by

Sherly Agustina M.Ag: Menjadikan Ibroh Kisah Baginda Nabi Saw Yang Menyayat Hati 

-Opini-101 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di bulan Maulid ini tampak gairah umat Islam begitu tinggi dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Saw. Mereka, umat islam dari Sabag hingga Merauke merayakan dengan gaya dan tradisi masing-masing daerah. Mendengar kata Maulid Nabi Saw, teringat akan sebuah kisah yang populer namun menyayat hati.

Kisah seorang kakek pengemis Yahudi yang akhirnya masuk Islam karena kemuliaan akhlak Baginda Nabi Saw. Seorang pengemis buta beragama Yahudi biasa menempati sebuah lokasi di sudut dekat pintu Kota Madinah. Setiap kali orang mendekatinya, dia selalu berpesan, “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir.”

Seandainya dia tidak buta, tentunya cepat berubah sikap dan perangai. Sebab, adalah Rasulullah Muhammad SAW yang gemar mendatanginya. Bukan untuk menghardiknya atau sekadar meminta klarifikasi atas hasutannya itu. Nabi SAW justru rajin datang kepadanya dengan menenteng makanan.

Tanpa bicara sepatah kata pun, beliau lantas duduk di sebelah pengemis Yahudi buta itu. Setelah meminta izin, Rasulullah SAW pun menyuapi orang tadi dengan penuh kasih sayang. Hal itu dilakukannya rutin, bahkan kemudian menjadi kebiasaan setiap pagi.

Seiring waktu, Allah SWT memanggil beliau. Rasulullah SAW wafat, menyisakan duka yang teramat dalam di tengah para keluarga, sahabat dan kaum Muslimin pada umumnya.

Sementara itu, kepemimpinan umat sudah berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sang khalifah ini memang sudah bertekad untuk mengikuti tradisi dan kebijakan-kebijakan peninggalan Rasulullah SAW. Bahkan termasuk rutinitasnya sehari-hari.

Suatu hari, Abu Bakar berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya yang juga istri Nabi SAW itu.

“Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?” tanya Abu Bakar.

Aisyah pun menjawab, “Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja”.

“Apakah itu?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana,” ungkap Aisyah.

Maka keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia pun bergegas menuju titik lokasi yang dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis.

Betapa gembira Abu Bakar mendapati adanya seorang pengemis buta yang duduk di dekat sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin kepadanya untuk menyuapinya.

Namun, di luar dugaan pengemis tadi malah murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu!?”

Abu Bakar menjawab, “Aku ini orang yang biasa menyuapimu.”

“Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” teriak si pengemis lagi, “Jikalau benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu,” terang si pengemis sambil tetap meraut wajah kesal.

Abu Bakar tidak kuasa menahan deraian air matanya, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Rasulullah Muhammad SAW.”

Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.”

Maka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.

Mendengar kisah ini sungguh membuat siapa saja yang mencintainya menitikkan air mata. Betapa agung dan mulianya Baginda Nabi Saw.

Ibrah apa yang bisa kita ambil dari akhlak beliau?
Rasulullah Saw saat itu menjadi pemimpin kaum Muslim. Memberi teladan yang sangat luar biasa bahwa kepada Yahudi saja Rasul menyayanginya apalagi kakek Yahudi itu seorang pengemis.

Saat ini Islam seakan terus dijadikan sebagai kambing hitam sebagai agama radikal dan teroris. Sebagai pemimpin adakah Rasul mencontohkan dan memberikan gambaran sebagai seorang radikal yang  mengajarkan kekerasan seperti halnya seorang teroris yang kini ramai ditudingkan?

Sebagai pemimpin Rasul amat menyayangi warganya meksi berbeda keyakinan dan strata sosial sebagai pengemis. Sangat sulit menemukan pemimpin seperti ini. Oleh karena itu, rasa cinta terhadap dan atau mencintai Nabi Saw sudah selayaknya meneladani apa yang beliau lakukan selama menjadi pemimpin dengan menerapkan aturan Islam. Hingga menjelma menjadi sesuatu yang indah dilihat pada individu-individu muslim.

Perilaku dan attitude atau akhlaq Rasulullah yang diaplikasikan secara kaffah di tengah masyarakat dan umat adalah representasi keindahan ajaran islam itu sendiri. Islam bukan agama dengan ajaran yang menakutkan atau agama teror seperti yang diopinikan saat ini. Ini upaya musuh Islam untuk membuat stigma terhadap Islam agar umat islam ragu terhadap agamanya sendiri bahkan takut mengamalkannya di tengah publik. Sungguh bahwa syetan itu adalah musuh yang sangat nyata. Ketahuilah bahwa syetan itu baik daari kalangan jin dan manusia hanya mampu menakut nakuti dan memang itulah tugasnya.

Maka maulid Nabi Saw hendaknya menjadi momen bagi umat islam untuk memperbaiki kecintaan itu lebih baik dan lebih baik dari sebelumnya. Meneladani sikap dan perilaku yang begitu kasih sayang kepada umat manusia yang berbeda agama sekalipun. Buktikan cintamu. Allahu A’lam bi Ash-Shawab. []

Comment

Rekomendasi Berita