by

Resensi Buku: Si Anak Badai Mutiara Nusantara

-Sastra-82 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Inilah kisah si anak nusantara, yang menetap di atas air, dengan kayu ulin sebagai penopang, deburan ombak dan deru kapal menjadi sahabat seluruh penduduk. Kampung Manowa namanya, menghimpun penduduk yang amat menyayanginya, bersamaan dengan kelebihan dan kekurangan Kampung Manowa, tersimpan kisah yang menggelitik negri ini.
Adalah Zul, pegawai kecamatan dan Fatma sang penjahit, potret keluarga bahagia dengan tiga anak, Za, Fat dan Thiyah.
Ada juga Sakai bin Manaf, yang lebih di kenal dengan sebutan kapten, adalah seorang yang di tuakan/sesepuh di Kampung Manowa, memiliki cucu perempuan yang cerdas matematika, Rahma, yang kemudian di gosipkan berjodoh dengan Za, menimbulkan senyum tersipu bahkan gelak tawa bagi pembaca di tengah panasnya konflik cerita.

Juga ada guru Rudi dan Bu Rum yang telaten menerangi kampung manowa dengan ilmu.

Si anak badai sejatinya menceritakan tentang empat sahabat yang berjibaku dengan problematika sosial. Mereka adalah Za dan ketiga sahabatnya, Ode, Malim dan Awang. Mereka memang remaja biasa, yang terkadang mengobrol saat mengaji, mengeluh ketika kedua orang tua meminta tolong, mengusili satu sama lain dan saling menonjolkan diri. Dan novel ini menghilangkan kebiasaan monoton itu, betapa luar biasanya persahabatan mereka. Tentang mereka yang membujuk salah satu temannya, Malim, yang memutuskan berhenti sekolah lantaran berpikiran bisa kaya raya tanpa sekolah, harus terjadi perseteruan yang membuat pembaca menahan nafas, dan akhirnya penyelesaian atas konflik tersebut membuat pembaca berlinang air mata haru. “Seorang kawan tidak pernah meninggalkan kawannya sendirian”.

Dan juga kisah heroik mereka di atas kapal, dengan badai menyelimuti tanpa celah, ketika Ode terlempar keluar di atas geladak, di situlah “Seorang kawan tidak pernah meninggalkan kawannya sendirian”. Za langsung menarik lengan Ode, pembaca tentu akan berpikiran mereka tertelan ombak, dan novel ini berakhir dengan pilu, tapi kembali tuntas dengan indah, dengan aksi yang membuat pembaca bukan hanya menahan nafas, tapi juga menahan seluruh sendi.
Dan sampai pada problematika yang umumnya mereka tidak berperan banyak, ialah sesuatu yang mengusik hati seluruh warga Kampung Manowa, proyek pembangunan pelabuhan kapal.

Proyek ini di umumkan di depan warga dengan acara khusus, tak lupa janji manis mengalir, namun ketika di kejar secara detail, janji itu masih mentah untuk di realisasikan membuat resah warga yang merasa terancam keberlangsungan hidup mereka.

Pembangunan pelabuhan itu sudah bulat bagi mereka, bahkan mempercepat pembangunan walaupun warga menolak. Dan warga hanya bisa memandang tak berdaya.
Dan terkuaklah bahwa proyek pembangunan pelabuhan kapal tidak lulus kajian untuk pembangunan, karena kontur sungai tidak mendukung, pembangunan pelabuhan juga membuat pendangkalan muara, kepadatan tanah tidak mendukung, sehingga konstruksi besar akan amblas, kalaupun menguruk area itu, tentu akan menghabiskan uang banyak, sedangkan skala ekonomis pembangunan tidak akan tercapai, karena belum saatnya membutuhkan pelabuhan besar.

Namun mereka para pencari peluang korupsi tak mengindahkan itu. Menyingkirkan apa yang menghalanginya dan menumbangkan yang menentangnya. Yang mereka mau, tujuan mereka tercapai, walau harus bertindak licik.

Wong cilik yang sejak lahir menetap di Kampung Manowa itu, hanya bisa menghela nafas, tak mampu bergerak walau harus menyaksikan pedihnya kerusakan lingkungan, juga tak punya pilihan saat sang kapten, Sakai bin Manaf, terpaksa di tangkap karena sebuah kesalahan yang mengada-ada, dan tetap bergeming ketika alat berat meratakan sekolah mereka yang di iringi dengan jeritan anak-anak.

Kampung Manowa melahirkan anak nusantara yang gagah berani, cerdas dan tak kenal putus asa, dengan itu mereka mampu menumpas benalu negri hingga ke akarnya, kisah heroik mereka yang membuat pembaca ikut mengurut dahi, berharap membantu permasalahan di Kampung Manowa, berakhir dengan amat indah. Sebuah solusi yang mungkin di kesampingkan pembaca, semuanya tak terduga dan begitu apik.
Keren, adalah satu kata yang mewakili seluruh Indra dan perasaan ini ketika membaca novel “Si Anak Badai”.

Betapa darinya seorang anak bisa belajar bagaimana menjadi anak yang berbakti, disiplin dan bertanggung jawab.

Juga bisa berkaca bagaimana memposisikan diri menjadi sahabat terbaik yang tak pernah meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apapun.

Novel ini juga bisa menjadi sekuel parenting untuk orang tua, juga referensi ringan bagi para intelektual, politisi ataupun aktivis sosial.[]

Judul buku: Si Anak Badai
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika penerbit
Ukuran buku: 13.5×20.5 cm
Jumlah halaman: 421
ISBN: 978-602-5734-54-0-1
Harga buku: Rp. 56.000
Tahun terbit: 2018

Peresensi: Musofah,
Tempat tanggal lahir: Serang, 21 Mei 2000.

Alamat: Kp. Gudang batu, Kec. Waringinkurung, Kab. Serang Prov. Banten
Saat ini aktif di organisasi akademi menulis kreatif (AMK)

Comment

Rekomendasi Berita