by

Gesang Ginanjar Raharjo*: Derita Uyghur, Derita Kita

-Opini-114 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Baru-baru ini media asing, Wall Street Journal memberitakan bahwa China merayu serta memberikan suap terhadap beberapa ormas Islam di Indonesia seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) agar diam dan tidak mengkritik terhadap penderitaan muslim Uyghur yang saat ini tengah dirampas kebebasannya oleh Pemerintah Cina.

Sontak pemberitaan ini langsung ditepis oleh kedua pembesar ormas Islam ini.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menepis tuduhan tersebut dengan tegas menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak mungkin menerima rayuan atau suap dari Cina. (Tribunnews.com 14/12/2019).

Hal senada juga dinyatakan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, ia mengatakan bahwa keberatan atas pemberitaan tersebut dan menuntut agar Wall Street Journal meminta maaf kepada Muhammadiyah.

Haedar Nasir juga meminta agar Cina menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM, khususnya ke masyarakat Uyghur. (Republika.co.id 16/12/2019).

Turkistan Timur Negeri Para Pejuang
Turkistan Timur terletak di jantung Asia dengan julukan negara dibalik sungai (Ma waroan nahri) karena diapit dua sungai Sihun dan Jihun.

Wilayah ini dibebaskan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Panglima perang Qutaibah bin Muslim Al-Bahily, sejak itulah cahaya Islam mulai bersemi di Turkistan, di tempat ini pula banyak para tokoh-tokoh besar yang dilahirkan, seperti tokoh Ahmad Yuknakiy, ilmuwan matematika dan fisika Al-Biruni, penemu ilmu geografi dan peta dan penulis buku “Diwan Al-Lughah At-Turk” Mahmud Al-Kasghariy, Al-Farabi dan Yusuf Al-Hajib. Serta para ulama dibidang fiqih seperti pada bidang ilmu balaghah, Yusuf As-Sasaki dan Al-Murginani dan banyak lagi.

Namun sayang pada tahun 1759 wilayah Tukistan digempur oleh penguasa Manchu, China dengan kejamnya dua juta lebih nyawa kaum Muslim Uyghur menjadi korban dalam serangan ini.

Pada 1863 Bangsa Uyghur berhasil memukul mundur pasukan China dan mendirikan negara secara independen namun hanya berlangsung selama 16 tahun saja.

Tahun 1878 Inggris memberikan bantuan kepada China dalam penjajahannya di wilayah Turkistan. Rencana inggris ini pun sukses yang akhirnya China berhasil menguasai wilayah Turkistan Timur dan merubah namanya menjadi Xinjiang pada 1884.

Perjuangan rakyat Turkistan Timur tak berhenti dan berputus asa, Muslim Uyghur terus melakukan penyerangan terhadap China dan memperoleh hasil yang menggembirakan.

Bangsa Turkistan Timur berhasil mendirikan pemerintahan mereka secara merdeka pada 1933 di Kasghar hingga tahun 1944.

Pemerintahan Turkistan Timur ini ternyata tidak berjalan mulus, Uni Soviet yang berideologi komunis tidak rela jika Turkistan Timur menjadi negara Muslim yang mandiri, Uni Soviet kemudian memberikan bantuan kepada China, lewat pasukan yang dipimpin Mao Zedong pimpinan Komunis, China kemudian berhasil menduduki kembali Turkistan Timur pada 1949 hingga saat ini.

Kaum Muslim di Turkistan sejak itu bernasib miris dan tragis, mulai dari pelarangan beribadah, larangan puasa, larangan haji bahkan membaca alquran.

Para Muslimah Uyghur dipaksa menikah dengan pria China (Han) yang beda agama, masjid-masjid juga banyak yang dirobohkan atau ditutup.

Tidak hanya itu Muslim Uyghur juga dipaksa memakan dan meminum barang haram seperti daging babi dan alkohol. Bahasa dan budaya mereka diganti dengan bahasa dan budaya China. Bahkan kekerasan terhadap muslim Uyghur terus terjadi. Panel Hak Asasi Manusia PBB pada 2018 mengaku telah menerima banyak laporan terkait adanya satu juta etnis Uyghur yang ditahan di sebuah tempat pengasingan.

Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary Mc Dougall juga mengatakan sekitar dua juta warga Uyghur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan (kamp konsentrasi) di wilayah Xinjiang. (Republika.co.id).

Muslim Uyghur sejak lama telah menjerit kesakitan, wajib bagi kita kaum muslim di seluruh dunia termasuk pemerintah Indonesia menolong dan melindungi mereka, keamanan mereka dan memelihara keislaman serta keimanan mereka. Contohlah sikap pemberani Mesut Ozil yang lantang menyuarakan dukungan terhadap Uyghur, tapi perlu diingat, tidak hanya dukungan yang dibutuhkan oleh mereka namun juga hadirnya sosok pemimpin bersama para tentaranya yang berani membebaskan mereka dari kedzoliman rezim China.

Kaum muslim butuh sosok seperti Khalifah Al-Mu’tashim pada masa Bani Abbasiyyah yang pernah menolong wanita Muslimah ketika kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ratusan ribu tentara Muslim dikerahkan untuk menyerang Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh dan ratusan lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim.

Dan mungkin masih banyak lagi contoh para pemimpin muslim yang berani mengahadapi musuh demi melindungi kehormatan umat dan ajaran Islam. Tentu hal tersebut dikarenakan adanya akidah Islam yang mana dengannya kaum Muslim siap menang atau mati syahid.

Bandingkan dengan kondisi saat ini dimana saat muslim Uyghur disiksa, kehormatan mereka tercabik-cabik namun para pemimpin muslim hanya diam seribu bahasa. Bahkan saat Nabi Muhammad dan ajaran Islam di lecehkan mereka tak bergeming untuk menghukum pelakunya.

Karena itu, hanya jika Islam diterapkan secara kaffah-lah kaum muslim Uyghur dan kaum Muslim di belahan bumi lain yang saat ini terdzholimi dan menderita bisa dibebaskan, hanya dengan perintah sang Khalifah-lah para tentara kaum Muslim bergerak menuju medan perang guna menolong saudara-saudaranya yang tersakiti.

Semoga kita diberi kesempatan untuk menyongsong kejayaan Islam kedepan.

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (TQS. Al-Anfal: 72). []

*Penulis tinggal di Malang

Comment

Rekomendasi Berita