by

Banjir: Kode Dari Alam Agar Manusia Ingat Allah

-Opini-168 views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA –

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” ( Q.S. Al-A’raf: 168)

Dilansir oleh CNN Indonesia, banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Ciberang menggenangi 2.167 rumah warga di enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten. Di antaranya, 3016 rumah rusak berat dan 2715 rusak ringan.

Hal itu berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. BPBD Lebak masih melanjutkan pendataan dampak banjir dan fokus menyalurkan bantuan logistik ke lokasi-lokasi pengungsian warga. (02/01/2020)

Ada tujuh jembatan di Kabupaten Lebak terputus akibat luapan Sungai Ciberang dan hujan lebat pada awal 2020. Salah satunya merupakan jembatan utama di Kecamatan Sajira yang merupakan penghubung ke Kecamatan Muncang dan Leuwidamar dan Sobang. Camat Sajira, Rahmat, mengatakan jembatan tersebut putus sekitar pukul 08.00 WIB. Air Sungai Ciberang meluap sejak pukul 06.00 WIB. (detikNews, 01/01/2020)

Selain jembatan penghubung antar kecamatan ini, ada 6 jembatan gantung yang dilaporkan putus. Keenam jembatan gantung itu terdapat di Desa Burungmekar, Calungbungur 2 jembatan gantung, Sukajaya, Sukarame, dan Sajira Mekar. Jembatan gantung yang putus, disebabkan oleh material pepohonan yang terbawa arus Sungai Ciberang. Akibat putus, jembatan penghubung ini tidak bisa dilalui oleh kendaraan.

Warga tak bisa melintas karena air sungai Ciberang masih meluap. Warga juga harus memutar arah puluhan kilometer karena jembatan putus jika harus melintas.

Jika dicermati hujan adalah fenomena alam, tidak semua hujan menyebabkan banjir. Lalu, apa penyebab banjir bandang yang meluluh lantakan sejumlah bangunan dan sarana infrastruktur di Kabupaten Lebak, Banten, pada hari Rabu 1 Januari kemarin? banyak yang menduga banjir diakibatkan kerusakan lingkungan berupa penebangan pohon dan pengerukan bukit di wilayah hulu. Dan sungai Ciberang dan Cidurian meluap akibat curah hujan dengan intensitas tinggi. Sungai Ciberang sendiri berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya membenarkan informasi tersebut.
“Bukan hanya luapan sungai, selain itu letak sungai Ciberang berhulu di TNGHS dan kondisi vegetasi hutannya sudah tidak ada tanaman yang kuat, hujan semalam saja sudah begini,”

Iti menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lebak akan melaporkan kondisi gundulnya kawasan Gunung Halimun, Jawa Barat. “Nanti kita akan koordinasi dengan stakeholder lainnya, akan foto udara untuk dilaporkan ke pemerintah pusat bagaimana upaya kita bersama, bagaimana penanganan supaya tidak terjadi bencana berikutnya,”

Di tempat terpisah, Kabag Wassidik Ditreskrimsus Polda Banten AKBP Dadang Herli Saputra menyatakan isu penegakkan hukum terhadap kejahatan illegal loging alias pembalakan liar merupakan salah satu unit di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten. Pihaknya siap bersinergi dengan Pemerintahan Daerah, khususnya Pemkab Lebak atau secara mandiri untuk menindak aksi pembalakan liar.

Dadang menyebutkan bahwa dalam penanganan dugaan perkara tersebut pihaknya bukan saja mengedepankan aspek hukum. Aspek sosial masyarakat juga menjadi pertimbangan yang harus selaras sejalan. (Bantennews.co.id, 1/1/2020).

Jadi, salah satu penyebab banjir adalah adanya kejahatan illegal loging (pembalakan liar), akibat dari keserakahan manusia dalam menggunakan alam ini. Selain itu, masalah pergaulan yang terjadi di Banten sangat memprihatinkan.

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Banten mencatat jumlah kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Provinsi Banten sudah mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dimiliki KPA Banten, jumlah waria se-provinsi Banten sebanyak 3.275 orang dan pria penyuka sesama pria sebanyak 2.175 orang.

Dari jumlah tersebut, jumlah waria di Kabupaten Lebak sebanyak 184 jiwa, dan pria penyuka pria sebanyak 165 orang, Di Kabupaten Pandeglang waria sebanyak 76 jiwa dan laki-laki sebanyak lima jiwa, Kabupaten Serang waria sebanyak 184 jiwa dan laki suka laki sebanyak 165 jiwa, Kabupaten Tangerang waria sebanyak 319 dan laki suka laki sebanyak 669.

Untuk di Kota Cilegon waria sebanyak 65 orang dan laki suka laki sebanyak 87 jiwa, Kota Tangerang waria sebanyak 143 orang dan laki suka laki sebanyak 396 jiwa, Kota Serang waria sebanyak 10 orang dan laki suka laki sebanyak 625 orang, dan Kota Tangerang Selatan waria sebanyak 119 dan laki suka laki sebanyak 63 orang. Kerusakan ini akibat ulah manusia, maka tak heran jika jauh-jauh hari Allah Swt memberitahukan pada kita dalam firmanNya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar Ruum: 41)

Telah terlihat kerusakan di daratan dan di lautan seperti kekeringan, minimnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah, yang semua itu disebabkan kemaksiatan-kemaksiaan yang dilakukan oleh manusia, agar mereka mendapatkan hukuman dari sebagian perbuatan mereka di dunia, supaya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepadaNya dengan meninggalkan kemaksiatan, selanjutnya keadaan mereka akan membaik dan urusan mereka menjadi lurus. Akhir 2019 Allah Swt menguji negeri ini dengan kekeringan dan kemarau. Hal ini agar kita ingat pada Allah Swt, bahwa manusia lemah dan terbatas. Dan seharusnya kembali pada aturan Allah Swt.

Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan. Karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang bunyinya:

“لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا”

Sesungguhnya suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi lebih disukai oleh para penghuninya daripada mereka mendapat hujan selama empat puluh hari.

Dikatakan demikian karena bila hukuman-hukuman had ditegakkan, maka semua orang atau sebagian besar dari mereka atau banyak dari kalangan mereka yang menahan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Apabila perbuatan-perbuatan maksiat ditinggalkan, maka hal itu menjadi penyebab turunnya berkah dari langit dan juga dari bumi.

Keberkahan belum turun dari langit berarti ada kemaksiatan yang dilakukam oleh manusia. Baik pengelolaan bumi yang dikuasai oleh orang-orang yang memiliki nafsu serakah. Sehingga menyebabkan kurangnya serapan alam terhadap air hujan.

Sebagai manusia kita tidak dapat menolak air hujan, yang harus dilakukan adalah bagaimana pengendalian terhadap banjir jika kemungkinan itu terjadi ketika hujan deras. Agar tidak berdampak buruk pada yang lain.

Kemaksitan lainnya adalah menyebarluasnya penyakit sosial, di antaranya free sex dan LGBT. Dari data KPA di atas, menjadi PR bagi kita semua. Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia adalah bentuk kerusakan tehadap bumi. Banjir telah menjadi fenomena di negeri ini.

Selain ibu kota Jakarta yang langganan banjir dan tahun ini lebih parah, Lebak pun menjadi langganan banjir. Pada saat tsunami tahun lalu, beberapa waktu setelah Tsunami terjadi kembali gempa dan banjir. Dan saat ini terjadi lagi, tidakkah sadar bahwa ini adalah kode dari Alam dan Allah Swt bahwa di awal tahun diingaatkan untuk segera kembali pada aturan Allah Swt jika ingin mendapat keberkahan dari langit dan bumi.

Mari kita renungkan firman Allah Swt:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al- A’raf : 96)[]

Comment

Rekomendasi Berita