by

Siti Mardhiyah*: Solusi Maraknya Free Sex Di Kalangan Remaja

-Opini-52 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa hari yang lalu heboh kabar tentang cerita pasien remaja yang terbongkar saat ditanya oleh dokter di pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) tentang kisah dirinya saat berpacaran dan diajak berhubungan badan oleh kekasih prianya.

Sang pria mengaku memiliki penyakit kelebihan sel darah putih yang jika kumat membuat badannya pucat dan terlihat seperti orang yang akan mati, padahal sesungguhnya itu bukanlah sebuah penyakit namun Sperma.

Berdasarkan penulusuran Suara.com, tagar #SexEducation menjadi heboh setelah banyak warganet menanggapi cerita pasien remaja yang disebarluaskan akun twitter @CatGoldwynMyr, (kamis 31 oktober 2019).

Maraknya pergaulan yang disalah gunakan oleh para remaja membuat orang tua dan guru di sekolah merasa sangat kuatir meski di dalam keluarga sudah dibentuk sedemikian baik oleh orang tuanya.

Belum usai LGBT, kini narkoba, miras, bullying, freesex seolah menjadi kabar yang terus berulang beberapa tahun terakhir di kalangan remaja Indonesia bahkan dunia.

Hal ini terjadi bukan tanpa sebab dan alasan. Salah satu faktor pebyebab adalah karena teknologi yang memberikan kemudahan mencari informasi dengan bebas di masyarakat khususnya remaja.

Masyarakat dan remaja begitu bebas mengakses informasu melalui teknologi dari genggamannya. Tak urung, mereka pun bebas mengakses kultur dan gaya hidup Barat yang sangat permissif dalam pergaulan, lebih khusus dalam pergaulan laawan jenis dan berpacaran.

Menurut mereka pacaran yang berasal dari budaya barat itu adalah budaya yang pantas untuk ditiru sehingga banyak remaja muslim kemudian meninggalkan identitasnya dan tercerabut dari nilai keimanan seorang muslim.

Hingga saat ini, budaya pacaran telah menjadi kebiasaan dan turun –temurun dalam kehidupan para remaja muslim, padahal sesungguhnya mereka telah banyak mengetahui bahwa hukum berpacaran tidak boleh dilakukan karena perbuatan tersebut mendekati zina.

Dalam konteks ini maka diperlukan peran orang tua untuk membentengi putra-putrinya agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas dengan menancapkan pemahaman aqidah sejak dini, memberikan arahan dan ilmu agama mengenai batasan pergaulan lawan jenis.

Orang tua mesti memberikan pemahaman kepada putra putri mereka tentang  bahaya pacaran dan arahan bahwa pergaulan antara laki laki dan perempuan harus terpisah kecuali dalam interaksi tertentu seperti dalam bidang pendidikan, kesehataan, perniagaaan, ta’aruf yang dilakukan sebelum menikah.

Masyarakat dengan lingkungan kondusif termasuk lingkungan menjadi kunci kedua setelah peran orang tua dalam keluarga.

Selanjutnya adalah peran negara. negara harus berupaya melindungi remaja. Negara memiliki peran yang sangat penting dalam memperbaiki generasi yang akhir-akhir ini mangalami degradasi moral.

Bebasnya mengakses konten-konten porno di media sosial membuat para remaja seakan difasilitasi oleh negara. Belum lagi tayangan-tayangan di televisi yang banyak mengandung unsur percintaan semakin membuat remaja yakin jika pacaran itu hal yang biasa dan tidak berbahaya.

Padahal negara  dapat menutup semua akses media sosial dari konten-konten tersebut. Negara juga memiliki wewenang membuat peraturan yang siap ditaati oleh rakyatnya.

Jika orangtua, masyarakat dan negara berkolaborasi dengan baik maka berbagai macam permasalahan remaja dapat diminimalisir.[]

*Pendidik dan pemerhati remaja, anggota Revowriter pusat

Comment

Rekomendasi Berita