by

Hawilawati Hawil, S.Pd: Anak Belajar Dari Yang Diindera

-Opini-12 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hampir setiap berpergian anak laki-laki itu selalu diajak ibunya. Berpergian tak jarang dilalui dengan kendaraan umum. Walau hanya dengan kendaraan umum, namun sang ibu mengkondisikan jagoan kecilnya ini aman nyaman tidak rewel.

Saat berpergian perbekalan makanpun sudah siap di dalam tasnya, ada air mineral, susu, biscuit, atau buah potong yang sudah disiapkan di wadah makannya.

Terkadang sang ibu membeli beberapa susu atau biscuit, intinya bawa perbekalan cukup pulang pergi. Yups, insya Allah sang anak aman bersama ibunya.

Dalam perjalanan banyak sekali hal yang bisa diambil ibrohnya, ya bisa dikatakan serba-serbi naik angkot atau kendaraan umum itu ternyata sangat unik yang terkadang tak di jumpai saat membawa kendaraan sendiri.

Suatu hari ketika turun dari angkot ditemuilah pengemis dipinggir jalan, sang ibu hanya memberikan biscuit yang ada ditas anaknya, sang anak hanya menyaksikan apa yang diperbuat ibunya.

Tak lama perjalanan, ditemuilah bapak pemulung dengan putri kecilnya, ya mereka memulung gelas mineral yang ada dipinggir jalan atau tempat-tempat sampah. Sang ibupun menyapa putri kecil tersebut, sang ibu memberikan 1 kotak susu dan 1 biscuit yang ada ditas anaknya.

Kejadian ini kerap kali dilakukan oleh sang ibu dihadapan anaknya. Suatu hari sang anak bertanya kepada ibunya “ibu mengapa suka sekali memberi makanan kepada pengemis, pemulung atau pengamen dengan makanan” tanya anak dengan polosnya.

Sang ibupun menjawab dengan sangat sederhana “memberi itu tak harus dengan uang sayang, apa yang kita punya, boleh kita berikan dengan syarat kita harus ikhlas, apalagi makanan yang kita punya lebih dari cukup, kasihankan kalau mereka lapar. Anak laki-laki tersebutpun mangangguk sambil menyimak apa yang dijelaskan ibunya.

“Oh iya ya Bu, bisa jadi makanan akan lebih bermanfaat bagi mereka ya,biasanya orang kalau kasih uang ke pengemis, biasanya uang yang paling kecil ya bu, misal dua ribulah, lima ribu sangat jarang, sudah gitu pilih uang yang paling jelek dan kumel ya Bu. Terus kalau ada pemulung juga belum tentu kita ingat mau kasih uang ya bu. Tapi kalau dengan makanan bisa jadi jumlahnya lebih dari dua ribu, hmm pastinya mereka senang banget”.Sambung sang anak sampai jauh berfikir seperti itu. Sang ibupun hanya tersenyum saja.

Kini jagoan kecil itu sudah memasuki usia tamyis. Ternyata selama ini anak juga meniru apa yang ibunya lakukan “Suka memberi” bahkan jika ia membeli biscuit, susu atau jenis minuman yang lainnya akan memilih “beli 1 gratis 1 atau beli 2 gratis 1” katanya biar dapat banyak. Tujuannya tidak lain adalah agar bisa berbagi ketika bertemu dengan pengemis ataupun pemulung.

Bahkan sang anak pernah melakukan sesuatu diluar dugaan ibunya. Saat lampu merah diperjalanan, tiba-tiba sang anak turun dari angkot tanpa izin kepada ibunya, sontak ibunya kaget dan sangat kawatir mau kemana anak laki-lakinya itu. Ternyata ia hanya ingin memberikan sebotol air mineral dan sebungkus roti kepada sang pengemis yang cacat di sebrang jalan. Masya Allah.

Suatu hari giliran sang ibu yang bertanya kepada anaknya “Mengapa kamu suka sekali memberi makanan kepada mereka padahal itu makananmu?”

Dengan sederhana sang anak menjawab “aku suka memberi karena bukankah ini kebaikan sebagaimana yang ibu lakukan?”.

Masya Allah, semoga Allah melapangkan rizkimu sayang.

Ya seperti itulah anak-anak, ia belajar dari lingkungan yang terdekatnya, dan apa yang orangtua lakukan tanpa kita sadari, ia akan merekamnya dan menirunya, dan akan ada waktunya apa yang ia lihat, akan ia lakukan sesuai dengan kemampuannya.

Sebab itu jadikan diri kita teladan terdekat dan terbaik bagi anak-anaknya dengan amal kebaikan. Akan sangat berbahaya jika ayah ibu kerap kali melakukan perbuatan yang tidak baik dihadapannya maka bersiaplah anakpun akan mudah menirunya, karena anak adalah peniru ulung.

Pepatah mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Artinya anak akan berperilaku sebagaimana teladan yang ditampilkan oleh kedua orangtuanya.

Sejak lahir anak akan memperhatikan perilaku kedua orangtuanya. Oleh karena itu, cara terbaik yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah berusaha menjadi figur yang terbaik dengan syakhsiyyah Islamiyyah yaitu berpikir islami dan gemar melakukan ihsanul amal.[]

Comment

Rekomendasi Berita