by

Sherly Agustina M.Ag*: Islam Agama Paling Toleran

-Opini-94 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – ‘Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) meminta umat Muslim tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani yang merayakannya. Namun, imbauan tersebut tak berlaku untuk Wakil Presiden Ma’ruf Amin.” (CNN Indonesia, 21/12/19).

Tepat pada tanggal 25 Desember kaum Nasrani di seluruh Indonesia merayakan Hari Natal. Hari yang dirayakan setiap setahun sekali. Tidak ada yang aneh, hal yang biasa saja pada umumnya. Sama seperti Hari Raya umat Islam setahun sekali yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Masing-masing saling menghormati, karena hal ini adalah bagian dari keyakinan masing-masing. Dan Islam sangat menjaga itu sebagai bentuk toleransi.

Dikutip dari wikipedia, toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan.

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain, seperti: Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita; tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya.

Selama ini kaum Muslim sangat menghargai dan tidak pernah mengganggu perayaan umat agama di luar Islam. Inilah bentuk toleransi sesungguhnya, bahkan Islam agama yang paling toleran.

Masalah muncul adanya provokasi yang selalu mempermasalahkan tentang ucapan perayaan Natal atau perayaan umat yang lain di luar Islam. Seolah-olah jika umat Islam tidak mengucapkan kata “Selamat Natal” itu intoleran. Nah, stigma seperti ini yang memperkeruh suasana dan menganggu toleransi antar umat beragama yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya.

“Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari”. (Wikipedia).

Jadi perayaan Natal ini tentang keyakinan agama, saat umat Islam tidak mengucapkan kata “Selamat Natal” bukan berarti kaum Muslim tidak toleransi dan menghormati. Wujud toleransinya ialah tidak menggangu peribadatan agama lain. Bukan tidak mengucapkan kalimat “Selamat Natal”. Karena mengucapkan Selamat Natal sudah berkaitan dengan akidah maka kaum Muslim tidak mengucapkannya.

Selamat Natal itu berarti meyakini tuhan agama Nasrani yaitu Yesus Kristus. Sementara di sisi yang lain umat Islam memiliki keyakinan dan akidah Tuhan yaitu Allah Swt. Maka ketika mengucapkan Selamat Natal, menjadi ambigu. Apakah kaum muslim meyakini Tuhan Yesus atau Allah Swt? Ini bertentangan dengan akidah Islam.

Sama seperti kalimat syahadat, ini berkaitan dengan akidah umat Islam. Maka kaum Nasrani tidak sembarangan mengucapkannya. Karena jika mereka mengucapkannya, saat itu akidah mereka berubah yang sebelumnya tidak beriman kepada Allah Swt menjadi beriman kepada Allah.

Silahkan tanya pada kaum Nasrani atau umat agama lain, beranikah sembarang mengucapkan dua kalimat syahadat? Umat yang faham tentu tidak akan sembarangan karena hal itu sudah berkaitan dengan akidah atau keyakinan seseorang.

Sikap MUI sudah jelas tak ada perintah untuk mengucapkan Selamat Natal pada umat Kristiani. Sangat disayangkan jika ada ulama yang melakukan itu hanya karena beliau wapres. Padahal ulama seharusnya menjadi orang terdepan yang taat syariat.

Bagaimana tidak, ulama adalah orang yang faham dalil-dalil atau Nash Al Qur’an dan Al Hadis. Maka pemahamannya menuntut untuk diaplikasikan. Dan memberi contoh pada umat Islam dalam pengamalan atau aplikasi syariat.

Dalam Islam sudah jelas dalil tentang toleransi di dalam surat Al Kaafiruun ayat 6:

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”

Penjelasannya, (untukmu agamamu) yaitu agama kemusyrikan (dan untukkulah agamaku) yakni agama Islam. Ayat ini diturunkan sebelum Nabi saw. diperintahkan untuk memerangi mereka. Ya Idhafah yang terdapat pada lafal ini tidak disebutkan oleh ahli qiraat sab’ah, baik dalam keadaan Waqaf atau pun Washal. Akan tetapi Imam Ya’qub menyebutkannya dalam kedua kondisi tersebut.

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H Bagimu agamu dan bagiku agamaku. Surah ini mengandung kewajiban seorang muslim agar menghindar dan berlepas diri dari agama dan keyakinan kaum musyrikin secara keseluruhan, dan hendaknya setiap muslim menyampaikan perkara ini kepada masyarakat luas, sebagaimana orang-orang musyrikin berlepas diri dari perkara agama Allah – تعالى – .

Dan tidak seperti yang diyakini oleh sebagian besar orang tidak berilmu dengan baik, atau bahkan mereka yang sesat yang berkata : janganlah kalian mengingkari agama yang diyakini oleh orang lain, biarlah mereka pada agama mereka dan kamu pada agama kalian. Tidak, perkara ini hanyalah sebagai keleuasaan kita untuk berlepas diri dari agama kaum musyrikin, dan tidak ada kaitannya dengannya keridhoan kita terhadap agama mereka, dan tidak pula bertujuan mensamakan kedudukan kita dan kaum kuffar, kareka sesungguhnya jika mereka bersusah payah melakukan ibadah dengan tujuan kepada Allah – عز وجل – , akan tetapi ibadah mereka itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri.

Bagimu agamamu yang batil dan kamu pertahankan dengan kesombongan dan permusuhan. Bagikulah agamaku yang benar, yaitu agama yang ditunjukkan oleh Tuhanku. Aku tidak akan mencari dan menginginkan selain-Nya. Dan sesungguhnya kalian akan terus menerus di jalan yang salah, sedangkan aku tetap di atas jalan yang benar.

Kalian mempunyai balasan atas amal kalian, dan aku pun menerima balasan atas amalanku. Pengertian ayat ini sama dengan ayat,

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“…Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu…” (QS. As-Syura: 15)

Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini begini:

“Katakanlah olehmu wahai Utusan-Ku, kepada orang-orang kafir itu, bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu, kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah.

Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua, perkataanmu itu bohong, karena kamu adalah musyrik. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain. Dan ibadat kita pun berlain. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan: “Bagi kamu agama kamu, bagiku adalah agamaku pula.” Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita.”

Buya Hamka menyimpulkan hikmah yang terkandung dalam ayat ini sebagai berikut: “Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme, yang berarti menyesuai-nyesuaikan. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid, penyembahan berhala dengan sembahyang, menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah.”

Jadi, jangan mudah diprovokasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab, apalagi perkara keyakinan atau akidah. Jika sudah tertanam di hati bahwa Allah Swt itu “Ahad” maka jaga sampai mati tidak ikut meyakini keyakinan orang lain. Masih belum percaya bahwa Islam agama paling toleran? Allahu A’lam bi as Shawab.[]

*Member Revowriter Cilegon

Comment

Rekomendasi Berita