by

Hanif Kristianto*: Khilafah, Emang Gue Pikirin

-Opini-56 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tak pernah terpikir khilafah menjadi ikonik. Tak pernah terpikir khilafah akan seheboh ini di dunia maya dan nyata. Kata khilafah dengan atau tanpa peranan kita telah menyeruak memasuki sanubari dan jiwa umat manusia. Pun kini khilafah telah memasuki rumah-rumah umat tanpa permisi dengan mengetuk pintu. Ya, khilafah telah menjadi tajuk rencana Allah SWT. Karena itu, khilafah benar-benar emang gue pikirin.

Emang gue pikirin berarti menjadi bahan perenungan dan pemikirian siapapun. Termasuk perenungan masa-masa akhir ini tatkala pemikiran umat telah dirusak dan dirampok musuh Islam. Ada beberap hal yang menjadi perenungan semuanya ketika membaca, mengeja, melihat, dan mendengar kata khilafah.

Pertama, mengapa sampai ada ujaran apa ada kata khilafah dalam al-Quran? Seolah khilafah harus diabaikan. Di sisi lain, mereka tak pernah menanyakan sistem negara yang sepadan dengan khilafah. Adakah satu kata republik, demokrasi, fasisme, dan istilah yang asing lainnya dalam quran? Kalau memang tidak ada, mengapa matia-matian membela?

Kalaulah istilah khilafah tidak diketemukan dalam al-quran, ada sumber hukum Islam lainnya yang menerangkan. Seperti termaktub dalam as-sunnah, sirah nabawiyah, ijma’ sahabat, hingga qoul ulama mu’tabar.

Kedua, mengapa sampai ada ujaran tidak ada bentuk baku khilafah? Seolah merendahkan agar khilfah tidak dijadikan rujukan dalam pemerintahan. Di sisi lain, mereka tak pernah menyoal demokrasi, sosialisme, fasisme, dan lainnya yang memang tidak baku. Demokrasi sendiri tidak baku. Berubah sesuai kepentingan negera yang menjadikan rujukannya. Demokrasi di Indonesia pun berubah-ubah. Dari demokrasi pancasila hingga demokrasi liberal. Sosialisme pun kerap berubah menjadi kapitalisme dalam kepentingan ekonominya.

Melalui pengkajian mendalam dari sirah nabawiyah dan khulafaur rasyidin diketemukan bentuk-bentuk model kekhilafahan. Sudah banyak ulama mu’tabar yang mumpuni menjelaskan konsep khilafah. Kajian itu pun bisa dibuktikan secara empiris, historis, dan akademis.

Ketiga, mengapa sampai ada ujaran Khilafah itu Islami tapi bahayakan NKRI? Seolah mendua pendapatnya. Satu sisi tidak ingin meninggalkan Islam, sisi lain menikam Islam. Ambiguitas. Belum ada fakta empiris dan historis khilafah membahayakan NKRI. Justru ideologi kapitalisme yang dibawa penjajah Belanda, Portugis, Inggris, dan sekutunya telah mengoyak dan menjarah NKRI.

Ideologi sosialisme yang telah mendorong China dan sekutunya telah merusak sendi-sendi kehidupan anak bangsa. Tidakkah ini menjadi pelajaran berharga.

Melalui pemikiran yang jernih dan berkewarasan, apa, siapa, dan bagaimana yang membahayakan NKRI. Jika anak bangsa, pemikiri, intelektual, aktifis pergerakan, dan semuanya berfikir bersama maka masalah akan diidentifikasi. Ketika tidak ada rumusan bersama, alhasil saling menuding dan yang jadi korban seolah Islam jadi masalah utama.

Keempat, mengapa sampai ada ujaran kebencian, makian, dan olok-olokan kepada khilafah? Sumpah serapah kerap diketemukan dalam ragam tulisan. Istilah yang sebenarnya suci dan mulia ini secara tak sadar menambah dosa-dosa baru. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga mulut dan lidah masih terjaga untuk mampu mengucapkan yang ihsan dan manfaat.

Jika mau mengkaji lebih dalam. Bergaul lebih luas. Melebarkan cakrawala literasi yang berisi. Niscaya, pemahaman khilafah akan utuh. Umat Islam sendiri akan lebih mencintai. Umat yang lainnya pun akan memahami bahwa khilafah adalah rumah besar umat manusia. Tidakkah rindu hidup dalam damai dan berdampingan mesra?

Kelima, mengapa istilah Khilafah mau dihapus, dihilangkan, bahkan dibuang dari pemikiran umat Islam? Apakah tidak takut akan teguran keras Allah SWT. Begitulah gambaran manusia yang suka mengeluh dan menganggap aturan Allah tiada guna. Upaya menghapus, menghilangkan, bahkan membuang khilafah secara sistemis menunjukkan kepongahan manusia.

Jika saja Allah marah ketika kekasih-Nya dihinakan, maka bagaimana dengan khilafah yang menjadi ajaran Islam dan ahlussunnah wal jamaah? Allah sendirilah dengan cara dan makar-Nya akan membuat perhitungan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, seruan kepasa seluruh umat manusia. Akal yang telah diberikan Allah gratis gunakanlah dengan etis. Kaji, diskusi, dan literasi langkah awal menuju kepahaman. Hindari prasangka buruk yang memang itu ajakan syaithan terkutuk. Kalau khilafah tidak elo pikirin, biarlah itu gue pikirin.

Kini menjadi pilihan. Mendukung khilafah berarti bersama orang-orang yang menang. Sebaliknya, menolak, menghalangi, dan upaya apapun yang mencitraburukan khilafah berarti bersama orang-orang yang kalah.

Comment

Rekomendasi Berita