by

Mangir Windi Antika*: Jantung Yang Berguncang

-Opini-22 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Papua kembali rusuh dan berdarah. Pada akhir September lalu, kota Wamena berguncang akibat serangan massa yang merusak dan membakar sejumlah bangunan seperti sekolah-sekolah, rumah-rumah, hingga toko-toko dibakar, terutama gedung instansi pemerintah. Meskipun sudah berupaya untuk mencegah, namun aparat keamanan tidak bisa menghentikan massa yang memanas itu.

Korban jiwa juga berjatuhan. Menurut catatan kepolisian Resos Jaya Wijaya, 31 orang meninggal dan puluhan luka-luka dalam serangan massa. Sebagian besar para korban ditemukan tewas karena hangus terbakar sementara yang lain terkena sabetan benda tajam, panah dan benda tumpul. Diperkirakan sepuluh ribu orang mengungsi keluar Wamena. Mayoritas korban adalah warga pendatang yaitu Minangkabau, Makasar, Jawa dan Bugis.

Efrizal 42 tahun seorang perantau asal Minang terpaksa harus pura-pura mati ditengah kerusuhan demi menyelamatkan diri dalam keadaan luka bukar. Sementara anak dan istrinya tewas dalam tragedi ini. Efrizal mengaku hubungannya dengan orang asli papua selama enam tahun disana baik-baik saja, tidak pernah ada konflik apapun. Bahkan saat terjadi kericuhan pada 23 September 2019 penduduk disana ikut membantu menyelamatkan mereka, dari kericuhan. (cnnindonesia.com) Tak hanya Efrizal, salah seorang dokter bernama Soeko Marsetiyo yang telah mengabdikan dirinya untuk kesehatan di Tolikara pun menjadi korban dalam kerusuhan ini. Akibat tragedi ini telah tersimpan trauma dalam memori korban. Sehingga sebagian besar warga pendatang mengaku enggan kembali ke Wamena. Terlebih lagi mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Kerusuhan ini diduga dipicu ujaran rasialisme seorang guru pada muridnya. Namun belakangan informasi ini diluruskan oleh ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menjelaskan bahwa yang terjadi adalah kesalahpahaman. Tak ada ujaran rasialisme. Namun tak lama setlah ujaran itu sekelompok massa yang tak dikenal datang melakukan penyerangan yang menjalar menjadi kerusuhan.

Sebagai bangsa yang memuja jargon Bhinneka Tunggal Ika, kerusuhan bernuansa rasial di Jayapura dan Wamena, Provinsi Papua, adalah tamparan keras. Ternyata panasnya bara primordialisme dalam bentuk kesukuan dan rasialisme merambat dibawah tumpukan sekam kebangsaan. Tak nampak namun kemudian akhirnya muncul juga ke permukaan. Rawannya konflik sosial bernuansa rasialis ini semakin menjadi karena ketidakmampuan negara dalam menciptakan suasana rukun ditengah masyarakat. Bila ideologi bangsa ini kuat, semestinya potensi konflik rasialis dapat diredam. Masyarakat akan ditenangkan karena hukum berjalan untuk menertibkan masyarakat.
Pemerintah melalui Mabes Polri menuding ada tiga kelompok yang menjadi dalang kerusuhan di Wamena; KNPB (Komite Nasional Papua Barat), KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata), dan ULMWP (United Liberation Movement for West Papua). Sementara itu Menkopolhukam Wiranto menuding tokoh yang berada dibalik kerusuhan di Papua adalah Benny Wenda bersama OPM. Akan tetapi Benny Wenda maupun OPM pun mengeluarkan statemen bahwa mereka bukan aktor di balik kerusuhan di Wamena.

Bila pihak Benny Wenda dan OPM membantah, lalu siapa yang kemungkinan bermain di Papua? Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyebut ada keterlibatan pihak asing dalam upaya provokasi di kerusuhan Papua dan Papua Barat. Namun hingga terjadi kerusuhan susulan di Wamena, pemerintah tidak kunjung juga menyebut dengan tegas pihak asing mana yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Dari sudut pandang geopolitik Indonesia, Papua dan Maluku berperan bagai “Jantung Tanah Air”, sementara inland sea dari kenusantaraan Indonesia dan kepulauan Sunda Besar serta Sunda Kecil menjadi arterinya. Maka itu, Papua, satu-satunya pulau tersebar di Pasifik yang langsung bersebelahan dengan Melanesia dan Polynesia, selalu menjadi target untuk memecah belah kesatuan geopolitik Indonesia. Karena tidak mustahil ada keterlibatan asing dalam menciptakan suasana instabilitas di kawasan Indonesia timur.

Salah satu upaya barat untuk melemahkan dan menguasai Indonesia adalah dengan strategi pecah-belah dan disentegrasi. Karena itu seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam di negeri ini, harus selalu waspada terhadap makar pihak asing yang ingin memecah-belah negeri kita. Hendaknya kita bersatu menghadapi makar mereka sekaligus berjuang mempertahankan kesatuan negeri kita.

Kehidupan Terpelihara Kerukunan Terjaga Dalam Sistem Islam

Umat manusia yang terpelihara dalam naungan Islam tak bisa dilepaskan dari kemulian syariah Islam yang memberikan pemeliharaan dan perlindungan kepada setiap warga. Menurut ajaran Islam, diantara dosa besar dan sanksi berat yang ditimpakan atas pelaku kejahatan adalah dalam kasus pembunuhan, Allah SWT berfirman:
“Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (TQS Al-Maidah (5): 32)

Tidak peduli berapa banyak orang yang terlibat dalam pembunuhan, Allah SWT memberikan ancaman yang begitu keras terhadap para pelakunya. Larangan membunuh warga tanpa alasan yang haq juga berlaku pada kalangan non-Muslim. Nabi SAW, mengancam siapa saja yang menghilangkan nyawa non-Muslim tanpa alasan yang haq:
“Siapa yang membunuh seorang mu’ahad tak akan mencium bau surga. Sungguh bau surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR.Al-Bukhari).

Hukum yang agung ini sanggup memelihara kehidupan umat manusia sehingga tercipta kerukunan. Kaum muslim hidup dibawah sistem Islam juga berhasil menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan di tengah-tengah umat manusia. Syariah Islam menata agar setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim) mendapat jaminan kebutuhan pokok semisal sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berkat keadilan hukum-hukum Islam inilah maka gejolak sosial dan konflik di tengah-tengah masyarakat dapat dihilangkan dan kerukunan pun tercipta.

Karena itu kerusuhan yang terus-menerus melanda negeri ini patut diselesaikan dari akar persoalannya. Caranya dengan menjadikan Islam sebagai pengikat seluruh kaum muslim dan membuat mereka kembali bersaudara dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Dengan itu mereka saling memelihara harta, darah dan kehormatan satu sama lain.

Kemudian tegakkanlah kembali syariah Islam yang bisa memberikan rasa keadilan bagi setiap orang, bukan hanya Muslim. Syariah Islam juga menjamin kehidupan yang mensejahterakan setiap warga negara, Muslim dan non-Muslim. Syariah Islam akan memberangus oligarki dan monopoli ekonomi yang hanya memperkaya segelintir orang dan membiarkan banyak warga dalam jurang kemiskinan. Inilah cara Islam menciptakan dan merawat kebersamaan selama belasan abad, sekaligus menciptakan peradaban yang unggul dan memuliakan umat manusia.[]

*Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Khairun

Comment

Rekomendasi Berita