by

Irmayanti, S.Pd: Menakar Implementasi Rektor Asing

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (menristekdikti) Mohammad Nasir meresmikan perguruan tinggi (PT) swasta baru yang dipimpin rektor asing di Indonesia. Kampus tersebut, yakni Indonesia Cyber Education (ICE) Institute.

Ia berkata dalam rangkaian acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 di Provinsi Bali, bahwa pertama kali rektor asing yang masuk di Indonesia yaitu siber Indonesia yang diselenggarakan Universitas Nasional Jakarta (Antara, 27/08/ 2019).

Kemenristekdikti merencanakan pada tahun 2020 sudah ada perguruan tinggi negeri (PTN) yang dipimpin rektor terbaik luar negeri dan tahun 2024 jumlahnya akan ditambah menjadi lima PTN.

Adapun target rekrutmen rektor luar negeri ini guna mendongkrak mutu universitas di Indonesia. Rektor asing diharapkan bisa meningkatkan ranking perguruan tinggi Indonesia masuk dalam jajaran 100 universitas terbaik dunia.

Menanggapi pernyataan kemenristekdikti, para guru besar dari sejumlah PTN angkat bicara. Guru besar Hukum Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menyatakan bahwa rektor hanya satu komponen dari seluruh proses pengajaran yang ada di universitas. Sementara komponen lain seperti dosen dan mahasiswa juga berperan mendorong peningkatan rangking dunia (CNN Indonesia, 01/08/2019).

Hal senada juga dikatakan guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Herry Suhardiyanto yang menilai bahwa rencana kebijakan mendatangkan rektor asing di dalam negeri sangat tidak tepat. Menurut Herry, yang lebih penting adalah membangun basis untuk menjadi kampus kelas dunia yang memang betul-betul dicapai melalui tahapan yang runut.

Wakil ketua komisi X DPR, Sultan Adil Hendra juga berpandangan bahwa wacana mendatangkan rektor asing untuk memimpin PTN sebagai ironi kemandirian bangsa. Ia tidak setuju dengan impor rektor asing. Menurutnya meskipun negara punya kelemahan, tentu punya kekuatan untuk memperbaiki. Bukan malah mengimpor, apalagi di lembaga akademisi (Dpr.go.id, 09/08/2019).

Perguruan Tinggi dalam Jerat Globalisasi

Perguruan tinggi di Indonesia memang sedang berlomba-lomba untuk menjadi perguruan tinggi kelas dunia/ _World Class University (WCU). WCU dimunculkan pertama kali oleh UNESCO di Paris tahun 1998. Argumentasi yang melatarbelakanginya adalah urgensitas peran perguruan tinggi mempersiapkan daya saing bangsa memasuki era persaingan global.

UNESCO kemudian membuat indikator peringkat untuk mengarahkan Perguruan Tinggi pada standar yang satu. Wacana globalisasi dalam pendidikan menjadikan negara Barat bisa mengontrol dunia pendidikan sesuai kepentingan mereka. Universitas di Indonesia hanya sebagai follower bukan sebagai leader sehingga sulit memproses generasi bangsa ini menjadi generasi cerdas dan mandiri.

Universitas lebih memenuhi kebutuhan pencapaian indikator daripada fokus terhadap problem solving dari permasalahan yang dihadapi rakyat.
Keberadaan rektor asing di Indonesia semakin membuka jalan bagi negara Barat untuk menguasai pendidikan kita.

Pasalnya mereka lebih mudah mengontrol dan memastikan jalannya pendidikan, termasuk riset dan kurikulum mengikuti arahan mereka.

Membangun Pendidikan Tinggi Kelas Dunia

Tinta emas sejarah mencatat, betapa hebatnya Islam mengukir peradaban dunia. Kemajuan di bidang pendidikan menjadikan negara Islam menjadi sumber rujukan bagi literatur dunia. Seribu tahun lalu, universitas terkemuka di dunia ada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Kairo, Damaskus, dan beberapa kota besar Islam lainnya. Negara Islam mencapai puncak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengungguli semua perguruan tinggi yang ada di dunia.

Adapun rahasia keberhasilan sistem pendidikan Islam adalah karena sistem pendidikan Islam dibangun berlandaskan akidah Islam. Tujuan pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa, menguasai sains dan teknologi, serta menguasai tsaqafah Islam. Tujuan ini diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan.

Negara Islam berhasil mewujudkan pendidikan tinggi kelas dunia secara mandiri dan melahirkan para ilmuwan yang tidak hanya pakar di berbagai bidang namun juga bertakwa kepada Allah SWT. Di antaranya Ibnu Sina yang merupakan pakar kedokteran, filsafat, astronomi, dan matematika. Karyanya “Al Qonun fi Al Thibb” menjadi buku rujukan utama bidang kedokteran selama 700 tahun.

Masa kegemilangan ilmu pengetahuan dan teknologi dicapai pada saat negara menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupan (kaffah). Di bidang politik negara memiliki visi yang kuat, tangguh, dan independen.

Sistem pendidikan Islam juga menjadi alternatif segar dan solutif  terhadap permasalahan perguruan tinggi hari ini. Dengan implementasi sistem pendidikan Islam, menjadikan perguruan tinggi Indonesia bukan saja menempati 100 ranking dunia tetapi peringkat satu dunia. Wallahu a’lam bishshowab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita