by

Sania Nabila Afifah: Kebijakan Pendidikan Kian Sekuler, Mau Dibawa Kemana Generasi Ini?

-Opini-10 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apa kabar dunia pendidikan? Sepertinya kondisi pe didikan kita sedang kurang sehat dan sangat memilukan.

Lihatlah, fenomena dan banyaknya kasus kekerasan pada guru terus saja berulang. Guru bagi muridnya tidak lagi menjadi figur yang digugu dan ditiru apa lagi dihormati.

Apa yang dimaksud dengan guru (teacher)? 

Secara umum, Pengertian guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik.

Guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.
Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Dari penjelasan tersebut, maka kita dapat memahami bahwa peran guru sangat penting dalam proses mencetak generasi yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya.

Namun sayang, saat ini marak sekali kasus kekerasan terhadap guru, guru tidak diperlakukan tidak manusiawi oleh muridnya sendiri.

Sebagaimana dikutip dari detiknews, Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus, Manado, Sulut, ternyata lebih dulu dikeroyok sebelum ditikam hingga tewas oleh muridnya. Pelaku pengeroyokan sudah ditangkap polisi.

“Dari hasil pemeriksaan 6 saksi yang saat kejadian ada di TKP (tempat kejadian perkara) kepolisian akhirnya menetapkan satu tersangka baru, yakni OU (17), yang ikut mengeroyok korban ketika pelaku FL melakukan aksi penikaman,” ujar Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/10/2019).

OU ditangkap polisi pada Jumat (25/10) di rumahnya, Desa Koka, Mapanget Barat. OU merupakan pelajar di ichtus.

Alexander tewas dalam penanganan medis setelah ditikam muridnya berinisial F, yang tak terima ditegur karena merokok di lingkungan sekolah. Korban dibawa ke RS Angkatan Udara dan sempat dirujuk ke RS Malalayang, Manado, dan dinyatakan meninggal dunia.

“Pelaku tersinggung karena ditegur merokok,” ujar Benny dalam wawancara, Selasa (22/10). 

Sedangkan murid SMK berinisial FL mengaku emosi karena teguran gurunya. Dia menikam korban dengan pisau yang diambil di rumah.

“Saat menegur saya, Pak Guru (korban) bilang silakan lapor ke orang tua kalau tidak terima teguran. Di situ emosi saya terpancing dan saya berlari pulang mengambil pisau di rumah,” kata pelaku FL. (fdn/fdn)

Mengapa hal tersebut bisa terjadi berulang?

Mengapa murid sampai tega melakukan kekerasan terhadap guru, hanya hal sepele ditegur oleh gurunya. Dari sini kita bisa melihat bahwa ada kesalahan pada sistem pendidikan saat ini.

Sistem pendidikan kita berbasis sekuler. Walaupun pemerintah berulang kali merevisi kurikulumnya namun, jika dasar dalam sistem pendidikan tetap berbasis sekuler.

Maka tetap saja tidak akan mampu menjadikan anak didik menjadi generasi yang bangkit secara pemikiran dan moral. Sebab kurikulum sekuler, guru hanya dituntut untuk menyampaikan ilmu saja. Tidak ada nilai-nilai Islami yang disampaikan guru dalam setiap mata pelajaran. Jadi ada pemisahan agama dalam pendidikan. Di saat yang sama tidak perduli bahkan alergi pada aspek pengaturan urusan kehidupan yang dituntut dalam Islam termasuk pendidikan. Sehingga perasaan dan pemikiran terpisah dari Islam.

Sementara pendidikan karakter yang dijalankan pemerintah makin nampak nyata apa yang dimaksud out put pendidikan berupa manusia sekuler liberal, berketerampilan, berkeahlian tetapi dengan budaya, karakter dan mental sekuler kaoitalis. Yang mana kesuksesan diukur dari gelar akademik dan siap bekerja atau mencipatakan lapangan kerja.

Sedangkan Islam diposisikan sebagai agama dalam pandangan barat, yang hanya mengatur aspek ibadah ritual semata seperti, shalat, puasa, zakat, haji. Maka tidak heran jika murid tiba-tiba dengan mudahnya berlaku buruk terhadap gurunya.

Sebagaimana fakta yang dikutip dari Jeda.id. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menyatakan nyawa dari gerakan pendidikan adalah literasi. Muhadjir juga menyampaikan literasi tak melulu soal membaca buku. Menghadapi era industri 4.0 setidaknya ada 6 literasi dasar yang wajib dikuasai.

“Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca, seseorang akan memiliki perspektif baru. Kemudian, dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat,” kata Mendikbud seperti dikutip dari laman Gerakan Literasi Nasional, Senin (9/9/2019).

Fakta terbaru yang dikutip dari Kumparan.com. Jokowi Minta Mendikbud Nadiem Makarim Siapkan SDM Siap Kerja. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Kepresidenan, Jakarta. Presiden Jokowi telah mengumumkan sosok yang akan membantunya di periode 2019-2024. Salah satunya, kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diberikan kepada Nadiem Makarim.

“Kedua belas, Mas Nadiem Anwar Makarim, (sebagai) Mendikbud,” kata Jokowi saat memperkenalkan para menteri di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10).

Jokowi meminta Nadiem Makarim untuk membuat terobosan di dunia pendidikan. Ia ingin pendiri Gojek itu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) siap kerja dan usaha.

Jauh berbeda dengan bagaimana sistem pendidikan dalam Islam. Bagaimana out put yang dihasilkan semua dilakukan berlandaskan asas Islam. Pada kurikulum yang berlandaskan aqidah Islam, para pengajar yang tentunya juga berkepribadian Islam dan mempuni dalam bidang ilmu, sarana dan prasarana dan pembiayaanya berbasis baitul mal dengan aggaran yang mutlak, arah dan peta riset adalah berbasis politik dalam dan luar negeri, dan politik industri berbasis industri berat. Disamping penguasaan tercepat saintek terkini. Pengadaan itu adalah tanggung jawab khalifah sebagai pelaksana urusan umat.

Kepemimpinan dalam Islam sebagai pelaksana syariah Islam secada kaffah, terutama sistem politik dan sistem ekonomi Islam merupakan kunci kesuksesan dalam mewujudkan pendidikan yang baik dan bermutu tinggii.

Disamping itu pendidikan juga bertujuan memperkuat kepripadian Islam para siswa sehingga mereka kelak menjadi pemimpin, penjaga dan pelayan berbagai peresoalan umat. Seperti memastikan pelaksana Islam sebagai way of life, mengoreksi pemimpin, mengemban dakwah, dan menghadapi ancaman-ancaman yang membahayakan eksistensi perstuan umat.
Ilmu adalah kebutuhan pokok, ilmu memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia,

Sampai-sampai diibaratkan oleh Rasulullahseperti air hujan dalam kehidupan. Melalui lisannya yang mulia, yang artinya, “perumpamaan petunjuk dari ilmu yang dengannya aku diutus Allah, seperti air hujan yang menyirami bumi,…” (HR.Bukhari dari Abu Musa).
Wa’allahu a’lam.

*Komunitas Muslimah Rindu Jannah, Jember

Comment

Rekomendasi Berita