by

Mulyaningsih, S.Pt*: Mengembalikan Peran Pemuda

-Opini-41 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Waktu begitu cepat berlalu, tanpa disadari kita telah menuju penghujung bulan Oktober.

Ada satu peristiwa yang mungkin masih lekat diingatan kita. Ya, peristiwa sumpah pemuda, 28 Oktober 1928.

Kala itu para pemuda berikrar dengan tujuan yang sama. Bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

Sungguh, begitu heroiknya peranan pemuda kala itu, karena mereka ingin terlepas dari belenggu penjajahan yang menjerat bangsa ini selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Segala usaha akhirnya mereka lakukan demi mewujudkan sebuah visi dan misi bersama, yaitu lepas dari penjajahan negara lain.

Terlepas dari peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya sumpah pemuda tadi, kita harus mengambil ibroh dari kejadian tersebut. Peran pemuda amat dibutuhkan dalam sebuah negara, terlebih lagi dalam sebuah perubahan menuju yang lebih baik. Kita patut mengapresiasi sepak terjang para pemuda yang kini mulai tampak ke permukaan dengan menyuarakan aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Namun, ternyata pemerintah masih memandang sebelah mata. Persoalan yang diangkat justru dianggap sebagai angin lalu.

Jika kita berkaca di tahun sebelumnya, pemuda dalam hal ini mahasiswa kerap kali melakukan aksi menyampaikan pendapat kepada pemerintah. Namun, memang belum membuahkan hasil yang nyata. Ibarat kata, pemasalahan yang muncul seperti tambal sulam, brlum dapat terselesaikan hingga ke akarnya.

Pemuda Sebagai Agent of Change

Semangat, penuh daya dan enerjik itulah kata yang biasa disematkan pada diri seorang pemuda. Ditambah lagi dengan predikat yang selalu menempel padanya, “Agent of Change”.

Begitulah adanya mahasiswa. Dengan modal itu semua, kerap kali digunakan untuk membawa suatu negeri ke arah perubahan. Tentunya ke arah yang lebih baik. Namun, terkadang usaha yang mereka lakukan itu seolah seperti aktivitas rutinitas yang belum mampu membawa pada suatu keadaan lain, keadaan dan kondisi yang diinginkan. Artinya, seolah mengulang kejadian demi kejadian tanpa ada hasil yang manis dan perubahan itu sendiri.

Aksi turun ke jalan dijadikan salah satu cara agar mampu menyampaikan semua aspirasi mereka. Tetapi, kondisi yang terjadi sekarang adalah penyampaian aspirasi tersebut masih berkutat pada pembahasan masalah cabang. Sehingga persoalan utama yang menjadi hambatan besar negeri ini untuk maju menjadi terhalang.

Mahasiswa dituntut untuk lebih kritis terhadap semua hal yang terjadi. Selain itu, memberikan solusi yang tepat adalah menjadi tanggung jawab mereka. Tentulah harus ada pondasi yang kuat dan kokoh dari para mahasiswa tersebut agar semua yang mereka gaungkan menjadi solusi nyata bagi negeri.

Sebagai seorang muslim, wajib bagi kita berpegang teguh pada tali agama. Itulah kunci kesuksesan yang hakiki. Dengan begitu maka akan terpancarlah rona indah darinya. Karena sejatinya Islam mempunyai gambaran kompleks terkait dengan seluruh persoalan hidup manusia. Artinya, Islam punya solusi jitu untuk mengatasi semua persoalan tersebut.

Pandangan Islam

Islam sebagai agama dan pandangan hidup (the way of life) manusia, tidak hanya mengatur seputar ibadah saja, namun semua aspek kehidupan masyarakat. Islam menjadikan aqidah sebagai pondasi utama sehingga keimanan serta ketaqwaan individu tidak diragukan lagi.

Jika para mahasiswa mau mengambil ini debagai landasan berpijak niscaya mereka akan menjadi problem solver.

Contoh yang nyata telah tergambar dalam bingkai sejarah yang ditorehkan oleh para sahabat Rasulullah Saw. Lihatlah pemuda Thariq Ibn Ziyad, Ja,far Ibn Abi Thalib, Muhammad Al-Fatih dan pemuda lain di zamannya.

Sudah semestinya para pemuda meniru dan dan mengamalkan apa yang membuat akhirnya para pemuda di zaman Rasul mampu berjaya dan Islam akhirnya mampu tersebar sampai ke dua per tiga negara di dunia ini.

Sungguh prestasi mereka itu tidak bisa dikatakan sebagai karya dengan kategori biasa-biasa saja, namun luar biasa. Perubahan yang dilakukan tidak sebatas pada teritorial negara tetapi dunia.

Ketika Rasulullah Saw berdakwah, generasi pertama yang mau menerimanya mayoritas dari kalangan pemuda. Mereka selalu ada di garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Islam. Pasukan perang yang ada juga dipenuhi oleh para pemuda. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqash, Usamah bin Zaid dan masih banyak lagi.

Begitu pula dengan utusan Rasulullah untuk berdakwah adalah pemuda. Mushab bin Umair, beliau diminta oleh Rasulullah untuk berdakwah ke Madinah. Ia menjadi duta Islam yang pertama.

Mushab Rela meninggalkan segala kebanggaan dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki. Berkat kiprah dan kerja keras Mushab, dalam tempo kurang dari setahun hampir seluruh penduduk Madinah memeluk Islam.

Dari gambaran dan sepak terjang pemuda di atas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa posisi seperti itulah yang semestinya harus ada pada para pemuda Muslim kita.

Mereka adalah para pengemban dakwah Islam yang terpercaya, duta-duta propaganda syariah Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh penduduk bumi jika Islam diterapkan secara kâffah dalam bingkai sebuah negara.

Posisi dan peran pemuda inilah yang harus kita kembalikan agar sesuai dengan tuntutan Islam. Oleh karena itu, harus ada sebuah gerakan penyadaran kepada para pemuda Muslim yang dilakukan oleh semua pihak, khususnya lembaga dan organisasi yang berpijak pada mabda (ide dan metode) Islam. Sejatinya peran penting pemuda akan teroptimalisasi dalam masyarakat dengan cara mendorong semangat mereka kembali berdakwah di bawah bendera islam kaffah.

Negara akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemberdayaan pemuda. Sistem pendidikan, pergaulan, sosial, ekonomi dan politik yang akan diterapkan negara mendukung pemberdayaan potensial para pemuda sebagai penjaga dan pelindung Islam terpercaya.

Akal dan hati mereka akan senantiasa ditambatkan pada Islam dan kejayaan umat. Wallahu Alam.[ ]

*Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga, Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK Kalsel)

Comment

Rekomendasi Berita