by

Shafayasmin Salsabila: Bening Mata Pengemban Mabda (Sebuah Puisi Islam)

Mari kita bicara tentang surga
Akan wangi dan sejuknya
Didamba hamba tanpa perlu banyak wacana
Amal nyata tak sebatas retorika

Surganya Sumayyah ra.
Yang deminya, nikmat rasa tikaman tombak
Surganya Yasir ra.
Yang meneguk bahagia, meski raga terbelah

Surganya para syuhada di Palestina
Dicacah ledakan bertahun lamanya
Jika bukan demi sebongkah iman
Dari awal mula kaki gemetar diputar meninggalkan

Intifada menggetar semesta
Ciut nyali setan menatapi keteguhan
Jundi bertangan mungil yang menggenggami kerikil

Lantas bagaimana bisa sesat pikir memelintir
Disangka surga bisa ditawar dengan amal yang secuil
Seadanya

Pengabdian bersarat
Taat dengan tapi
Berdalih tengah berproses tanpa progres
Berlindung dibalik kata “Islam yang biasa saja”

Surga itu berbayar
Tak murah
Bukan untuk diobral
Luasnya seluas langit dan bumi
Hanya dimasuki oleh hati yang setia

Setia untuk bertakwa
Dalam keremangan
Atau dikala terang benderang
Dalam hening sendirian
Juga di tengah berisiknya hiruk pikuk dunia

Jalan surga tak mudah, dipenuhi cadas
Hanya pejuanglah yang mampu bertahan
Di tiap panas terik sampaikan Islam mabda
Meski tak dilirik
Bahkan dibidik
tetap melaju berbahasa

Bahasa para pengemban mabda
Adalah bahasa pengorbanan
Dipahami oleh telinga yang ikhlas mendengarkan
Digunjing para kawanan pembisik yang kepanasan

Pengemban mabda
Bukan steril dari himpitan rasa
Ia juga bagian dari manusia
Jika ia lelah
Maka lelahnya ia gantungkan diantara ranting kesabaran
Jika dipenuhi luka
Maka lukanya ia sembuhkan dengan untaian doa

Harapan pengemban mabda
Berkorelasi dengan esksistensi surga
Meski lebih dari semua
Hanya cinta yang berbicara
Torehan karya
Harapkan ridho-Nya

Mari berbicara tentang surga
Dan akan kau dapati pantulannya di bening mata
Para pengemban mabda

Catatan kaki:
*Mabda = ideologi (pandangan hidup)

Comment

Rekomendasi Berita