by

Hanif Kristianto*: Sunda Empire Dan Khilafah Empire, Next?

-Opini-109 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Banyak yang belum menyadari bahwa manusia itu ingin dilindungi kehidupannya. Terlebih oleh negara sebagai pengatur, pengurus, dan pengayom.

Suatu hal yang wajar, jika manusia menginginkan hidup dalam negara yang mampu mewujudkan cita-cita dan realita kemapanan.

Adapun hal yang patut dipahami yaitu syarat suatu negara diakui. Tidak hanya oleh sekelompok kecil, tapi juga oleh masyarakat dunia dan bahkan turut mewujudkannya.

Hal menarik ketika mengamati pergerakan Sunda Empire atau entitas sejenisnya. Sangat wajar dari sisi sosiologis dan psikologis ingin kembali meraih puncak kejayaan.

Khususnya kejayaan pada masanya. Hal itu pun coba dikaitkan dengan konteks kekinian agar manusia hidup dalam kesejahteraan. Syarat diakui sebagai negara memang tidak mudah.

Butuh dukungan internasional, memiliki wilayah, memiliki rakyat, militer, konstitusi pemerintahan, orang yang siap menjalankan pemerintahan, dan kejelasan bentuk pemerintahan.

Ada dua perbandingan menarik studi kasus pada Sunda Empire dan Khilafah Empire di Indonesia. Pertama, Sunda Empire landasan pijakan pada keyakinan dan sejarah masa silah.

Sayangnya, pijakan untuk mewujudkan Sunda Empire menjadi digdaya sangatlah rapuh. Hal ini dikarenakan keberlanjutan ideologi tidak ada dan terpisah dari keyakinan manusia.

Alhasil, Sunda Empire bisa jadi hanya diwujudkan dalam semangat tapi tak memiliki road map jelas.

Beberapa pertanyaan yang diajukan untuk menguji kelayakan menjadi entitas baru ialah: apakah Sunda Empire memiliki sistem pengaturan kehidupan semisal sistem pemerintahan dan ekonomi?

Berapa kekuatan militer sehingga mampu mempertahankan diri dari serangan musuh? Dari mana sumber pendapatan untuk mengatur sebuah negara besar?

Mampukah menandingi rivalitas China, Amerika Serikat, dan sekutunya? Dan bagaimana bisa mendapat pengakuan internasional? Jika jawaban dari pertanyaan itu bias dan tak jelas, maka Sunda Empire mudah ditumpas.

Kedua, khilafah empire berpijak pada kekokohan aqidah Islam. Upaya mewujudkannya bukan semata dilandasi historis, lebih dari itu sebagai ketaatan menerapkan hukum Allah. Persatuan antara agama, keyakinan, dan sejarah inilah yang menjadikan Khilafah diperhitungkan. Kedigdayaan Khilafah diakui dunia.

Selama 13 abad, torehan tinta sejarah yang ditulis sejarahwan dari Barat hingga Timur mampu melukiskan keontientikannya. Tak ayal, upaya meruntuhkan Khilafah begitu tampak pada abad 19 dengan kemunculan perang dunia. Negara Geng Dunia telah bersepakat dan bersatu padu mengaborsi dan mengahapuskan Khilafah. Puncak dari itu semua 3 Maret 1924.

Beberapa pertanyaan bisa juga diajukan untuk menguji kelayakan khilafah sebagai entitas baru ialah: apakah khilafah memiliki pengaturan kehidupan seperti pemerintahan dan ekonomi? Berapa kekuatan militer yang menjadi modal khilafah dari negeri-negeri kaum muslimin?

Berapa total kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai penopang khilafah? Apakah khilafah diakui dan ditakuti China, Amerika Serikat, dan Sekutunya?

Akankah ada khilafah kedua diwujudkan kembali? Jika jawaban dari semua pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan akal, maka eksistentsi khilafah tak sekadar wacana

Suatu hal yang wajar jika setiap keyakinan ingin diwujudkan dalam bingkai kenegaraan. Sosialis komunis sudah punya negara, semisal China, Korea Utara, dan Venezuela.

Kapitalis sekular juga punya negara, semisal AS, Inggris, dan sekutunya. Umat Islam pun juga ingin khilafah untuk menerapkan syariah Islam kaffah. Nah, tinggal publik menguji.

Di antara ketiga model negara itu, manakah yang mampu memberikan kesejahteraan nyata dan perlindungan bagi seluruh rakyatnya? Tak hanya itu, mana negara yang mampu memberikan keberkahan dalam kehidupan.

Dari sisi politis, ingin mewujudkan negara ideal dikarenakan:

Pertama, model pemerintahan yang ada saat ini belum mampu menampung keinginan rakyat. Semisal terpenuhinya kebutuhan asasi manusia berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Kedua, kondisi kritis negara saat ini yang diakibatkan ulah penguasa. Semisal korupsi, nepotisme, kolusi, hukum tebang pilih, dan kehidupan sosial yang jauh dari ideal.

Ketiga, masa pergiliran kekuasaan. Tiada yang abadi di dunia ini. Allah telah mempergilirkan penguasa-penguasa dunia hingga akhir zaman. Negara dikatakan ideal bisa jadi ideal pada masanya, namun tidak relevan pada masa berikutnya.

Keempat, rakyat butuh alternatif terkait akomodasi idealisme untuk mewujudkan kehidupan lebih baik. Idealisme inilah yang tampak pada perjuangan mewujudkan keidealan negara.

Kelima, suatu negara dikatakan ideal tidak hanya diakui dan dirasakan segelintir manusia, tapi juga harus diuji dan memiliki standar yang bisa disepakati.

Untuk menentukan ideal atau tidak harus dituntun oleh wahyu. Karena tanpa tuntunan wahyu akan muncul banyak versi yang tak bisa disepakati.

Oleh karena itu, kemunculan Sunda Empire atau keinginan kembali kepada Khilafah menunjukkan gagasan baru. Gagasan ingin kembali kepada kehidupan yang lebih baik.

Tinggal publik mau mengkaji dan menentukan langkah, mana negara ideal yang akan menjadi tumpuan umat manusia di akhir zaman? Waktu dan sejarah yang akan membuktikan.[]

*Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data

Comment

Rekomendasi Berita