by

Ainul Mizan,S.Pd: Politik Ruwaibidhoh di Negeri Atas Angin (Sebuah Cerpen Politik)

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari itu adalah hari yang menegangkan. Pasalnya Raja akan memaklumkan kepada rakyatnya akan nama Maha patihnya yang baru. Kasak – kusuk rakyat sudah terdengar hingga sejak 3 hari yang lalu. Rakyat udah trauma kalau Maha Patih yang akan dilantik itu ngomong radikalisme lagi seperti Maha Patih yang lama.

Wajarlah rakyat takut demikian, karena pas maraknya aksi – aksi bom panci, bom kardus, dan semacamnya yang selanjutnya diklaim sebagai aksi teror yang terpapar radikalisme. Karena bagi rakyat sendiri, yang berbahaya itu adalah teror kenaikan tarif dasar listrik, teror pencabutan subsidi BBM, teror kenaikan iuran BPJS, dan semacamnya. Udah penghasilan pas – pasan, biaya anak sekolah, akhirnya rakyat hanya gigit jari melihat kelakuan para punggawa yang bingung bagi – bagi kue di pesta istana yang glamour.

“Maha Patih baru yang diangkat silahkan maju ke podium”, perintah Raja.
“Baik Paduka…” segera Maha Patih baru mendekat ke podium sang Raja.
“Saya Maha Patih baru akan melakukan terobosan baru dalam menangani radikalisme”, sumpah Maha Patih baru secara live disiarkan ke seantero alam Negeri Atas Angin.

Sementara itu di sebuah warteg di ujung negeri, lagi bercengkerama dengan gayeng beberapa orang ditemani secangkir kopi.

“Wah saya nggak puas dengan Maha Patih baru”, ujar Bang Kholil.
“Emang kok malah perioritasnya radikalisme. Yang penting rakyat itu makmur”, timpal Mang Sahid yang rambutnya sudah memutih separuh.
“Seharusnya Mamang yang jadi Maha Patih…! ujar Bang Kholil semangat.
“Karena sejak awal kita berada di garis depan guna menggebuk radikalisme, maka logikanya dari kita itu jabatan Maha Patih”, sambung Bang Kholil.

Karena perbincangan jadi memanas, Mang Sahid akan berusaha menghadap Raja tentang pengangkatan Maha Patih yang baru saja diumumkan.

Sementara itu, belum genap sepekan, Maha Patih sudah melakukan kontroversi berkepanjangan.
Di sebuah stasiun TV, Angin Kencang TV, Maha Patih diwawancarai tentang programnya selama menjabat.

“Saya itu Maha Patih untuk semua penduduk, semua agama. Saya itu bukan Maha Patih agama Islam”, ujar Maha Patih baru dengan semangatnya.

“Lantas secara teknis yang anda akan lakukan apa?”, tanya Bang Toyib reporter Angin Kencang TV.

“Pertama, saya akan mencerdaskan itu para ustadz agar jangan membodohi rakyat. Masak bencana alam terjadi karena kemaksiatan. Teori sains gak ada yang kayak gitu”, Maha Patih menjelaskan dengan gaya sok parlente.

“Selanjutnya perlu ada pelarangan cadar dan kerudung bagi pegawai istana. Itu identik dengan paham radikal”, Maha Patih baru ini kayaknya masih bau kencur ngurus urusan negeri Atas Angin ini.

Dari pernyataan – pernyataannya, melahirkan banyak gelombang protes hampir di seantero jagat persilatan Negeri Atas Angin.

Dari penasehat dari kumpulan sepuh ulama menyatakan bahwa tugasnya Maha Patih itu bukan radikalisme. tapi kalau ingin begitu, urus juga radikalisme politik juga radikalisme ekonomi. Negeri ini sudah menggadaikan asetnya untuk dapat pinjaman dari Kerajaan seberang.

Rakyat banyak yang geleng – geleng kepala. Banyak yang jatuh sakit. Ya, kepikiran. Rakyat digencet dari berbagai urusan punggawa dan Raja. Akibatnya rumah sakit jadi penuh.

“Kalau begini, rumah sakit bisa kollaps ini”, ujar direktur urusan rumah sakit, Pak Bambang.

“Ya pak. ini yang mengelu belum lagi dari direktur urusan ibu dan anak serta yang lainnya”, jawab staf badan asuransi Negeri Atas Angin.
“Apa perlu diusulkan kenaikan premi iuran asuransi?”, ujar Pak Bambang.
“Boleh, gimana jika naik 200 persen, setuju kan? usul staf badan asuransi.
“Ok bagus”, jawab Pak Bambang.

Sementara di istana berbagai laporan telah masuk di meja Raja. Tatkala Raja mengetahuinya, betapa kagetnya dia. Bertumpuk laporan n surat – surat yang harus ditanda tanganinya.
“Wah kalo kayak gini, agendaku berlibur bersama cucu jadi terganggu, dong”, sang Raja mengernyitkan dahinya.

Akhirnya Raja segera mengambil sebuah pulpen dan dalam sekejap sudah ditandatanganinya semua surat yang menumpuk di mejanya.

“Rasanya penat sekali, aku akan cari angin dulu ah…”, Raja beranjak keluar ruangannya.

Baru beberapa saat berada di depan pagar istana. Para pemburu berita sudah memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

“Raja, sudah tahu kenaikan iuran asuransi nasional terbaru?”, tanya seorang wartawan.
“Tau lah, wong saya yang tanda tangan….’; Raja menepuk dadanya.
“Tapi, apa Raja tau isi dari surat yang anda tanda tangani…?” kejar wartawan yang belum puas dengan jawaban Raja.
“Tidak tahu…tanya aja ke direktur iuran nasional…!”, perintah Raja dengan memasang wajah yang cemas.
“Alamaak….”, ujar semua insan media yang mengerumuninya.

Begitulah kebiasaan sang Raja. Sebenarnya ia tidak tahu apa – apa. ia menyerahkan semua urusan dan seluk beluknya kepada Maha Patihnya dan semua pejabat negeri.

Bahkan Maha Patihnya yang baru pun gaya kepemimpinannya tidak jauh beda dengan Raja. Hanya si Maha Patihnya ini ke pedean, padahal nggak bisa. tapi mengakunya pinter, bahkan tega – teganya mau meluruskan pemahaman si dai kondang Ust Ahmad, lulusan pondok pesantren yang terkenal seantero negeri. he he he…

Pernah suatu ketika, Maha Patih ini didaulat untuk berkhotbah di momen sholat Jumat di Masjid nasional.

Dengan gagahnya, Maha Patih ini naik ke atas mimbar. Lancar sekali dia mengawali dan mengakhiri khutbah jumat hari itu. Ya, itulah khutbahnya yang spektakuler, dan tentunya membuat kehebohan. Setelah mengakhiri Sholat Jumat dengan salam ke kanan dan ke kiri, ia menengok ke jama’ahnya. Maksud hati ingin mengajak jamaahnya untuk berdzikir, ehh… dilihatnya semua jama’ah berdiri merapat. Mereka melakukan sholat Dhuhur dipimpin seorang ustadz dari kampung sebelah.

Melihat hal demikian, Maha Patih bertanya kepada ajudannya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Sang ajudannya segera menjawab: “Tadi saat khutbah, anda lupa membaca sholawat. Itukan rukun khutbah?.

Sang ajudan melanjutkan, “Maka mereka cukup menambal dengan sholat Dhuhur”.

Hebohlah negeri atas angin. Berbagai komentar memenuhi ruang publik dan media sosial. Banyak warganet yang nyinyir ke Maha Patih, di antaranya:

“Lagi bad mood sama Maha patih…”.
“Terlalu sibuk ngurus radikalisme. Sedangkan urusan negara ia telantarkan”.
“Wah…sholat jumatnya tidak sah itu…”.
Masih banyak komentar warganet yang berseliweran yang intinya meminta Maha Patih untuk mawas diri.

Tidak sedikit pula komentar secara offline. Banyak warga negeri tersebut menggeleng – gelengkan kepala. Mereka terheran – heran.

Kabar heboh tersebut sampai juga terdengar oleh sang Raja. Segera dipanggilah Maha Patih ke balairung istana. Sudah menunggu beberapa orang tamu kenegaraan dan tamu undangan dari dalam negeri.

Adapun di luar pagar istana terlihat pengamanan begitu ketat. Seperti keadaan yang memaksa seorang Raja harus mengeluarkan surat sakti penanggulangan huru hara. Pasukan polisi dan TNi berjaga ketat.

Di dalam ruang balairung.
“Mang Sahid, pasti kamu kecewa tidak saya angkat sebagai Maha patih. Resistensi rakyat besar. Kamu kalau saya angkat bisa – bisa aku dianggap membela kedholiman”, titah Raja tanpa membaca teks karena Raja tidak bisa membaca.
“Baik paduka…”; Mang Sahid senang mendengar titah Raja.
“Sedang kamu Maha patih, baru sepekan membuat gaduh. Hebat. Dengan begitu aku punya alasan memecat kamu dari istana….”, titah Raja lagi lagi tanpa membaca teks.
Raja Negeri Atas Angin masih lebih mudeng dibanding Raja Ngaciro dari Negeri Bawah Angin.
“Ya paduka. Berarti tugas hamba udah selesai…”, jawab Maha patih yang udah sukses besar membuat kegaduhan negeri. Kegaduhan ini terdengar sampai negeri Bawah Angin. Bahkan karena kehebatan prestasinya ia ditawari menjadi Menteri Agama di Negeri Bawah Angin.

Di tengah perbincangan dinas di balairung. Tiba tiba masuklah seorang prajurit menghadap.
“Paduka di luar keadaan sudah tidak terkendali. Lebih baik semuanya menyerah daripada hancur”; praburit memberikan laporannya.

Belum sempat sadar dengan keadaan yang terjadi, Raja dan semua yang hadir dikagetkan dengan masuknya sejumlah petugas anti korupsi meletakkan borgol untuk mengikat mereka.

“Jangan melawan….istana sudah dikepung oleh rakyat bersama pasukan anti riwaibidhoh….!!! ujar salah seorang komandan pasukan anti ruwaibidhoh di dalam balairung istana.

Terdengar suara suara rakyat yang meneriakkan keadilan pasti menang…

Dalam sekejap, ruang balairung penuh dengan teriakan “Tangkap…tangkap… ruwaibidhoh….!!!
Kembalikan keadilan untuk rakyat…..!!!

Raja dan semua pembantunya diborgol, mereka digiring memasuki ruang sel yang pengap. di dalam hatinya Raja tidak terima. Hatinya memberontak. Lalu ia teriak sekeras – kerasnya:
” Tiidaaaakkk….”.
Segera ia terbangun dari mimpi buruknya.

Ia pun minum air putih dan mulai tenang. Pak Herman bercerita pada istrinya, malam itu dalam tidurnya ia berperan menjadi Raja dholim yang selanjutnya dijebloskan ke dalam penjara oleh rakyatnya sendiri.

Setelah puas bercerita pada istrinya, Pak Herman segera melakukan persiapan untuk masuk kerja hari ini. Ia harus sudah nyampek di tempatnya bekerja pukul 6 pagi. Pak Herman adalah seorang petugas cleaning service yang punya impian agar keadaan ekonominya semakin hari semakin membaik.

*Penulis tinggal di Malang

Comment

Rekomendasi Berita