by

Desi Wulan Sari, S.E, M.Si: “Halu” Sunda Empire, Saat Manusia Tidak Berpikir Cemerlang

-Opini-131 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Masih terngiang viralnya satu berita yang membuat masyarakat geleng-geleng kepala. Senyum akan terus ada bagi yang membaca berita tersebut. Benar, inilah sunda empire yang kemunculannya menjadi heboh di msayakat.

Siapakah sunda empire ini? Ternyata dengan gamblang disebuah acara ILC (Indonesia Lawyer Club), TVOne (21/1/2020), mereka menggambarkan apa itu sunda empire.

Menurut pengakuan dari pihak kerajaan tersebut “Sudan Empire – adalah kekaisaran bumi,” Kerajaan Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat, adalah satu bentuk kekaisaran matahari yang ada sejak Alexander The Great (Alexander Agung).

Berdiri sejak 324 tahun sebelum masehi. Sejarah ini disampaikan Sekretaris Jenderal De Heren XVII Sunda Empire, Rangga Sasana.(Tagar.id, 27/1/2020).

Setelah kita membaca riwayat singkat kerajaan ini, rasanya siapapun akan mengelus dada dan beristigfar melihat fenomena halu ini (penj- halusinasi). Karena hal-hal yang tidak masuk akal telah berani tampil di masyarakat dengan penuh percaya diri.

Fenonena apa sebenarnya yang tengah terjadi? Mengapa kondisi sosial masyarakat kita sudah begitu lemahnya. Keimanan dan hasil pemikiran manusia bukan lagi pada realita tetapi justru lebih kepada halusinasi dari sebuah tekanan hidup masyarakat yang semakin sulit dari hari ke hari.

SUNDA EMPIRE – EARTH EMPIRE, Dalam menyambut Indonesia baru yg lebih makmur dan sejahtera, dgn system pemerintahan dunia yg dikendalikan dari koordinat 0.0 di Bandung sebagai Mercusuar Dunia. Masa pemerintahan Dunia yg sekarang akan segera berakhir sampai dgn tgl 15 Agustus 2020.

Mari kita persiapkan diri kita utk menyongsong kehidupan yg lebih baik dan sejahtera. Agar kita tdk menjadi budak di negara sendiri dan hidup hanya utk membayar tagihan yg terus naik dan biaya hidup yang terus melambung tinggi apalagi biaya pendidikan anak yg tdk gratis, setelah itu kita tua dan mati, terus pikniknya kapan?” diposting pada 9 Juli 2019.

Sungguh jelas terlihat tujuan pendirian komunitas ini memiliki tujuan ingin agar masyarakat dunia menjadi lebih baik dan sejahtera.

Lantas sispa yang mesti disalahkan? Di saat ekonomi rakyat saat ini sedang mengalami keterpurukan, berbondong-bondong rakyat mendirikan berbagai kerajaan baru secara mendadak.

Bukankah hal tersebut sudah jadi pertanda bahwa rakyat perlu diperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan pokok mereka dari mulai priner,sekunder dan tersier.

Kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, dan keamanan, serta fasilitas umum, seharusnya menjadi tanggung jawab negara tanpa membebani rakyat dengan sangat berat. Tetapi negara yang bagaimana yang mampu mewujudkan semua itu hari ini?

Apakah negara dengan sistem kapitalisme, apakah sistem komunisme, ataukah sistem sosialisme yang mampu memperbaiki kondisi keterpurukan masyarakat yang ada saat ini?

Jawabannya pasti belum ada. Terbukti dengan keberadaan kerajaan sunda empire yang dimunculkan akibat derita rakyat nenghadapi berbagai persoalan hidup yang berdampak pada psikologis para pengikutnya.

Halusinasi bisa dikatakan sebagai sebuah harapan yang bisa menjadi wujud nyata dalam pandangan seseorang. Namun halusinasi dapat juga dideskripsikan sebagai sebuah keputus-asaan yang diwujudkan dalam sebuah wadah aspirasi versi mereka sendiri.

Akibatnya pikiran cemerlang seseorang lambat laun memudar hingga menjadi kosong alias hampa tanpa adanya kebenaran hakiki.

Maka saatnya menlenyapkan halusinsi, mulai bertaubat, serta kembalilah kepada yang Mahapengasih dan penyayang. kembalilah kepada agama Allah, karena diharamkan bagi umat muslim untuk berputus asa, tetaplah menjadi manusa dengan pemikiran yang cemerlang. Yakinlah bahwa Allah telah mengatur semua rizki dan kemudahan bagi hamba-hambanya yang beriman dan penuh ketakwaan.

Allah Subhanahu Wata’ala nyatakan dalam firmannya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54)

Padahal Islam telah menunjukkan bagaimana sebuah negara mampu mengurus rakyatnya dalam sebuah kata “kemakmuran.”

Dengan memiliki pemimpin yang senantiasa bertakwa dan berpegang teguh pada kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kemakmuran itu akan terwujud. “Allah Akbar.”

Pada hakikatnya Islam mengajarkan bahwa negara berperan sebagai pelindung rakyat, dan rakyat berperan sebagai penjaga agama dan negaranya. Itulah Islam pembawa rahmat bagi semesta. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita