by

Fathimah Bilqis, S.Pd: Barang Mewah Naluri Keibuan

-Opini-227 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seorang ibu membunuh anaknya sudah bukan berita yang asing lagi di jagat raya ini. Banyaknya kasus penganiyayaan seorang ibu terhadap anaknya, muncul dengan berbagai motif. Motif ekonomi serta aspek psikologis menjadi pemicu terjadinya penganiyayan terhadap anak.

Ramai dibincangkan, seorang Ibu berinisial NP (21) menyiksa anaknya ZNL (2,5) dengan cara memberikan gelonggongan air. Diduga motif sang Ibu karena aspek psikologis. Pasalnya sang suami mengancam akan menceraikan sang istri, apabila anaknya kurus. Sehingga Ibu muda tersebut mengambil jalan pintas dengan menggemukan anaknya dengan pemberian minum terus menerus.

Dengan dalih dia tidak mampu menggemukan anaknya dengan kondisi ekonomi keluarganya yang tidak cukup gizi. [islampos.com/ 25-10-2019]

Fenomena baby blues maupun depresi postpastrum (pasca melahirkan) mewarnai Ibu-ibu muda generasi Milenial.

Kecanggihan teknologi serta kemajuan dunia parenting tidak berbanding lurus dengan kewarasan seorang ibu dalam mengurusi buah hati. Padahal dengan kecanggihan teknologi, seharusnya memudahkan seorang ibu dalam mencari tahu banyak hal tentang tumbuh kembang sang buah hati.

Begitu pula dengan kemajuan dunia parenting dewasa ini, seharusnya menjadikan kewarasan ibu lebih terjaga. Namun, ternyata hal tersebut seolah tidak berbanding lurus dengan semakin banyaknya kasus seorang ibu yang menyiksa anaknya lantaran aspek psikologis.

Sekitar 50-80% Ibu mengalami perubahan emosi dalam 2-3 hari pasca melahirkan. Hal tersebut dikaitkan dengan gangguan keseimbangan hormon yang terjadi pasca melahirkan. Ketidakseimbangan hormon tersebut menjadi pemicu lahirnya berbagai penyakit psikologis, seperti baby blues maupun depresi postpastrum.

Barang Mewah Naluri Keibuan

Seorang ibu sangat rentan mengalami baby blues ataupun depresi postpastrum apabila lingkungan terkecil (keluarga, khususnya suami) tidak memberikan support system. Menyusui bukan hal yang mudah pada awalnya. Lecetnya puting, belum lagi sakitnya pasca melahirkan turut menjadi sumbangsih akan kondisi sang Ibu.

Apabila suami tidak memberikan dukungan, sang isteri merasakan kesakitan seorang diri, diperparah dengan lemahnya keimanan baby blues ataupun depresi postpastrum tidak bisa dihindarkan.

Belum lagi komentar lingkungan akan kondisi Ibu dan anaknya. Komentar akan berat badan dan tinggi badan buah hati seolah menjadi komentar wajib para tetangga (lingkungan). Banyak celah lainnya yang bisa menjadikan Ibu mengalami baby blues ataupun depresi postpastrum. Seolah naluri keibuan menjadi barang mewah yang sulit diraih.

Negara Berpengaruh pada Psikologi Ibu

Terlebih di Era Kapitalisme, Negara tidak menjamin kesejahteraan pada setiap warganya, termasuk kalangan perempuan. Termasuk apa yang terjadi pada kasus penganiyayan anak di atas lantaran ekonomi keluarga yang tidak memadai.

Jaminan Negara atas kesejahteraan baik ekonomi, pendidikan maupun keamanan tidak mampu diberikan Negara dengan basis Kapitalisme. Sebab Negara hanya berperan sebagai regulator saja, bukan sebagai penanggung jawab warganya.

Apabila Negara menjamin kesejahteraan warganya, maka bukan tidak mungkin akan menurunkan bahkan meniadakan kasus-kasus seorang Ibu yang mengalami baby blues maupun depresi postpastrum. Bagaimana tidak, seorang suami akan dituntut atau bahkan diberikan edukasi oleh Negara untuk mendampingi istri selama proses melahirkan. Bukan diperbudak oleh ekonomi, sehingga lupa akan tugasnya sebagai kepala keluarga.

Lingkungan pun akan kondusif dengan edukasi Negara kepada warganya. Mereka akan hidup saling mendukung menjadi support system bagi tetangganya. Pikiran akan kurangnya gizi pada anak bisa dihilangkan, sebab Negara berperan penting dalam kesejahteraan seluruh warganya, termasuk anak yang baru lahir.

Hal tersebut bukan hal mustahil bagi Negara untuk menjadi support system bagi warganya. Sebagaimana Negara (pemimpin) dalam pandangan Islam yang menjadi penanggung jawab warganya.

Terkisahkan Umar bin al Khaththab pada masa kepemimpinannya memberikan tunjangan kepada setiap anak yang lahir. Tunjangan tersebut diberikan Umar kepada orang tuanya untuk membantu mengurangi beban mereka dalam mengurusi anaknya. Tunjangan diberikan setelah menyapih anaknya.

Seorang Ibu diketahui mempercepat proses penyapihan anaknya yang belum genap dua tahun agar bisa segera mendapatkan tunjangan tersebut. Setelah mengetahui hal demikian, akhirnya Umar bin al Khaththab mengubah kebijakannya, bahwa tunjangan anak akan diberikan di awal masa kelahirannya. Bahkan seorang anak kecil pun menjadi perhatian seorang pemimpin. Tentu pemimpin yang bertanggung jawab ini tidak akan mampu lahir di alam kapitalisme sekulerisme. Pemimpin berbasis bisnis yang hanya mementingkan duniawi.

Pemimpin shalih yang bertanggung jawab terhadap seluruh warganya hanya akan lahir dengan sistem yang mendukung, sistem Islam. Sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rosulullah saw., kemudian dilanjutkan oleh para shahabat dan pemimpin islam setelahnya. Allahu ‘alam bi ash showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita