata woman empowering dalam perspektif Islam.

Lalu bagaimana dengan zaman ini? Pada abad ini, di tengah-tengah keterpurukan ummat, tugas para kaum hawa adalah ikut serta mengkritisi kesalahan sistem kehidupan yang ada, menganalisa dan membangun rancangan sistem kehidupan untuk peradaban Islam kelak.

Dalam koridor yang telah diberikan syara’ kepada wanita dalam ranah publik dan dengan menjadikan ridha Allah sebagai motivasi tertinggi, sebuah kewajiban bagi wanita saat ini untuk mengoptimalkan peran membangun sejarah peradaban manusia di baris terdepan dalam melanjutkan kehidupan Islam. wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

*Ibu Rumah Tangga, tinggal di Probolinggo

Comment

Rekomendasi Berita