by

Nurindah*: Jember Kota Santri Darurat Pembuangan Bayi

-Opini-195 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Entah apa yang ada di benak masyarakat kini. Terjadi lagi dan lagi kasus pembuangan bayi di kota jember yang dijuluki kota seribu santri. Kali ini, warga Desa Gambiran Kalisat digemparkan dengan penemuan jasad bayi di semak belukar.

Kondisi bayi sangat mengenaskan, ia dibungkus kantong plastik berwarna merah dan hitam dalam kondisi telungkup tanpa baju dan sudah mulai membusuk (radarjember.jawapos.com, 14/01/2020)

Sungguh miris, sepekan sebelumnya warga kalisat jember tepatnya di Desa Patempuran juga digemparkan dengan penemuan jasad bayi laki-laki yang masih terdapat tali pusar membusuk di saluran air persawahan. (kompas.com, 08/01/2020)

Kejadian diatas semakin menambah daftar panjang kasus pembuangan bayi dikota santri. Betapa tidak, sepanjang tahun 2019 hampir setiap bulan terdapat pembuangan bayi dijember, ada yang dibuang di sungai, sawah, atau tempat sampah.

Tercatat pada bulan desember 2019, warga pinggiran sungai wringin Telu, Kecamatan Puger, Jember juga dihebohkan oleh penemuan sosok jasad bayi perempuan dalam kondisi telungkup, yang masih tertempel ari-ari, disekujur tubuh bayi banyak dikerubungi kepiting kecil (merdeka.com, 20/12/2019)

Pada bulan Oktober seorang bayi laki-laki juga ditemukan dikamar mandi puskesmas tempurejo jember, diduga bayi hasil dari hubungan gelap (jember1tv.co.id, 10/10/2019)

Sebulan sebelumnya, yakni dibulan september, sesosok jasad bayi laki-laki dalam kardus ditemukan warga tersangkut di bebatuan sungai bedadung, Jember. Bayi tersebut diduga dibuang orang tuanya di sungai karena hasil hubungan gelap. (inews.com, 19/9/2018)

Sedangkan dibulan kemerdekan RI tercatat dua kali kasus pembuangan bayi dikota ini, yang pertama ditemukan jasad bayi laki-laki dalam kardus di sebuah pekarangan warga kecamatan panti, jember. Saat ditemukan, bayi dalam keadaan sudah membiru. (detik.com/25/08/2019).

Berselang beberapa hari, terjadi kasus yang kedua di bulan ini. Jasad bayi perempuan ditemukan tidak terbungkus apapun dan sudah dalam kondisi rusak disebuah saluran irisasi di Jombang, Jember. (surya.co.id, 28/08/2019)

Dan pada bulan Juni, Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan juga ditemukan didalam tas kresek dalam kondisi hidup di pinggir sungai dusun krajan desa kasiyan, kecamatn puger (kompas.com, 19/06/2019). Dan masih banyak lagi kasus-kasus pembuangan bayi di kota jember ini.

Sungguh miris, hampir setiap bulan terjadi kasus pembuangan bayi, kasus ini sangat jauh meningkat dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Kota Jember yang dijuluki kota seribu santri seharusnya terkenal karena keluhuran akhlaqnya, aktivitas para pemuda yang senantiasa meramaikan tempat ibadah, kehidupan yang sangat kental dengan ketaatan kepada RabbNya.

Namun hari ini jember sangat jauh berbeda. Perilaku liberal semakin marak terjadi. Dari kasus narkoba, perampokan, lgbt, seks bebas, hingga pembuangan bayi yang hampir terjadi setiap bulannya. Siapa yang tak geram melihat fenomena pembuangan bayi yang seakan-akan menjadi rutinitas di kota santri ini.

Makin menggilanya kasus pembuangan bayi dikota santri maupun di kota-kota lainnya tentu menjadi perhatian semua kalangan. Mengapa ini semua bisa terjadi? Kapan akan berakhir? Mengapa manusia sekarang banyak berperilaku seperti hewan bahkan lebih.

Bagaimana tidak, hewan saja yang tak punya akal mempunyai rasa kasih sayang kepada anaknya. Namun manusia, yang dikarunia akal oleh sang Pencipta justru berperilaku biadab tak punya hati nurani.

Bayi suci tak berdosa begitu mungil dan lucunya yang seharusnya ia kasihani didik dan cintai, tega dibuang, dibunuh dan dibiarkan membusuk.

Kehidupan Liberal Biang Keladi Persoalan

Jika kita amati lebih dalam, tingginya tragedi pembuangan bayi ini terjadi akibat seks bebas di kalangan remaja yang semakin merebak. Bayi yang dibuang adalah hasil dari seks bebas para pemuda pemudinya yang hamil kemudian memilih jalan pintas agar tak menanggung malu, ada yang digugurkan dan di dibuang atau dibunuh pasca melahirkan .

Apa yang terjadi pada generasi hari ini tentu tidak terlepas dari sistem kehidupan yang ada di Negeri ini. Sistem Kehidupan Kapitalisme-Liberal memiliki konsep mencari manfaat/keuntungan serta menganut paham kebebasan yang tiada batasnya tanpa memperhatikan lagi aturan agama. Miras dan narkoba sudah bukan menjadi barang tabu lagi bagi para pemuda.

Juga rangsangan-rangsangan yang senantiasa ditancapkan melalui media sekuler yang hanya menginginkan keuntungan besar tanpa mempedulikan bahayanya bagi generasi senantiasa ditancapkan pada media televisi, film, dan sosial media.

Tayangan-tayangan pacaran,pergaulan bebas, pornografi menjadi santapan empuk para pemuda saat ini, membuat mereka semakin terangsang untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama tersebut, pemuda dengan sangat mudahnya melakukan seks bebas dan tindakan kriminal lainnya.

Kurikulum pendidikan yang hanya beriorientasi pada nilai dan terserapnya individu dalam lapangan pekerjaan, tanpa memperhatikan betul pola perilaku anak didiknya sesuai dengan aturan agama juga menjadi faktor semakin maraknya perilaku pemuda yang diluar batas nalar.

Masyarakat saat ini juga cenderung abai melihat banyak persoalan di negeri ini, bahkan menganggap ini adalah hal biasa. Ditambah, sanksi/hukuman yang diberikan tidak menjerakan dan cenderung semakin membuka peluang lebih besar.

Segera Akhiri !

Kejadian-kejadian ini tentu menjadi perhatian banyak pihak, setiap orang tentu tak ingin ini terus-terusan terjadi. Karena generasi adalah aset berharga kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika rusak generasinya, rusak pula tatanan kehidupan masyarakat hari ini dan di masa mendatang.

Tentu banyak pula upaya yang dilakukan untuk meperbaiki kondisi ini.

Sex education yang diterapkan disekolah-sekolah, juga banyaknya film-film tentang bahaya seks bebas dianggap bisa menekan angka pergaulan bebas dari waktu ke waktu. Namun fakta yang terjadi adalah sebaliknya, kasus seks bebas dari waktu ke waktu bukan berkurang tapi semakin meningkat tak terelakkan. Ada apa?

Pemisahan antara agama dan kehidupan adalah penyebabnya. Agama tidak lagi dijadikan sebagai aturan kehidupan. Padahal islam adalah agama yang sempurna dan paripurna telah diturunkan oleh Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan manusia. Islam punya solusi, dari ketaqwaan individu, masyarakat dan negara.

“…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan jangan;ah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (Q.S Al-Maidah)

Didalam islam setiap individu akan dikondisikan untuk bertaqwa kepada Allah, mereka hidup senantiasa untuk mengharapkan pahala dan takut adzab akhirat, yang dengannya akan membuat individu-individu berbuat sesuai koridor syariat, mereka akan takut untuk melakukan tindakan-tindakan amoral.

Masyarakat juga akan dikondisikan untuk tidak terbawa pergaulan bebas. Para wanita diwajibkan menutup aurat dan menjaga kehormatannya, interaksi pria dan wanita terjaga hanya terbatas pada muammalah dan tolong menolong saja.

Masyarakat juga akan timbul rasa saling peduli, sehingga akan terminimalisirlah kasus-kasus kriminal yang ada.

Selain individu dan masyarakat, hal utama adalah Negara. Negara akan melarang peredaran minuman keras dan narkoba yang mendorong kasus-kasus amoral semakin meningkat.

Media-media akan diatur sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak mudah terangsang untuk melakukan tindakan asusila Lembaga pendidikan juga akan diarahkan untuk mencetak anak didik atau generasi yang tak hanya pandai dan ahli saja tetapi juga anak didik yang bermoral sesuai nilai-nilai agama.

Negara juga akan mengatur sedetail mungkin media-media yang ada dalam masyarakat. Tidak hanya itu, Negara juga akan menerapkan hukuman yang menjerakan para pelaku sesuai hukum al quran dan as sunnah.

Maka sungguh, kasus-kasus di atas harus segera diakhiri. Tidak ada solusi lain untuk menghentikan kasus diatas, selain menjadikan Islam sebagai aturan bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a’lam bi showwab.[]

*Praktisi kesehatan

Comment

Rekomendasi Berita