by

Humas RSUD Depok: Antrian Terjadi Karena Pembangunan Belum Rampung Dan Proses Perubahan Sistem Baru

RADARINDONESIANEWS.COM, DEPOK – Layanan RSUD Kota Depok yang telah berstandard nasional dan internasional, terakreditasi paripurna bintang lima dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) terkesan masih berbanding terbalik dengan predikat yang telah disandang sejak 2019 lalu.

Realita tersebut tergambar dengan mencuatnya keresahan pasien RSUD dan ditanggapi Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok, pihak RSUD Depok.

Layanan kesehatan di RSUD Depok mendapat keluhan dari pasien lantaran antrean panjang yang berimbas lambatnya proses penanganan medis.

“Sudah tiga jam lebih saya menunggu antrean di ruang pendaftaran untuk periksa darah dan urine tapi sampai jelang sore ini masih belum dapat panggilan juga untuk pengecekan”, ujar pasien di RSUD Depok, Susi, Senin,(20/1/2020).

Menanggapi itu, Humas RSUD Kota Depok, Stya Hadi Saputra mengatakan, terjadinya antrean pasien dilokasi pendaftaran dan ruang laboratorium lantaran tahap pembangunan yang belum rampung sepenuhnya.

“Untuk tempat pendaftaran yang sekarang digunakan bersifat sementara karena pembangunan gedung masih belum sepenuhnya rampung”, ucap Hadi, Selasa,(21/1/2020).

Terjadinya antrean pasien di ruang tunggu laboratorium, kata Hadi, lantaran masih adanya perubahan sistem baru. Proses peralihan data, penyesuaian sumber daya manusia dan lain-lain.

RSUD Depok yang terletak di wilayah bagian barat Kota Depok di Jalan Raya Mochtar, Sawangan tampak masih jadi idola warga Depok.

Jumlah rata-rata perhari pasien berobat di RSUD mendekati jumlah 700 pasien. Angka tersebut ternyata masih barbanding terbalik dengan jumlah tenaga perawat yang dimiliki RSUD Depok.

“Ada 690 pasien perhari dan semuanya tidak selalu dirawat inap. Untuk perawat, saat ini masih menangani 10 orang pasien. Idealnya menanggani enam hingga tujuh pasien”, ujar Hadi.

Saat ini, masih kata Hadi, ruang rawat inap pasien ada sebanyak 103 utilitas yang terbagi jadi tiga peruntukan yakni, kelas I, II dan III. Sekitar 56 utilitas diantaranya dimanfaatkan untuk kelas III.

Sejumlah kendala tampak masih menjadi pekerjaan rumah pihak RSUD dan pemerintah Kota Depok. Proses pembangunan yang belum rampung serta tingginya jumlah pasien ternyata beri kesan minimnya kualitas layanan kesehatan pasien.

Menanggapi persoalaan itu, Ketua DKR, Roy Pangharapan menegaskan management RSUD Depok harus segera mencari terobosan terkait persoalan tersebut yang bisa berdampak pada lambatnya penanganan medis pada para pasien.

“Upaya itu sangat diperlukan untuk meminimalkan antrean. Meskipun realita serupa kondisinya juga hampir sama terjadi di semua RS. Dalam waktu dekat kami akan audensi ke RSUD Depok”, ujar Roy saat dihubungi Senin,(20/1/2020). (Moer)

Comment

Rekomendasi Berita