by

SW. Retnani S.Pd*: Bersatulah Para Pejuang Islam

-Opini-13 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tanggal 10 November merupakan hari yang sangat monumental bagi bangsa Indonesia dengan semangat perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan juang. Hari ini selalu diperingati oleh segenap generasi bangsa ini agar senantiasa mewarisi semangat perlawanan terhadap penjajah.

Tahun ini, momen peringatan hari pahlawan menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan bulan Rabiul Awal di mana lahir seorang utusan mulia ke dunia ini, Muhammad SAW sebagai pahlawan yang membawa sinar cerj kehidupan di tengah gelapnya peradaban manusia di zamannya. Pahlawn yang tangguh dalam sejarah manusia dengan misi besarnya menyampaikan risalah kenabian dengan tatanan hidup yang telah ditentukan Allah SWT. Muhammad SAW merupakan pahlawan dalam arti yang lebih luas, sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta tanpa kecuali.

Hal ini sesuai dengan apa yang termaktub dalam QS. Al-Anbiya 21:107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

Lahirnya Rasulullah SAW disambut gembira oleh segenap makhluk. , sebab dari beliaulah kabar gembira keindahan dan kebahagiaan hakiki dapat kita raih apabila kita mentaati seluruh aturan dan hukum Allah SWT. Beliau juga telah memberikan peringatan adanya balasan dan siksa neraka kepada orang-orang yang berbuat zholim. Hal ini dibenarkan oleh ayat-ayat dalam kitab suci Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَآ فَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 28).

Hadirnya Rasulullah SAW menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Kecerdasan berstrategi, kelembutan dalam memimpin, ketegasan dalam bersikap, jujur dalam perbuatan dan masih banyak lagi yang bisa kita contoh dari Baginda Rasulullah SAW. Maka tak heran apabila umatnya begitu mencintai beliau, orang-orang terdekat beliau pun rela berkorban harta, jiwa dan raganya. Di antara mereka adalah istri beliau, ibunda Khadijah binti khuwailid. Paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib. Sahabat-sahabat beliau, Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Khalid bin Walid dan masih banyak yang lainnya.

Kepahlawanan dan perjuangan beliau tidak berhenti, walaupun beliau telah menghadap Allah Azza wa Jalla. Pahlawan Islam generasi berikutnya antara lain: Salahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih dll. Bahkan di negeri kita tercinta ini pun, banyak yang terinspirasi oleh perjuangan Rasulullah SAW. Pahlawan Indonesia yang telah Syahid dalam membela kebenaran antara lain: Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, RA. Kartini dll.

Puncak tertinggi dalam suatu perjuangan membela Islam adalah mati syahid, yakni perjuangan mengorbankan nyawa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan hanya kepada Allah SWT. Sungguh, Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan hambanya walau hanya sebesar biji sawi. Allah akan membalas dengan pahala apalagi sampai berkorban jiwa raga demi agama-Nya. Allah SWT berfirman:

فَلْيُقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يَشْرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا بِالْاٰخِرَةِ ۗ وَمَنْ يُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيُقْتَلْ اَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barang siapa berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 74).

Bagaimana perjuangan kita di zaman milenial saat ini? Wahai kaum muslim, kewajiban kita adalah melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah Muhammad SAW dengan menjaga 2 wasiat beliau Alquran dan As-sunnah tetap menjadi panduan hidup umat Islam. Senantiasa Istiqomah berjuang di jalan dakwah Islam yaitu semangat menjadi pejuang dakwah. Berani Amar ma’ruf nahi mungkar kepada siapapun.

Tantangan dan rintangan para pejuang Islam saat ini, lebih dominan dipengaruhi oleh sistem kapitalisme yang sedang menguasai dunia. Arus liberalisasi dan sekularisasi menjangkiti seluruh aspek kehidupan umat, gaya hidup materialistis dan hedonis menjadi acuan kehidupan.

Seluruh hukum yang berlaku jauh dari syariat islam hingga umat terus terdzolimi. Begitupun dengan para penguasa negeri-negeri muslim bersikap sangat diktator. Umat Islam banyak namun bagai buih di lautan, mereka dikuasai oleh kaum kapitalis asing dan Aseng hingga kekayaan negerinya pun menjadi rebutan di antara mereka.

Islamphobia menyebar bak virus ganas menjangkiti seluruh manusia, prasangka negatif terus mendera Islam dan kaum muslim. Para penjajah dan agen-agen mereka menghembuskan fitnah keji dan propaganda terhadap para pejuang dakwah.

Tapi, bagi pejuang dakwah yang dibekali nilai keimanan dan ketaqwaan, semua itu akan dapat diatasi tanpa ada yang tersakiti. Pejuang dakwah menjadi cara terdepan dan prioritas untuk mengajak manusia yang tersesat jalan untuk kembali menyadari kesalahan mereka tanpa merendahkan dan melukai perasaan.

Pejuang dakwah senantiasa mengedepankan nilai nilai dan komitmen berada di dalam thoriqoh dakwah Rasulullah SAW, bersabar menjalankan kebaikan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Tegar dalam kesulitan yang diciptakan oleh syetan dan para pendukung kemaksyiatan. Memupuk semangat dalam membina diri pribadi, keluarga dan masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar dan yang utama adalah yakin terhadap janji Allah SWT untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 33).

Wahai kaum muslim dan para pejuang dakwah, saatnya kita rapatkan barisan untuk tegaknya kembali Khilafah  sebagaimana yang pernah dibangun oleh perdaban islam di zaman Rasulullah SAW dan Khulafau rasyidin. Wallahu A’lam Bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita