by

Putri Hanifah, C.NNLP*: Derita Uighur, Derita Siapa?

-Opini-121 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Bukankah sudah sampai kabar penderitaan muslim Uighur ditelinga kita? Atau selama ini memang belum nangkring di explore Instagram yang setiap hari kita buka? Saya rasa tidak mungkin sih kalau belum mendengar, minimal kita tahu kalau mereka sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, seperti kondisi saudara kita di Gaza.

Sahabat, penderitaan yang dialami oleh Muslim Uighur bukan hanya dimulai tahun ini. Bertahun-tahun lamanya mereka dalam kondisi terhimpit, tercekik sampai mengorbankan nyawa lantaran hati mereka meyakini satu kalimat “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadar Rasuulullah”. Kalau kita mengunjungi situs republika.co.id kemudian mencari satu kata kunci, yakni “Uighur” akan kita dapati jejak-jejak digital sudah tertulis beberapa tahun yang lalu.

Setidaknya terdapat 9 persekusi massal dan mengerikan yang dihadapi oleh saudara kita muslim Uighur di Xinjiang.
1.Melarang nama Islam untuk bayi yang baru lahir. Orang dengan nama-nama berbau Islam diancam tidak akan mendapat pekerjaan selamanya. (Bloomberg, The Guardian).

2.Menyita Al-Qur’an, sajadah dan benda yang menyimbolkan keislaman pemeluknya karena dianggap sebagai barang ‘ilegal’ (The Sun, RFA).

3.Melarang anak-anak belajar Al-Qur’an dan kegiatan keislaman, sementara Pendidikan umum sama sekali tidak mengajarkan agama (Al Jazeera, Reuters).

4.Masjid diubah menjadi pusat propaganda. Masjid diharuskan mengibarkan bendera Cina, memasang spanduk berslogan partai seperti “Cina Partai [Komunis] Cintai Negara” Shalat harus didahului upacara bendera, menyanyikan lagu partai, serta kuliah tentang patriotism (Radio Free Asia).

5.Memotong gamis perempuan di tengah jalan. Perempuan dilarang memakai jilbab dan cadar, meski sekedar untuk alasan kenyamanan (Muslim Council Hongkong, RFA, Business Insider).

6.Memasang 40.000 kamera pendeteksi wajah di seluruh tempat untuk memata-matai gerak-gerik muslim Uighur (The Guardian, Financial Times, Muslim Council Hongkong).

7.Keluarga Uighur harus menerima kehadiran tamu dari partai komunis yang diutus negara ke rumah mereka. Tugasnya mengawasi, mendoktrin dengan komunisme, melarang Uighur melakukan ibadah dan mengucap salam sekalipun (CNN, Asia News,Reuters).

8.Menikahkan paksa Muslimah Uighur dengan Kafir Komunis dari suku Han dengan dalih asimilasi budaya. Cina melakukan penghapusan ras secara sistematis, agar generasi Uighur selanjutnya lenyap dari Cina (Asia Times)
9.Sekitar 1 Juta muslim Uighur dimasukkan ke kamp konsentrasi untuk di ‘re-edukasi’, didoktrin ajaran komunis dan patriotisme Cina, mereka juga dipaksa untuk makan babi dan minum alcohol (Independent, Vox, Breitbart)

Sebenarnya Siapakah Muslim Uighur?

Bangsa Uighur adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di propinsi Cina, Xinjiang. Namun, sejarah etnis Uighur menyebut daerahnya itu Uighuristan atau Turkestan Timur.

Menurut sejarah, bangsa Uighur merdeka telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat dipisahkan dari Cina. Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, untuk kepentingan ekspansi wilayahnya.

Uighuristan merupakan tanah subur 1.500 mil dari Beijing, dengan luas 1.6 juta km2 hampir 1/6 wilayah Cina. Dan Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina. Di utara, tanah Uighur berbatasan dengan Kazakstan; Mongolia di timurlaut; Kirghiztan dan Tajikistan di baratlaut; dan dengan Afghanistan-Pakistan di barat daya.

Sejak dulu, banyak orang Uighur menjadi pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istambul, Baghdad. Bangsa Uighur juga dikenal ahli pengobatan. Zaman Dinasti Sung (906-960), seorang ahli obat-obatan Uighur bernama Nanto mengembara ke Cina. Ia membawa berbagai jenis obat yang saat itu belum dikenal di Cina. Bangsa ini pada masa itu itu telah mengenal 103 tumbuan obat. Dicatat dalam buku obat-obatan Cina oleh Shi-zhen Li (1518-1593).

