by

Mamik Laela*: Merdeka Belajar Sama Dengan Merdeka Berpikir, Whats Wrong?

-Opini-146 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Pendidikan merupakan hal penting bagi sebuah Negara. Pendidikan sebagai mesin pencetak generasi yang akan melanjutkan estafet perjuangan pendiri bangsa.

Pendidikan di Indonesia memiliki banyak problem, mulai dari kwantitas subjek pelajaran, siswa yang cenderung abai dengan tanggung jawab pendidikan hingga output pendidikan yang tidak sesuai dengan harapan.

Banyak output pendidikan yang memiliki karakter kurang baik, melakukan korupsi dll.

Maka dengan berbagai problem yang menghantui pendidikan Indonesia ini, Nadiem Makarim, Menteri pendidikan Indonesai meluncurkan empat pokok kebijakan pendidikan dalam Program “Merdeka Belajar” meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) Ujian Nasional (UN) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Pernyataan menteri pendidikan, Nadiem Makarim “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir. Dan terutama esensi kemerdekaan berpikir ini harus ada di guru dulu. Tanpa terjadi di guru, tidak mungkin bisa terjadi di murid,” kata Nadiem sebagaimana dikutip www.nasional.tempo.co/13/12/2019).

Pernyataan tersebut terkesan bahwa anak didik haruslah di bebaskan dalam kegiatan dan proses berpikir. Dari sudut pandang lain, mungkin terdapat sisi positif untuk mengembangkan proses berpikir anak didik. Namun dari sudut pandang lainnya, statement Nadiem ini bisa pula mendatangkan sisi negatif dan bahaya mengintai. Apa itu?

Dalam konteks kemerdekaan berpikir ini pendidikan dijadikan sebagai ajang meliberalkan proses berpikir. Liberal artinya membebaskan anak didik berpikir tanpa landasan.

Berapa banyak manusia yang ketika di bebaskan pola pikirnya, hasil yang muncul banyak yang nyeleneh? Kita lihat di Jepang, pria Jepang menikah dengan boneka yang dikenal dengan istilah otaku, orang yang terobsesi dengan video games dan anime. Kini banyak yang jatuh cinta pada karakter anime dan tak berminat mengejar cinta di dunia nyata. (https://www.bbc.com/indonesia). Kondisi ini sungguh sangat mengkhawatirkan.

Perlu dipahami bahwa tujuan nasional pendidikan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. https://ruangguruku.com/tujuan-pendidikan-nasional/.

Bila dikomparasikan antara tujuan nasional pendidikan Indonesia tersebut dengan pernyataan Nadiem Makarim maka terdapat ruang yang tidak sinkron.

Pendidikan tidak boleh dibebaskan begitu saja dan harus ada transfer knowledge dan karakter. Anak didik belajar mengetahui sesuatunya di sekolah. Lingkungan siswa sebagian besar di sekolah. Maka berpikir secara bebas dalam proses belajar itu merupakan sebuah langkah dan kebijakan yang harus dipertimbangkan secara matang dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan national.

Membentuk karakter siswa tidak cukup dengan membebaskan anak melakukan proses berpikir sendiri. Anak didik membutuhkan kerangka berpikir dan tetap harus diarahkan. Siapa yang mengarahkan? Tak lain adalah guru. Senyampang guru juga diminta memerdekaan berpikirnya, bukannya ini memaksa guru untuk meliberalkan pola berpikirnya.

Padahal berpikir memiliki komponennya, yaitu ada fakta yang bisa diindera, panca indera, maklumat awal, dan bisa mengaitkan maklumat yang didapatkan dengan standar yang ia miliki hingga memunculkan kesimpulan berpikir.

Kesimpulan berpikir tersebut bisa diambil sebagai keputusan yang akan mempengaruhi pola sikap seseorang. Standar yang diambil sesuai dengan tujuan nasional pendidikan akan melahirkan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agar tidak menimbulkan kesimpulan yang berbeda di masyarakat, pernyataan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan di kabinet Jokowi jilid II tersebut harus diperjelas sehingga tidak menimbulkan kerancuan.

Siswa didik akan mengambil standard apa jika pola pikirnya dibebaskan? Tentu kembali pada potensi kehidupan manusia. Manusia melakukan sesuatu karena dorongan naluri-naluri dan kebutuhan jasmani.

Seandainya siswa didik dibebaskan pola berpikirnya, maka standar pikir yang akan mereka lakukan adalah untuk memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani saja.

Dengan pola berpikir seperti ini akan menghasilkan generasi materialistik dan egoistik.

Oleh karena itu ada standar baku yang tidak boleh dihilangkan dalam sebuah proses berpikir dan belajar siswa, terutama tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan undang undang pendidikan itu sendiri.

Dengan standar baku inilah generasi bangsa memiliki karakter yang kuat, tidak materialistik dan egois. Orientasi pendidikan bukan melulu soal kerja pasca mereka lulus sekolah. wallahu’alam.[]

*Praktisi Pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita