by

Uthie Siti Solihah: Speak Up For Uyhgur

-Opini-44 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Jelang akhir tahun, berita muslim Uyhgur kembali hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan. Tepatnya setelah pesepakbola muslim dari Arsenal Mesut Ozil menggugah postingan terkait Uyhgur. Akun Instagram bernama @m_10 official pada Jumat 13/12 sore waktu Jakarta itu, mempertanyakan diamnya umat dan negara-negara muslim menyikapi penganiayaan yang terjadi di Turkistan Timur.

Senada dengan Ozil, petarung UFC Khabib Nurmagomedov melakukan hal yang sama. Khabib Nurmagomedov menyuarakan pendapatnya di media sosial untuk membela Muslim Uighur.

“Ya Allah, berikanlah kemudahan bagi saudara-saudara Uighur kami,” tulis petarung UFC asal Rusia tersebut yang dilansir oleh Indosport.com Jumat 20/12.
.
Namun berbeda dengan postingan ustadz Yusuf Mansur lewat akun IG @yusufmansyurnew Rabu (18/12) yang mengatakan bahwa jika belum dapat informasi secara utuh, baiknya kita doakan saja. Karena beliau mendengar kisah yang baik-baik saja tentang muslim di Xianjang.

Meski sempat ditanggapi beragam oleh warganet, pernyataan UYM ini setidaknya membuat masyarakat bingung bahwa benarkah ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah China khususnya Tiongkok pada etnis Muslim Uyhgur?
.
Pemerintah China sendiri menyangkal adanya pelanggaran HAM pada muslim Uyhgur dan menjelaskan bahwa gedung yang diduga sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan muslim Uyhgur adalah tempat re-edukasi bagi para separatis, teroris dan extrimis yang mencoba melepaskan diri dari Xianjang untuk mendirikan negara sendiri yakni Turkistan Timur.
.
Namun setahun terakhir banyak sekali penyelidikan yang dilakukan baik oleh masyarakat atas nama pribadi atau lembaga independen yang membenarkan adanya genosida kepada muslim Uyhgur. Seperti sudah ditayangkan oleh Channel BBC Muslim dan Cordova Muslim tentang kebenaran berita ini bahkan sudah menayangkan wawancara dengan keluarga korban yang menghilang dibawa oleh aparat China tanpa kabar berita. Terutama anak-anak yang merindukan ayah mereka yang hilang dan belum kembali.
.
Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga, begitulah ungkapan yang tepat terhadap apa yang dilakukan pemerintah China terhadap muslim Uyhgur. Meski diklaim dalam keadaan baik, dan ajakan langsung kepada siapa saja yang ingin berkunjung ke Xianjang untuk melihat camp yang ada disana, namun itu tidak menyurutkan suara umat untuk meminta pemerintah China berhenti dengan aksi kejinya.
.
Sejujurnya jika tidak bicara soal Uyhgur dulu, namun bicara tentang penindasan muslim di belahan dunia. Sudah jelas di depan mata derita saudara kita di Palestina yang belum berakhir hingga kini, warga muslim Rohingya yang banyak melarikan diri hingga ke luar negaranya untuk menyelamatkan diri atas pelanggaran HAM yang dilakukan aparat Myanmar.

Naudzubillah, begitu mudah darah tertumpah dan hilang rasa saling mengasihi sesama manusia. Karena sampai saat ini polemik ini belum tuntas dan malah semakin ganas. Hingga berita Uyhgur menyebar dan tiba di hadapan kita. Dengan isu yang sama, pelanggaran HAM terhadap minoritas muslim di sebuah negara.

Lantas, bagaimanakah sikap kita sebagai muslim menanggapi hal ini?

Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, “Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu.” (Lihat hlm 62 bab as-shumti). 

Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka.

Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam Majmu’ fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu ‘Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi’i.

Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS. Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Maka menanggapi berita pelanggaran HAM yang terjadi pada saudara kita sesama muslim, kita harus berbicara agar diategorikan sebagai golongan yang beramar makruf nahi mungkar. Jangan diam, layaknya setan bisu. Karena kita sebagai saudara mereka yang tertindas kelak di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban atas hal ini.

Muslim itu ibarat satu tubuh, ketika yang lain merasakan sakit maka semua anggota tubuh yang lain akan membantu menghilangkan sakitnya.
.
Pilihan kita bersikap dan berbicara tentu untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuan.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman.” (HR Imam Muslim).

Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan bisu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan. Naudzubillah.

Problematika besar seperti ini tentu harus ada sesuatu yang besar pula sebagai solusi untuk bisa mengatasinya, tidak lain adalah keberadaan Amirul Mukminin yakni adanya kepemimpinan Islam yang menjaga kehormatan diri dan juga pelindung bagi seluruh kaum muslim.
.
Suara kita akan menjadi saksi kelak, bahwa kita ada di barisan yang ma’ruf dan tidak suka pada kebatilan, serta berharap pelanggaran HAM terhadap seluruh kaum muslimin dapat segera dihentikan oleh para penguasa yang berpegang pada aturan Allah. Wallahualam Bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita