by

Endang Setyowati*: Peran Ibu yang Tergadai

-Opini-14 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Peran ibu sungguh sangat mulia bahkan diibaratkan sebagai malaikat yang diciptakan Allah untuk anak-anaknya demi mendidik, menyayangi dan membesarkan dengan sepenuh hati.

Bahkan Rasulullah saw memberikan tempat yang mulia bagi seorang ibu. Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi saw lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Syaikh al-Albani berkomentar: “Diriwayatkan oleh an-Nasa`i, jilid 2, hlm. 54, dan yang lainnya seperti ath-Thabrani jilid 1, hlm. 225, no. 2. Sanadnya Hasan insyaAllah. Dan telah dishahihkan oleh al-Hakim, jilid 4, hlm. 151, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan juga oleh al-Mundziri, jilid 3, hlm. 214.” (as-Silsilah adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, pada penjelasan hadits no. 593).

Betapa ibu didahulukan haknya sebelum jihad, ibu ibarat cahaya yang menyinari setiap relung kehidupan anaknya.

Ia mencurahkan segenap kasih sayangnya, dan mampu mengorbankan apa saja demi buah hatinya. Benarlah ungkapan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”. Curahan kasih sayang ibu tak terhitung dengan apa pun dan kapanpun.

Tapi bagaimana jika seorang ibu tega menganiaya buah hatinya sendiri, menurut Detiknews (25/10/2019), NP (21) mengaku menyesal telah menganiaya anaknya ZNL (2,5) hingga tewas dengan digelonggong air. NP mengaku tidak bisa mengontrol emosinya.

NP mengaku menyayangi putrinya itu. Namun dia tidak bisa mengontrol emosinya hingga mengakibatkan anak tewas di tangannya.

Peristiwa ini terjadi lantaran sang ibu stres. Ancaman cerai dan pertikaian dari sang suami menjadi penyebab utama kejadian ini. Pasalnya, jika si anak tidak gemuk maka suami akan menceraikannya.

Hati istri mana yang tak rapuh jika dikatai seperti itu? Sudah kondisi ekonomi pas-pasan, dapat uang dari mana untuk membeli gizi yang cukup bagi anaknya? Ketika tak ada tempat mengadu, hati ibu kalut. Rasa sayang bisa melayang, rasa benci bisa datang tiba-tiba.

Walhasil, sang ibu tega menggelonggong anaknya dengan air galon selama 20 menit. Hingga akhirnya si balita pun meregang nyawa. Kalau sudah begini siapa yang pantas disalahkan?

Ibu adalah seorang wanita yang memiliki kepekaan rasa yang luar biasa besar. Setiap masalah yang dihadapi akan selalu disimpan sendiri, sehingga bagaikan bom waktu, jika semakin banyak masalah yang disimpan sendiri dan tidak dikeluarkan, maka sewaktu-waktu akan bisa meledak.

Masalah yang dihadapi seorang ibu bisa bermacam-macam sebabnya di antaranya, masalah ekonomi dan spikologi. Susahnya mencari pekerjaan, persaingan dunia kerja, tidak adanya keahlian khusus, menjadikan masalah ekonomi semakin sulit.

Hasilnya, keluarga tak mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, apalagi jika harga kebutuhan pokok terus melonjak tinggi.

Masalah dengan suami juga akan menimbulkan luka. Apalagi jika keduanya saling meminta, memaksa, dan menuntut.

Perkataan atau tindakan kasar dari pasangan akan menimbulkan stres yang luar biasa. Jika sang ibu tak mampu menahan diri, ia akan melampiaskan pada orang-orang di sekitar terutama anaknya. Belum lagi tatkala ada ibu hamil yang diluar nikah, maka akan tega untuk membuang bahkan membunuh bayinya.

Karena malu terhadap para tetangga dan warga sekitar. Ini adalah bukti makin hilangnya naluri keibuan akibat berlakunya sistem kapitalisme.
Yang hanya memikirkan keuntungan sebesar-besarnya saja, tanpa memikirkan baik dan buruk.

Di dalam Islam, ibu tugas utamanya adalah sebagai madrasah awal bagi anaknya, maka akan mendidik, mengasuh serta mengatur rumah tangga. Jika peran ini dikembalikan pada tempatnya, maka akan lahir generasi yang cemerlang.

Maka Islam akan mengembalikan fitrah ibu, yang tidak hanya memikirkan kapitalisme sekuler yang bikin stress saja. Maka akan menanamkan akidah yang kuat pada dirinya, sehingga akan mencintai dan menyayangi dengan sepenuh hati, karena sadar bahwa anak adalah titipan Allah SWT.

Jika pasangan suami istri saling menerima kekurangan, saling mengerti serta saling melengkapi akan menumbuhkan kepercayaan dan keharmonisan keluarga.
Dengan didukung oleh peran masyarakat, yang saling membantu tanpa acuh tak acuh antara satu dengan yang lainnya akan menambah kepekaan masyarakat.

Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat saja, namun disini juga diperlukan peran negara. Yang mengatur kebijakan serta memperbaiki sistemnya.

Jadi sudah seharusnya negara menerapkan Islam secara keseluruhan yang akan tercipta Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam.[]

*Ibu rumah tangga

Comment

Rekomendasi Berita