by

Ir. Novianti, M.Pd*: Membangun Kedisiplinan Anak

-Opini-50 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tidak sedikit orang tua yang mengeluh ,”Kenapa anak saya susah diatur?” Atau ,”Anak saya sudah dikasih tahu berkali-kali tidak nurut malah sering melawan?” Sebelum menyalahkan anak, sebagai orang tua perlu bertanya, apakah anak sudah memahami harapan mereka, apakah anak sudah diberi tahu tentang aturan main di dalam dan di luar rumah.

Bisa jadi anak berperilaku tidak baik karena memang tidak tahu.

Mengkhawatirkan jika anak tidak diberi tahu aturan di meja makan, aturan bermain, aturan meminjam , tidak boleh bicara kasar, tidak boleh menyakiti orang lain dengan ucapan dan perbuatan. Dampaknya anak tidak memahami batasan dan berbuat semau-maunya.

Tanpa disadari jika membiarkan anak hidup tanpa batasan dapat membahayakan anak sendiri. Sebaliknya jika anak sudah belajar mengendalikan diri sejak dini, ia lebih kooperatif dan menunjukkan sikap penghormatan pada orang lain, memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Aturan bisa dikenalkan pada anak sejak dini dan merupakan cara mendisiplinkan anak. Di usia awal, aturan disampaikan bukan dengan cara ceramah melainkan melalui pembiasaan sehari-hari. Anak paham apa yang boleh dan tidak dalam interaksi sehari-hari dan bersifat ajakan.

“Ayo, adek mau bantu mama merapihkan mainan? Diklasifikasi seperti ini agar mudah saat nanti adek menggunakan lagi.” Keterlibatan orang tua menjadi.model bagi anak bagaimana melakukan sesuatu dengan benar.

Seiring bertambahnya kemampuan bahasa dan keinginan anak melakukan berbagai aktivitas, orang tua mulai menjelaskan batasan melalui komunikasi yang bisa dipahami anak.

Semua aturan harus masuk akal. Jangan menanamkan aturan yang melanggar aqidah dan syariah seperti,”Awas adek nanti dimakan kuntilanak kalau masih main di luar saat maghrib.”

Meski membuat anak patuh tapi cara ini tidak dibenarkan.

Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk “memaksa” anak belajar disiplin tanpa perlu berteriak, mengeluarkan ‘tanduk’ atau emosi:

1. Tentukan batasan. Jelaskan pada anak batasan yang harus dipatuhi dan ingatkan secara berulang-ulang. Batasan harus sesuai usia anak dan masuk akal serta tidak menyalahi syariat.

Saat mengingatkan lakukan dengan melihat konteks, proporsional dengan kadar yang sesuai.

Seorang ibu ingin marah pada anak namun saat itu sedang di depan umum. Ibu menunda hingga bisa menyampaikan kemarahannya dengan cara dan waktu yang tepat.

Lalu saat menasehati dengan kadar yang pas. Cukup menyampaikan bagian perlu dan penting tanpa harus mengungkit kesalahan yang sudah lalu-lalu. Secara proporsional artinya menasehati dengan bijak, tetap menjaga hak dan martabat anak.

Bersikap adil dan tidak merendahkan harga diri anak. Fokus pada perilaku anak yang tidak baik, hindari kalimat seperti ,”kamu selalu bikin kesal”. Anak tidak mungkin selalu berbuat salah namun sesekali dan ini sangat wajar untuk terus diingatkan.

2. Beri konsekwensi jika tidak taat aturan. Anak diingatkan sampai tiga kali sebelum memperoleh konsekwensi. Tidak perlu berteriak, marah-marah, ngomel dan mengancam. Tetap menjaga kontrol saat bicara.

Jika anak belum ikut aturan berarti belum diizinkan mengikuti kegiatan adalah contoh konsekwensi yang bisa diterapkan.

Atau anak diminta untuk masuk ke dalam kamar dan merenungkan kesalahannya. Proses memberikan konsekwensi tidak diiringi ancaman verbal atau fisik karena justru membuat anak tidak bisa berfikir jernih untuk intropeksi diri.

3. Tak perlu merasa bersalah atau dibenci anak. Jangan ragu bersikap tegas untuk hal yang baik bagi anak. Jika anak dibiarkan liar tanpa aturan, saat mereka dewasa, ketidaktegasan orang tua dapat menjadi bumerang. Anak tidak terbiasa menerima kata “tidak” atau mendapat penolakan.

Para orang tua harus kuat mental menghadapi rengekan, tangisan, perlawanan anak saat ini demi kebaikan di masa depan.

Ketegasan tetap harus memberi pesan ,”Kami tidak menyukai perbuatan kalian namun kami tetap mencintai kalian.”
Anak sangat pintar mencari celah untuk terbebas dari aturan dengan janji tidak mengulangi.

Tapi umumnya janji tinggal janji ketika tidak ada konsekwensi. Godaan lebih besar ketika anak menguji ketahanan mental di hadapan umum. Tetap tenang menegakkan aturan sambil menahan malu adalah tantangan agar anak paham aturan adalah aturan.

Aturan bukan ditujukan untuk menimbulkan ketakutan anak pada orang tua atau guru.

Tapi ini mengajari bahwa setiap perbuatan akan berdampak pada dirinya atau orang di sekitarnya.

Jika anak khawatir melanggar aturan manusia, seharusnya mereka lebih khawatir melanggar aturan Allah. Jangan lupa memberikan apresiasi atau penghargaan saat mentaati aturan.

Sampaikan secara spesifik bukan sekedar kalimat ,”Kamu hebat, kamu luar biasa.” Lebih baik katakan ,”Alhamdulillah, hari ini kamu bicara sopan pada teman-temanmu.” Meski hanya ucapan namun bisa berpengaruh positif pada anak.

Aturan akan membangun kedisiplinan dan sikap ini sangat penting bagi kesuksessan anak. Hanya mereka yang memiliki kedisiplinan diri mampu mengelola waktu dengan baik dan menjadi manusia produktif.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. Al Isra : 7).

*Pengelola TK Anak Sholeh Makassar dan Bekasi. Mudirah Sekolah Tahfizh Iqro, Bekasi.

Comment

Rekomendasi Berita