by

Diyan Mardiyani Aqorib S.Si*: Solusi Tuntas Pengelolaan Sampah

-Opini-40 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah kabupaten Bekasi kembali disorot soal pencemaran kali. Tumpukan sampah kiriman sejauh 250 meter menutupi Kali Jambe di Desa Satria Jaya, Tambun Utara.

Kiriman sampah datang usai sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi diguyur hujan. Terlihat berbagai jenis sampah, mulai dari styrofoam, kayu, batang pohon pisang, botol plastik, hingga selimut bekas. (detiknews, 30/10/2019).

Ini bukanlah kejadian yang pertama. Sebelumnya Kali Pisang Batu di Tarumajaya, Bekasi menjadi sorotan dunia internasional. Pasalnya tumpukan sampah plastik menutupi kali tersebut pada Desember 2018. (Kompas.com, 7/9/2019).

Selama ini Bekasi dikenal dengan kota yang memiliki volume sampah terbesar di dunia. Bahkan Bekasi menduduki peringkat ketiga setelah Caracas, Venezuela lalu disusul India. Setiap harinya ada sekitar 150 ton sampah masuk ke TPA Bantar Gebang. Sampah-sampah ini akan menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan benar. Selain seperti masalah yang sudah disebutkan di atas, juga masalah kesehatan.

Fakta Sampah

Sampah yang paling banyak diproduksi manusia adalah sampah organik. Namun, ada sampah yang jumlahnya banyak dan sulit terurai serta berbahaya bagi alam, yaitu sampah plastik. Kantong plastik yang familiar dengan keseharian kita, terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar pertahun atau seberat 85.000 ton.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun.

Sekitar 3,2 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di Indonesia terbuang ke laut. Plastik yang sulit terurai itu terbelah menjadi mikroplastik dengan ukuran 0,3-5 milimeter yang mudah terkonsumsi oleh biota laut.

Perlu diketahui bahwa salah satu contoh jenis sampah yang juga sulit terurai adalah kaleng aluminium. Walaupun bisa didaur ulang tetapi jika sudah dibuang, membutuhkan 80-200 tahun untuk bisa terurai.

Solusi dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Tak ada satu hal pun dalam kehidupan melainkan Islam telah memberikan arahan dan petunjuknya. Seperti masalah kebersihan. Tidak hanya masalah kebersihan diri, Islam juga sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Islam tidak akan membiarkan manusia mengotori ataupun merusak lingkungan sekitarnya. Lantas, bagaimana Islam dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah?

1. Individual
Islam mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipal, yaitu keimanan terhadap surga dan neraka. “Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih.” (HR. Baihaqi).

Pemahaman tentang kebersihan yang mendasar ini dapat menumbuhkan kesadaran individual untuk pemilahan dan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. Pengurangan sampah secara individual dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sesuatu secukupnya, misal makanan. Upaya minimalisir juga tertancap dalam gaya hidup Islami, karena setiap kepemilikan akan ditanya pemanfaatannya. Bernilai pahala atau berbuah dosa.

2. Komunal
Pada kondisi-kondisi tertentu, upaya individual menjadi sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Karena itu upaya pengelolaan sampah komunal diperlukan. “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, indah dan menyukai keindahan. Oleh karena itu bersihkanlah lingkunganmu.” (HR. At-Tirmidzi).

Pengelolaan sampah komunal dilakukan dengan prinsip ta’awun, bekerjasama dalam kebaikan. Bahkan bisa jadi antar masyarakat terdapat agniya (orang kaya) yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah komunal. Masyarakat dapat dibebani kewajiban membakar, memilah, atau mengelola sampah secara bergantian.

3. Peran Pemerintah
Pada masa kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 Masehi. Pada masa Bani Umayyah, jalan-jalan di kota Cordoba telah bersih dari sampah. Ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya dibangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar, dan al-Masihi.

Tokoh-tokoh muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk berpotensi menciptakan kota yang kumuh (Lutfi Sarif Hidayat, 2011). Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah.

Sampah-sampah dapur dibuang di depan rumah-rumah mereka. Sehingga jalan-jalan menjadi kotor dan berbau busuk. (Mustofa As-Sibo’i, 2011).

Pengelolaan sampah merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Edukasi masyarakat dapat dilakukan pemerintah dengan menyampaikan pengelolaan sampah yang baik merupakan amal shaleh yang dicintai Sang Khaliq.

Pemerintah sebagai pelayan masyarakat memastikan keberadaan sistem dan instalasi pengelolaan sampah di lingkungan komunal. Pemerintah harus mencurahkan segala sumber daya termasuk dana agar sampah terkelola dengan baik. Serta mendorong dan memfasilitasi para ilmuwan untuk menciptakan teknologi-teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan, lalu mengadopsinya untuk diterapkan.

Oleh karena itu kesadaran untuk menggunakan sistem yang langsung berasal dari Sang Khaliq menjadi hal yang urgen untuk menjadikan Indonesia dan dunia lebih baik. Wallahu’alam bishawab.[]

*Praktisi kesehatan dan Member Revowriter Bekasi

Comment

Rekomendasi Berita