by

Fitriani,S.Hi*: Cinta Nabi Cinta Syariah

-Opini-68 views

RADARI DONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bulan Rabiul Awal adalah bulan yang mulia, bahkan menjadi bulan yang istimewa untuk kaum muslim. Karena dibulan inilah lahir manusia yang paling mulia nan agung yaitu Baginda Rasulullah SAW. Tepat pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, Rasulullah SAW dilahirkan di kota Mekkah al Mukarramah. Banyak peristiwa menakjubkan yang terjadi ketika Rasulullah saw. dilahirkan dan ini tercatat secara detail dalam periwayatan sejarah.

Hal ini membuktikan bahwa kelahiran Baginda Rasulullah SAW membawa pengaruh yang begitu luar biasa terhadap perubahan tatanan dunia. Terbukti, dengan diutusnya Rasulullah untuk menyampaikan Risalah Islam di muka bumi ini yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sebagaimana Allah SWT. berfirman,Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (TQS. Al Anbiya: 107).

Keistimewaan Baginda Rasulullah SAW sebagai manusia mulia menjadikan setiap muslim mencintainya. Bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi siapapun yang mengaku muslim untuk mencintai Rasulullah SAW dengan sepenuh jiwa. Karena mencintai Rasulullah saw. hukumnya wajib bshksn diatas cinta kepada yang lain, selain Allah SWT. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan keluarga kalian, juga kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik. (TQS at-Taubah [9]: 24).

Nabi saw. juga bersabda, Tidak sempurna iman seseorang sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, kedua orang tuanya dan manusia seluruhnya. (HR. Muslim)

Maka cinta hakiki sejatinya adalah cinta kepada Allah dan RasulNya. Hal ini diwujudkan dengan mentaati apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya. Sebab, kecintaaan kepada Allah dan RasulNya akan menghantarkan manusia pada jalan kebenaran. Maka bagi siapapun yang mengakui mencintai Rasulullah bukan hanya sekedar memperingati hari lahir Beliau secara seremonial, namun lebih kepada memahami apa-apa saja Risalah yang beliau sampaikan kemudian dijalankan didalam kehidupan. Risalah itu adalah Islam yang Allah turunkan secara Kaffah untuk mengatur kehidupan manusia. Maka menjalankan Islam berarti menjalankan Syariatnya secara total.

Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan menyatakan: Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengakui cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad saw. (tharîqah al-Muhammadiyyah), maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariah Muhammad secara keseluruhan.

Maka, sudah selayaknya kita membuktikan rasa cinta kita kepada Rasulullah dengan menerapkan Islam secara Kaffah, karena Risalah yang beliau bawa begitu sempurna. Bukan hanya mengajarkan masalah sholat, puasa, zakat dan haji. Namun perkara-perkara lain seperti masalah ekonomi, pendidikan dan kesehatan semua diatur. Rasulullah tak hanya memberi teladan sebagai individu, berkeluarga, dan bersosial semata. Namun, beliau juga mengajarkan berpolitik dan bernegara sesuai tuntunan Islam. Rasulullah memberi keteladanan tentang keberagaman tanpa menyalahi syariat Islam. Hal itu tercermin dari isi piagam Madinah. Menyatu tanpa mencampuradukkan ajaran Islam dengan selainnya. 

Memperingati Maulid Nabi saw memang seharusnya dimaknai secara mendalam. Agar peringatan Maulid tak sekadar seremonial tahunan yang kosong makna. Mencinta Nabi sudah seharusnya mencintai seluruh syariat yang dibawanya. Tidak pilah pilih sekehendak hati. Tak ada dikotomi dalam meneladani Nabi saw. Saat salawat mengingatnya, saat menjalani kehidupan kita melalaikan sebagian syariatNya. Maka bagi siapapun yang nmengaku muslim sudah saatnya menggaungkan Cinta Nabi maka harus cinta syariatNya. Karena tidak dikatakan cinta jika justru menyelisihi yang dicintai apalagi dengan menentang setiap Syariat yang dibawanya. Wallahu`alam bisshawab.[]

*Founder Forum Tokoh Muslimah Deli Serdang)

Comment

Rekomendasi Berita