by

Hawilawati, S.Pd*: Cintamu Basi Wahai Ajnabi

-Opini-79 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nasihat ringan bunda dengan sentuhan lembut tangannya senantiasa menyejukkan hati.

Motivasi kuat ayah dengan kisah teladan para sahabat dan sahabiyyah Rosul serta kisah-kisah heroik Salafus Sholih sungguh meneguhkan diri.

Suasana penanaman maklumat sabiqoh yang tercipta begitu special, menyenangkan, sangat berkesan, membekas, tak bisa terlupakan.

Bahkan, sesekali ayah bunda memberikan reward kepada putra putrinya, tatkala maklumat sabiqoh tersebut bisa diimplementasikan dengan senang dan ikhlas.

Sungguh masa ini adalah fase tamyis (7-10 tahun) masa kedekatan ayah bunda kompak mendidik anak-anaknya dengan tuntunan syariat. Kekompakan ayah bunda berlomba membiasakan amalan baik kepada putra putri kecilnya.

Orangtuapun memberikan kekayaan maklumat tsabiqoh seputar pergaulan Islam, mulai dari batasan aurat, pakaian taqwa, interaksi yang diperbolehkan dan yang tidak, siapa saja yang boleh melihat auratnya, dan sebagainya.

Waktu terus berjalan, tak terasa fase tamyis mereka telah berlalu, kini, sang putra dan putri kecil telah memasuki Fase Amrad. Perkembangan fisik dan fikirpun telah naik satu level, ya mereka sudah berada dalam level berfikir serius, bukan lagi level pembiasaan-pembiasaan amalan baik saja.

Saat anak memasuki Fase Amrad (10-14 tahun), ia sudah mengenal sekali lawan jenisnya. Fase ini tak boleh terlewatkan kedekatan sang bunda kepada putranya, dan kedekatan sang ayah kepada putrinya.

Pada fase indah nan special ini. Sosok ayah sangat dibutuhkan sebagai role model bagi putrinya, posisikan bahwa ayah adalah laki-laki terbaik yang mampu memberikan rasa aman kepada mereka.

Katakan “Ayah adalah laki-laki pertama yang mencintaimu dan menyayangimu wahai putriku”. Owh, betapa bahagianya sang putri mendengar kalimat yang menenangkan itu, bahwa dirinya telah memiliki pelindung yang gagah berani, penyanyang, baik dan sholih.

Kata-kata tulus itu keluar dari lisan seorang laki-laki yang siap menjaga keiffahan dan keizzahan dirinya. Ya itulah ayahnya.

Kedekatan ayah dengan putrinya seakan-akan tiada dinding dan jarak yang memisahkan mereka. Kata-kata sejuk inipun sudah terjalin lama sejak fase tamyis.

Tibalah saatnya tatkala sang putri harus berinteraksi ke dunia yang lebih kompleks, sistem sekulerpun terus mengikutinya kemana ia berada, alhasil kebebasan pergaulan tak kuasa untuk dihindari, nyata didepan matanya.

Campur baur laki-laki dan perempuan seakan-akan menjadi pemandangan yang lumrah, bahkan manusia berlawanan gender asyik berduaan tak hanya ditempat sepi dan sunyi.

Laki-laki Ajnabi (asing) sebaya, datang menghampiri sang putri “Aku mencintaimu ….” Hah, si laki-laki Ajnabi ingusan berani mengajak tuk taqrobuzzinna, ia menembak sang putri dengan jurus-jurus romantis murahan ala-ala anak gaul zaman now.

Disaat banyak muda mudi klepek-klepek dengan cinta monyetnya, namun sang putri dengan lantang menjawab “SORRY CINTAMU BASI” karena aku sudah punya laki-laki hebat penyayang dan sholih, ya ia adalah Ayahku.

Masya Allah, sang putri tak akan tergoda dengan ajakan laki-laki Ajnabi untuk berpacaran (kholwat) karena Ayah bunda telah memberikan maklumat sabiqoh tentang pandangan ikhtilat, kholwat dan bagaimana ia harus bergaul dengan lawan jenis dalam pandangan syariat, dan untuk siapa cinta sucinya kecuali hanya untuk suaminya kelak.

Wahai Ayah….
Wahai Bunda…

Jika pada hari ini banyak remaja putri klepek-klepek tatkala ada Ajnabi (laki-laki non mahrom) yang menyatakan cinta kepadanya, bisa jadi ia kurang bahkan hilang kedekatan dengan ayahnya dan juga tiadanya pemahaman tentang ketentuan pergaulan menurut tuntunan Syariat Islam.

Disinilah betapa pentingnya peran besar ayah terhadap kepribadian anak-anaknya, bilkhusus kepribadian putrinya. Agar kelak ia tidak menjadi pemudi galau yang terjerumus dalam dosa karena menerima sosok asing yang seakan-akan membuat dirinya nyaman sehingga dengan mudah menyentuh dirinya yang sesungguhnya tidak dihalalkan. Wallahu’alam bishowwab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita