by

Desi Wulan Sari, S.E, MSi: Menyoal Poligami: Saat Gharizah Melahirkan Kesuksesan Abadi

-Opini-83 views

RADARINDONEDIANEWD.COM, JAKARTA – Agama Islam yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Tidak terkecuali dalam hal ini, hukum-hukum Islam yang dirasakan tidak sesuai dengan kemauan/keinginan sebagian orang, seperti poligami yang dengan mengingkari atau membenci hukum Allah Ta’ala tersebut, bisa menyebabkan pelakunya murtad.

Allah Ta’ala berfirman menceritakan sifat orang-orang kafir,

{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).

Akhir-akhir ini banyak pro kontra yang berdatangan tentang pemahaman poligami. Terjadinya perbedaan pendapat antara setuju dan tidak setuju sudah menjadi isu hangat di jagat raya media. Terlepas dari perbedaan pendapat itu, perlunya mengetahui defiinisi poligami itu sendiri sesuai dengan syariat adalah keharusan.

Poligami adalah salah satu diantara syariat, dimana seorang laki-laki muslim dibolehkan menikahi wanita lebih dari satu atau maksimal empat orang wanita jika mampu.

Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara al-ibahah’ (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab (dianjurkan).

Adapun makna perintah dalam firman Allah Ta’ala,

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).

Poligami (hukumnya) mubah (dibolehkan) bagi yang mampu karena firman Allah Ta’ala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan karena perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan (keberadaan) para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, dan ini (menikahi sembilan orang wanita) termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh menikahi lebih dari empat orang wanita.

Karena dalam poligami banyak terdapat kemslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun permpuan, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi laki-laki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan. Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), karena Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).

Menyoal masalah poligami, dalam Islam pasti akan mengaitkan pada pembahasan tentang gharizah. Apa itu gharizah?

Gharizah adalah qadar yang diberikan langsung oleh Allah, atau bisa juga kita sebut dengan naluri dan kebutuhan yang dimiliki oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. jika dalam kebutuhan jasmani tidak dapat dipenuhi akan menimbulkan kematian, namun jika gharizah (naluri) ini tidak terpenuhi, tidak akan berdampak pada kematian. Hanya saja akan menimbulkan kegelisahan dan kesempitan pada manusia.

Gharizatut Tadayyun

Naluri beragama (Gharizatut Tadayyun). Penampakannya mendorong manusia untuk mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud dari Sang Pencipta, maka dari itu dalam diri manusia ada kecenderungan untuk beribadah kepada Allah, perasaan kurang, lemah dan membutuhkan kepada yang lainya.

Gharizatul Baqa

Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa). Penampakanya mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktivitas dalam rangka melestarikan kelangsungan hidup. Contohnya pada kehidupan sehari-hari adalah naluri untuk mempertahan diri dari ancaman luar seperti binatang buas, penjahat, atau hal-hal lain yang mengancam dirinya. Bentuk dari pertahanan dirinya adalah saat timbul rasa untuk melawan ataupun melarikan diri dari setiap bahaya agar tetap bertahan hidup.

Gharizatun nau’

Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun nau’). Penampakanya akan mendorong manusia melangsungkan jenis manusia. Sebagai penampakan dari naluri ini, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa kebapakan, rasa keibuan, cinta pada anak-anak, cinta pada orang tua, cinta pada orang lain dan lain-lain.

Contohnya pada kehidupan sehari-hari adalah seorang ayah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, seorang ibu yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Seorang laki-laki yang memiliki perasaan suka pada lawan jenis. Adanya naluri ini telah banyak diisyaratkan dalam Al-Quran. Contohnya rasa suka terhadap lawan jenis.

Itulah bebetapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu ketika kita ingin mrmbahas ataupun mempersoalkan tentang poligami.

Karena jika kita perhatikan, hari ini banyak laki-laki yang melakukan praktik poligami.

Ketika seorang laki-laki melakukannya, tidak ada satupun umat muslim yang membantah bahwa praktik ini dibolehkan secara hukum syariat. Tetapi yang menjadi persoalan ketika mereka melakukannya didasari versinya sendiri. Banyaknya permasalahan negatif yang muncul dari para pelaku poligami menandakan bahwa praktik poligami yang mereka lakukan belum memenuhi standar syarat-syarat yang dibenarkan syariat. Walaupun aqad pernikahannya sah. Tetapi tujuan pernikahan poligaminya belum mampu melahirkan kesukssan abadi.

Dalam hal ini tidak ada yang patut disalahkan, apakah sang suami yang menikah lagi ataukah sang istri yang tidak ridha dengan suaminya yang berpoligami.

Adapun permasalahan yang sering muncul dalam berpoligami antara lain:

1. Melakukan poligami atas dasar hawa nafsu. Maka tidak akan datang keberkahan dalam perkawinan tersebut. Yang bertujuan membina keluarga sakinah mawardah warahmah dengan istri-istrinya.

2. Tidak berlaku adil atas istri-istrinya. Keadilan ini harus dipenuhi sehingga terjaga keharmonisan dalam berumah tangga. Adil yang dimaksud adalah nafkah lahir batin, memberi kebutuhan seksual, semua itu kadarnya harus sama. Serta jadwal kunjungan yang sama dalam jumlah harinya.

3. Menzalimi salah satu istri. Banyak yang melakukan kesalahan ini karena dengan berpoligami bukannya menjadikan seseorang bertambah dekat dengan Allah malah sebaliknya. Terkadang dengan membanding- bandingkan istri dan anak-anak dari istrinya satu sama lain. Lalai beribadah dalam melakukan ketaataan pada Allah. Atau salah satu istri menyuruh menceraikan dan tidak mengurusi anak istri pertama atau keduanya.

4. Membuka aib salah satu istri ataupun suami.
5. Niat berpoligami yang diselewengkan dari yang semestinya.

Sejatinya gharizah atau kebutuhan atau dipersempit dengan gharizatun nau’ yang dimiliki setiap manusia (dalam hal ini fokus pada perkawinan) seperti pada pemenuhan Kebutuhan seksual dan rasa ingin mengetahuinya, bagi yang telah mampu dapat segera menikah dengan niat karena ibadah pada Allah serta bertujuan membina rumah tangga rabbani. Sedangkan menjalani poligami dengan alasan diluar dari syariat tidak harus dipenuhi. Tapi bisa dialihkan ke Gharizah lain.

Misalnya lebih banyak beraktifitas pada Gharizah Tadayyun yang harus dikuatkan. Kebutuhan beragama ini tidak hanya sekedar mempelajari shalat saja, tetapi bisa dilanjutkan dengan menuntut ilmu tsaqafah Islam, menghafal AlQur’an, jika selesai dilanjutkan menghafal hadis, jika sudah selesai menghafal kitab-kitab. Diriwayatkan bahwa Imam Nawawi, Ibn Taimiyyah tidak sempat menikah karena sibuk berkhidmat kepada Islam, ilmu dan dakwah.

Gharizah dan poligami adalah kebutuhan yang harus dipenuhi atau bisa juga tidak harus dipenuhi. Tetapi kebutuhan ini bisa dialihkan. Dan semua itu adalah pilihan manusia. Seperti menjadi kaya adalah pilihan, ada kaifiyahnya, ada hisabnya di akhirat. Yang pasti lebih berat.

Begitu juga poligami, suami mengurus satu isteri atau dengan mengurus banyak isteri, kaifiyahnya berbeda, hisabnya juga pasti berbeda.

Setiap orang memiliki mimpi. Bermimpi untuk memiliki keluarga yang sakinah mawardah warahmah. Bisa diwujudkan dengan mengikuti sunnah yang telah dicontohkan Rasul SAW. Kebahagiaan hakiki dalam berumah tangga merupakan jaminan kesuksesan abadi di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita