by

Irfan Juhari,S.Hum*: Tiga Hal Yang Anak Butuhkan

-Opini-68 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Usia 6 sampai 12 tahun atau sering juga disebut sebagai usia sekolah adalah fase terpenting bagi anak untuk mendapatkan segala hal yang “dibutuhkan” dan bukan yang “diinginkan”.

Mengapa demikian? Karena pada usia tersebut, normalnya seorang anak sudah mulai mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bermanfaat untuk dirinya dan mana yang merugikan dirinya sendiri.

Dalam Islam, fase inilah yang disebut dengan masa mumayyiz. Orang tua sudah tidak perlu memperlakukan sang buah hati bak raja atau ratu sebagaimana saat ia masih dalam fase usia 0 sampai 6 tahun. Memberikan segala yang “diinginkan” dalam fase ini, sama saja mencetak anak manja yang minim kedewasaan.

Lalu, apa saja yang “dibutuhkan” anak pada masa ini? Setidaknya ada tiga kebutuhan anak yang bisa orang tua berikan kepada anak tercinta;

1.Cinta besar
Pemberian kasih sayang kepada anak tentu tidak boleh berubah. Justru semakin besar anak, cinta orang tua mestilah semakin besar pula. Tapi ini bukan berarti semakin memanjakan anak. Cinta besar artinya adil dengan kebutuhan anak.

Jika sekiranya anak belum perlu untuk menggunakan gawai, lantas mengapa gawai tercanggih dan keluaran terbaru diberikan kepada anak? Jika sekiranya anak belum laik untuk mengendarai motor, lantas mengapa di jalanan banyak usia sekolah begitu bebas berkendara motor?
Yang anak butuhkan bukan fasilitas seperti itu, melainkan perhatian orang tua yang siap memasang kedua telinga untuk anak, memuji hasil karyanya yang mungkin jauh dari kata sempurna, memotivasinya agar selalu berusaha berbuat kebaikan, mengajarkan cara hidup yang baik dan benar, serta tentu saja mencontohkan bagaimana hidup seharusnya. Dengan bersikap adil atas kebutuhan sang buah hati, membuktikan orang tua sudah memberikan cinta besar yang benar.

2.Kepercayaan
Pernah mendengar nama Thomas Alva Edison, seorang penemu sekaligus seorang pengusaha sukses? Semasa kecil ia bukanlah seorang jenius, nilainya pun selalu buruk saat di sekolah. Namun sang ibu tidak berkecil hati. Ia putuskan untuk mengeluarkan Edison kecil dari sekolah dan mendidiknya sendiri di rumah.

Dari kisah tersebut ada satu hal yang patut diteladani oleh orang tua, yakni “percaya”. Ya! Sang ibu percaya kepada anaknya sendiri jika kelak ia akan berhasil. Sehingga ibu Edison berani mengambil langkah hebat dengan mendidik anaknya seorang diri di saat guru-guru di sekolah sudah menyerah mengajarnya.

Begitu besar peran orang tua dalam mendidik anak, tapi yang tidak kalah penting diawal mendidik adalah memberikan kepercayaan kepada anak, bahwa sang buah hati mampu.

3.Pengalaman pahit
“Pelaut Ulung Tidak Lahir dari Ombak yang Tenang, Melainkan Terbiasa Menghadapi Badai!”. Pepatah ini mungkin sangat cocok dipraktikkan oleh orang tua kepada anak tercinta. Bukankah setiap orang tua mendambakan anak yang hebat, juara, berbakti, bertanggung jawab dan sukses? Untuk mencapai itu semua tentu harus ada kerja keras dan pengorbanan. Maka tidak apa mempersulit anak dengan berbagai syarat ketika ia menginginkan sebuah sepatu baru. Misal sang anak harus menabung agar bisa membelinya. Untuk mendapatkan uangnya, orang tua bisa saja memberikan tugas rumah seperti menyapu, mengepel, membersihkan halaman rumah, mencuci piring atau merapihkan tempat tidur lalu memberinya upah sesuai perjanjian.

Dengan begitu orang tua secara tidak langsung mengajarkan anak akan rasa tanggung jawab, bekerja keras, kedisiplinan dan yang paling penting orang tua sedang memberikan anak life-skill yang kelak akan berguna saat dewasa.

Tidak mengapa anak kecewa, karena itu akan mendewasakan dan mengajarkannya jika ia tidak bisa selalu mendapatkan segala yang diinginkannya. Tidak mengapa ia merasa sulit saat mengerjakan pekerjaan rumah, karena kelak ia harus mengerjakannya sendiri. Tugas orang tua adalah memandu, membimbing, mencontohkan dan memberinya pemahaman ketika anak harus menelan pil pahitnya kehidupan.

Setidaknya dengan tiga poin diatas, para orang tua hendaknya bisa lebih bijak dalam memberikan pola pendidikan untuk anak-anaknya. Segala fasilitas “wah” yang dimaksudkan agar anak lebih mudah dalam mengarungi kehidupan bisa menjadi “senjata makan tuan”. Usia sekolah adalah usia dimana anak harus mulai mengenal tanggung jawab, disiplin, adab dan tujuan hidup. []

*Kepala sekolah di Bandung

Comment

Rekomendasi Berita