by

Renny Marito H, S.Pd: Naluri Keibuan Yang Tergerus

-Opini-63 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam rumah tangga dan sesuai fitrahnya, seorang ibu berada di posisi terhormat sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Dengan fitrah mulia itu, seorang ibu bertanggung jawab dalam hal mendidik putra-putri mereka untuk mencetak generasi berakhlak mulia, melindungi dan menyayangi buah hatinya.

Namun terjadi sebuah fakta dan peran antagonis seorang ibu di dunia ril yang sangat berlawanan dengan kemuliaan seorang ibu.

Kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak di Jakarta Barat – diduga terkait faktor ekonomi dan faktor psikologis seorang ibu yang diancam cerai sang suami, mengakibatkan pelaku gelap mata dan menganiaya anak kandungnya sendiri hingga tewas.

Naluri dan nilai keimanan sang ibu tergerus oleh persoalan ekonomi yang dibukus sistem Kapitalisme yang melahitkan kondisi dan tekanan ekonomi yang semakin parah.

Kaum ibu semakin tak berdaya dengan beban yang kian bertambah berat. Selain harus mengurus dan mendidik buah hatinya kini terbagi dengan memikirkan ekonomi keluarga, maka ketika ibu tidak mampu meredam emosi, anak akan jadi pelampiasan.

Sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi ini, negara semestinya memiliki langkah-langkah preventif dengan memberikan jaminan kesejahteraan kepada para perempuan khususnya dan rakyat pada umumnya.

Sistem Kapitalisme liberal yang dianut dan menjadi kebijakan ekonomi nadional sesungguhnya memberi andil secara tidak langsung terjadinya perubahan perilaku sosial dan kekerasan yang menggerus naluri keibuan.

Melihat fakta ini, rakyat hanya mampu mengelus dada dan menelan ludah sementara orang asing begitu bebas menikmati bahkan menguasai kekayaan negeri ini. Lihatlah, betapa masyarakat Papua tetap hidup dalam kesulitan ekonomi di tengah penggalian tambang emas freeport yang ada di bumi Cendrawasih itu.

Dengan sistem ekonomi islam, keadilan dan kesejahteraan bukan saja dirasakan oleh umat islam tetapi akan dicicipi oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan jenis kelamin, suku dan agama. Termasuk di dalamnya para ibu yang memiliki posisi mulia di rumah tangga.

Islam memposisikan ibu dan kaum perempuan sesuai dengan fitrahnya sebagai pengatur rumah tangga dan mendidik anak-anaknya tanpa mengabaikan fungsi seorang ayah yang bertugas mencari nafkah.

Islam memberikan solusi terhadap semua permasalahan sehingga terpenuhi semua kebutuhan umatnya. Masing-masing pihak menjalankan fungsinya sesuai aturan yang sudah ditetapkan dalam Al-Quran. Wallohu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita