by

Dewi Rahayu Cahyaningrum: LGBT Makin Eksis, Mengapa Terjadi?

-Opini-114 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miris! Kaum LGBT diberi panggung di negeri yang mayoritas muslim ini. Ironis, perilaku kaum nabi luth yang di laknat oleh Allah justru diberi kesempatan untuk eksis

Dalam laman kompas.com, sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto menyatakan, dalam pelaksanaan tes CPNS sebaiknya lembaga negara terkait tidak perlu membedakan kelompok tertentu sehingga menciptakan diskriminasi. Kelompok dimaksud adalah kaum LGBT.

Hal ini merupakan respon dari peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi RI nomor 23 Tahun 2019 tentang kriteria penetapan kebutuhan PNS dan pelaksanaan seleksi CPNS.

Namun, ternyata peraturan menteri ini justru dianggap diskriminatif bagi sebagian pihak yang memihak kaum minoritas, contohnya LGBT.

Direktur Riset setara Institue Halili dii laman yang sama mengatakan, tindakan tersebut diskriminatif karena orientasi seksual adalah identitas personal seseorang.

LGBT Penyakit

Lesbian, gay, biseksual dan transgender merupakan kelainan orientasi seksual yang sebenarnya disebabkan oleh faktor eksternal.

Pelaku LGBT harus disembuhkan, bukan justru diberi fasilitas dan pengakuan akan kelainan yang terjadi pada diri mereka.

Di Indonesia, belum ada peraturan yang tegas untuk memberantas perilaku kaum nabi Luth ini. Dengan begitu membuat populasi LGBT dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Sementara itu, untuk jumlah terkini individu LGBT di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 memperkirakan terdapat 1.095.970 LSL (Laki Suka Laki) di Indonesia.

Angka itu sebagaimana laman bbcnewsindonesia, (3/12/2019),diprediksi terus bertambah. Mereka tersebar di semua daerah di Nusantara dengan dua jaringan nasional dan 119 organisasi yang didirikan di 28 dari 34 provinsi di Indonesia.

Pertambahan kaum LGBT ini memprihatinkan bahkan membahayakan, karena mereka kerap menyasar anak-anak dan remaja, bahkan mereka juga tak segan melakukan kekerasan seksual pada korban mereka terutama anak-anak.

Keberadaan dan ulah kaum LGBT ini menjadi ancaman dan penyebab menularnya penyakit HIV/AIDS.

Tren penularan HIV/AIDS  tahun 2019 adalah melalui heteroseksual, homoseksual yaitu perilaku seksual yang menyimpang melalui hubungan seksual gonta ganti pasangan.

Hal tersebut diperkuat oleh bukti medis. Menurut data Kemenkes terbaru, yaitu faktor penularan AIDS sejak 1987 sampai 2019 terbanyak melalui hubungan seksual beresiko kelompok heteroseksual, yakni sebesar 70,2%.

Sementara untuk April sampai dengan Juni 2019 saja tercatat 1.463 orang dengan AIDS, dan 70% adalah kelompok heteroseksual sebagai persentase faktor resiko tertinggi baru disusul Gay 22%, perinatal 3%, biseksual  2%, pengguna jarum suntik narkoba 1% (tirto.id, 31/10/’19).

Untuk Kabupaten Jember saja jumlah ODHA sejak 2004 sampai Juli 2019 sebanyak 4.612 jiwa, dan ODHA sendiri baru terdeteksi tahun 2019 sejumlah 406 jiwa (radar Jember,2/12/’19).

Ini adalah bukti bahwa semakin masifnya dukungan LGBT Internasional sangat mempengaruhi Jember, dan bukannya tidak mungkin dengan semakin terbukanya Jember terhadap investasi dan liberalisasi tren homoseksual di Jember semakin meningkat.

Sehingga LGBT adalah perbuatan munkar yang pernah dilakukan penduduk Sodom kaum nabi Luth (QS An Naml : 55) yang berbunyi :

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu) “

Dan Islam meletakkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw di atas hukum-hukum buatan manusia sebagai pijakan/ukuran baik buruk yang harus diadopsi oleh semua pihak dan pemberlakuannya yang sempurna menjamin terwujudnya persamaan hak dan keadilan. Allahu’alam bisshowab.[]

*Penulis adalah anggota komunitas muslimah rindu jannah, Jember

Comment

Rekomendasi Berita