by

Sherly Agustina, M.Ag*: Meneladani Syeikhul Islam Ibnu Hajar Al Asqolani

-Opini-109 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di tengah zaman serba fitnah. Zaman gelap karena belum diterapkan syariah, banyak hal miris terjadi yang membuat gelisah. Terutama out put pendidikan generasi muda yang meneladani para ulama hampir punah. Padahal para ulama terdahulu banyak sekali memberikan teladan yang luar biasa menggugah. Di antaranya, Syeikhul Islam Ibnu Hajar Al Asqolani.

Warisan beliau sangat terkenal dalam bidang keilmuan dan kepenulisan Islam terutama dalam ilmu hadis, di antara karya beliau adalah Fathul Barii Syarh Shahih Bukhari, Buluhgul Maraam min Tahqiqil Ahkam. Teladan apa yang bisa kita ambil dari beliau?

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Mahmud bin Ahmad. Ia diberi gelar Syihabud din dan Syaikhul Islam, ia juga biasa dipanggil Abu Fadhl dan Abul ‘Abbas. Ibnu Hajar lahir pada 22 Sya’ban 773 H di tepi sungai Nil, Mesir. Nama Ibnu Hajar dinisbatkan pada suatu kabilah bernama Kinan yang berasal dari ‘Asqalan, sebuah kota di pesisir Syam, Palestina.

Ibnu Hajar berasal dari keluarga yang mencintai ilmu. Ayahnya, Nuruddin merupakan seorang ahli fikih, ilmu bahasa Arab dan sastra. Nuruddin juga banyak membuat sya’ir, salah satu syairnya terkumpul dalam kitabnya “Diwan al-Haram”.

Ayahnya wafat pada bulan Rajab 777 H. Sedangkan ibunya telah wafat ketika Ibnu Hajar masih balita. Ibnu Hajar melewati masa kecilnya sebagai yatim-piatu dan tidak mengenyam pendidikan hingga berumur lima tahun. Namun, Imam Ibnu Hajar diberkahi kecepatan dalam menghafal sejak kecil. Ia dapat menghafal setengah hizb Qur’an (seperempat juz) dalam satu hari. Diriwayatkan bahwasanya beliau pernah menghafal surat Maryam dalam satu hari.

Seorang ayah harus berupaya memiliki ilmu terutama ilmu agama agar bisa mendidik anaknya secara benar sesuai dengan syariahNya.

Ini pelajaran bagi para orang tua, terutama ayah.

Walau beliau yatim piatu tidak menjadi alasan kendala dalam belajar ilmu agama. Kebetulan Allah anugerahi kecepatan dalam menserap ilmu. Mungkin beliau adalah bagian dari hamba pilihanNya. Semoga kita bisa meneladaninya dalam menghafal Al Quran.

Di zaman saat ini, banyak yatim piatu yang mungkin punya kelebihan, namun tidak ada orang yang mendidik dan mengurusnya. Atau ada pula yang terbawa oleh arus millenial saat ini. Tidak terlalu memperhatikan pendidikan. Tidak terfikir untuk menghafal Al Qur’an.

Imam Ibnu Hajar belajar tajwid dan menyelesaikan hafalan Qur’an pada umur sembilan tahun bersama Syihab Ahmad Al-khayuthi. Lalu beliau pindah ke Mekah pada umur 12 tahun dan belajar di sana. Ibnu Hajar belajar hadis untuk pertama kali di Mekah kepada Qadhi Al-hafizh Jamaluddin Ahmad Al-Makki dengan mempelajari kitab ‘Umdatul Ahkam, lalu kembali ke Mesir.

Selain hafal Al Qur’an ternyata beliau belajar ilmu agama yang lain. Bisa kita lihat, bahwa seorang anak membutuhkan fasilitas untuk mendapat ilmu. Misal guru yang ahli di bidangnya. Entah itu tajwid, bahasa Arab, sastra, dan lain sebagainya.

Maka tugas kita sebagai orang tua harus belajar memfasilitasi anak dengan baik. Terutama dalam ilmu agama.

Terutama jika orang tua belum memiliki kualitas ilmu-ilmu tersebut. Mendorong anak untuk mencintai ilmu dan ta’dzim terhadap gurunya yang semata mengharap ridho Allah. Menunaikan kewajiban menuntut ilmu. Dan semoga mendapat keberkahan dalam proses mencari ilmu.

Pada umur 17 tahun, Ibnu Hajar menuntut ilmu kepada Syaikh Syamsuddin Muhammad bin ‘Ali al-Misri. Beliau mempelajari Ushul fiqh, fikih, bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu lainnya. Setelah beberapa tahun, Ibnu Hajar belajar sejarah. Ilmu inilah yang kemudian membuatnya dekat dengan Ilmu Ahwalu Ar-Ruwat.

Julukan syaikhul semakin gemilang seiring bertambahnya umur. Ia mampu mengantongi banyak ijazah atas kitab-kitab hadis seperti Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Sunan Ad-Darimi dan Jami’ Shahih karya Imam Bukhori. Segala hal yang diraih oleh sang Imam tak lepas dari rahmat Allah Swt.

Kesungguhan dan ketekunan sang Imam dalam menuntut ilmu membuahkan hasil gemilang yang masih dapat kita rasakan hingga sekarang.

Di antara kebiasaan Ibnu Hajar dalam menuntut ilmu dan keindahan akhlaknya adalah: cepat dalam membaca hal-hal yang baik, cepat dalam menulis kebaikan, berteman dengan orang yang baik sesama penuntut ilmu, tidak ragu-ragu terhadap para pembesar, menginvestasikan seluruh waktu untuk belajar dan meneliti, rendah hati dalam menuntut ilmu, dan mampu menulis sambil mendengar.

Tidak hanya itu, ia juga selalu bersikap ramah terhadap orang asing dan penuntut ilmu, memelihara buku-buku dengan baik, sangat memuliakan guru, rajin shalat tahajud dan berpuasa, rajin membaca Al-Quran dan mencintai orang-orang shaleh, serta selalu mengamalkan apa yang telah dipelajari.

Ibnu Hajar belajar dari banyak guru, jumlah gurunya bahkan melebihi 200 orang.

Para Imam dan Syaikh di zamannya mengakui kecerdasan dan kekuatan hafalan Ibnu Hajar. Salah satunya adalah apa yang disampaikan oleh Imam ibnu Al-Haim, “Ibnu Hajar adalah orang dengan kecerdasan mutlak, tidak ada yang melampaui kecerdasannya pada masa itu.

Maasyaa Allah, semoga kita semua bisa meneladani beliau. Semoga Allah merahmati beliau.

Semoga bisa lahir generasi saat ini seperti beliau, atau paling tidak yang bisa mendekati seperti beliau.

PR kita semua, sebagai anak dan orang tua. Juga habbits yang dimunculkan. Serta tanggung jawab negara untuk menjamin pendidikan setiap warga negaranya. Mewujudkan generasi cinta ilmu dicintai pemilik ilmu.

Generasi sederhana dalam urusan dunia, tapi loyal dalam urusan akhirat. Generasi ta’dzim pada guru, rendah hati terhadap sesama, kasih sayang terhadap sesama muslim tapi keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.

Bukan generasi penjilat pada orang-orang kafir, penjahat terhadap sesama muslim.

Bukan generasi tukang tipu dan fitnah. Bukan generasi yang membenci ajaran Islam dan para ulama. Bukan generasi yang menghalangi para pejuang Islam. Bukan generasi poya-poya urusan dunia. Bukan generasi followers dan hopless. Bukan generasi yang tidak punya adab terhadap guru dan yang lebih tua. Bukan generasi abal-abal.

Melainkan generasi masa depan Islam gemilang. Dirindu para ulama, sahabat, Rasulullah, Allah dan para penghuni syurga. Generasi penakluk Roma, insya Allah. Aamiin. Allahu Akbar.[]

*Pernah mengajar di Untirta Cilegon, S1 dan S2 PAI UIN SGD Bandung 2006 dan 2009

Comment

Rekomendasi Berita