Bahkan sebagian ahli barat percaya akupuntur bukan asli milik orang Cina, tapi awalnya dikembangkan Uighur.
Orang Uighur juga memiliki kemampuan arsitektur, musik, seni dan lukisan yang tinggi. Mereka bahkan telah bisa mencetak buku berabad-abad sebelum ditemui oleh Gutenberg.

Pada abad pertengahan, karya sasta, teater, musik dan lukisan sastrawan Cina juga sangat dipengaruhi Uighur.

Yen-de Wang, seorang dutabesar Cina (981-984) untuk kerajaan Kharakhoja-Uighur menulis dalam biografinya: “Saya sangat terkesan dengan tinggi peradaban di kerajaan Uighur. Keindahan candi-candinya, biara, lukisan dinding, patung, menara-menara, kebun, rumah-rumah dan istana-istana di seluruh negeri tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bangsa Uighur sangat ahli dalam kerajian emas dan perak, dan tembikar. Orang berkata Tuhan telah mewariskan keahlian-Nya hanya pada bangsa ini.” (republika.co.id)
Sungguh, muslim Uighur adalah saudara kita sama seperti muslim lainnya. Allah berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al Hujurat: 10).

Ayat tersebut merupakan penegasan bahwa orang beriman atau mukmin itu bersaudara. Penegasan pada ayat itu menggunakan kalimat Hasyr yaitu (إِنَّمَا) yang artinya hanyasanya, dengan kata lain bahwa orang beriman itu hanyalah orang yang bersaudara.

Imam Al Qurtuby dalam kitab tafsirnya menyebutkan, persaudaraan antara orang mukmin itu karena sebab agamanya yang mulia, bukan karena sebab keturunan atau nasab. Sebab persaudaraan karena agama lebih kokoh dan tetap dari pada persaudaraan karena keturunan. Persudaraan karena agama tidak akan terputus karena bedanya keturunan, sebaliknya persudaraan karena sebab keturunan dapat putus karena beda agama.

Karena kita bersaudara, maka semestinya derita muslim Uighur juga menjadi derita kita. “Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari).

Kenyataannya? Saat ini kaum muslim di wilayah lain tidak bisa mengupayakan apa-apa. Jangankan mengirimkan bantuan, berkicau di twitter saja sudah diboikot. Itulah yang dialami oleh Mesut Ozil, pemain sepak bola bernomor punggung sepuluh.

Ozil diserang dan direndahkan di Weibo, platform media sosial Cina yang diikuti sekitar empat juta orang. Ditambah lagi, situs web berita olahraga paling terkenal di Negari Tirai Bambu, Hupu, juga menghapus semua berita atau pencarian seputar Ozil (republika.co.id)
Penguasa-penguasa negeri muslim pun tidak mampu memberikan bantuan yang realistis, bahkan Bapak Mahfud MD, selaku Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia hanya mengambil sikap lunak, padahal penderitaan saudari kita sedang berdarah-darah.

Maka tidak ada solusi lain untuk mengakhiri derita Uighur selain penegakkan Daulah Khilafah. Khilafah akan menjadi perisai atau pelindung sejati umat Islam (HR al-Bukhari dan Muslim) Penguasanya, yakni Khalifah juga akan bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sejarah mencatat ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Rasulullah SAW sebagai kepala negara menyatakan perang terhadap mereka. Mereka pun diusir dari Madinah. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW., sebagai kepala Negara Islam saat itu, demi melindungi kaum Muslim.

Hal yang sama dilakukan oleh para khalifah setelah beliau. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, misalnya, pernah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksa dia berlutut kepada Khilafah.

Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum Muslim untuk melumat Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh, dan ribuan lainnya ditawan.

Demikian pula yang dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyah dalam melindungi kaum Muslim. Semuanya melakukan hal yang sama karena mereka adalah junnah (perisai).

Semua itu tentu dasarnya adalah akidah Islam. Karena akidah Islam inilah, kaum Muslim siap menang dan mati syahid. Rasa takut di dalam hati mereka pun tak ada lagi. Karena itu musuh-musuh mereka takut luar biasa ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslim. Kata Raja Romawi, “Lebih baik ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka (kaum Muslim).” Bahkan sampai terpatri di benak kaum kafir, bahwa kaum Muslim tak bisa dikalahkan. Inilah generasi umat Islam yang luar biasa. Generasi ini hanya ada dalam sistem Khilafah. Mari kembalikan junnah (perisai) itu. Allahuakbar! []

*Mahasiswi Universitas Negeri Malang

Comment

Rekomendasi Berita