by

Indah Ummu Izzah*: Dua Sayap Pesawat Terbang

-Opini-29 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ilmu sains dan teknologi tanpa dibarengi ilmu agama, ibarat sebuah pesawat yang memiliki dua sayap yang tak seimbang karena salah satunya telah rusak. Oleng kesana-kemari tak tentu arah kemudian jatuh dan hancur berkeping-keping.

Itulah gambaran kondisi generasi Islam saat ini. Banyak yang ahli di bidang sains dan teknologi tapi sangat lemah dari ilmu agama. Sehingga ilmu sains dan teknologi yang dikuasainya hanya bernilai dunia semata. Maka tak heran jika banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi melakukan kerusakan dan kejahatan.

Sebut saja para pemangku kekuasaan. Banyak di antaranya yang berpendidikan tinggi bahkan gelarnya sampai berderet-deret dibelakang namanya. Sekolah sampai ke ujung dunia. Tapi tidak malu melakukan kecurangan-kecurangan semisal korupsi.

Lihat pula generasi Islam saat ini, terpapar oleh paham liberalisme. Bergaul bebas, hamil di luar nikah, lalu tega membunuh pasangannya. Belum lagi terjerumus ke dalam perilaku menyimpang, penyuka sesama jenis dan berakhir dengan tingginya angka penderita HIV/Aids di kalangan terpelajar.

Sekularisme telah menghancurkan generasi Islam. Agama dipisahkan dari semua lini kehidupan. Padahal sejatinya, agama adalah pedoman dalam menjalankan kehidupan, baik pada level individu, masyarakat dan negara.

Pendidikan dalam sistem sekularisme hanya menghasilkan budak materi. Sekolah hanya untuk mendapatkan gelar yang kemudian kelak digunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Apalagi dengan adanya revolusi industri 4.0. Di mana sekolah-sekolah difokuskan untuk menghasilkan pelajar terampil, tapi tidak dibarengi dengan ilmu agama.

Padahal, dalam ranah pendidikan. Islam harus menjadi pondasinya, yaitu menjadikan aqidah Islam sebagai asas kurikulumnya. Sehingga terbentuk generasi yang ahli dalam sains dan teknologi tapi juga pandai perkara agamanya. Mampu menilai perkara halal haram dalam menentukan langkahnya dalam menjalani kehidupan.

Islam telah terbukti dengan gemilang. Menghasilkan para ahli sains dan teknologi tapi juga pandai dalam agamanya. Sebut saja para ilmuwan muslim yang mampu mengubah dunia sekaliber Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Zahrawi, dan masih banyak lainnya. Tak hanya cerdas ilmu dunia tapi juga cerdas ilmu akhiratnya.

Cukuplah firman Allah Subhanahu wa ta’ala berikut ini menjadi renungan :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash : 77). Wallahu a’lam bisshawab.[]

*ibu rumah tangga

Comment

Rekomendasi Berita