by

Pariwisata Jadi Primadona, Mampukah Hadapi Dampak Perang Dagang AS-China?

-Opini-216 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tumbuh suburnya sektor pariwisata tak bisa dilepaskan dari muatan kesyirikan di tengah masyarakat. Tak sedikit, berbalut kearifan lokal praktik syirik ini difasilitasi dalam sektor ini. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumedang.

Puluhan penari pada even tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede kabupaten Sumedang, Satu persatu para penari pingsan dan beberapa mengalami kesurupan hingga berteriak histeris pada saat pertunjukan, dilansir dari Kabar-Priangan.com,

Kendati berbau kesyirikan, sektor pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China.

Tidak dipungkiri kehadiran perang dagang antar dua negara ini melemahkan ekonomi negara lain termasuk Indonesia.

Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widya mengatakan, di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ini jalan pintas yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara melalui pariwisata. (Sumber : Kemenpar.go.id)

Memajukan sektor pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi tentu bukan ide brilian dari para pemikir di negeri ini. Ini tidak lain adalah proyek global yang setiap negara terikat untuk menggali potensi dalam negerinya agar dapat membentuk destinasi.

Liberalisasi yang menjadi ruh kapitalisme, tentu amat mudah menggiring gaya hidup masyarakat dunia memasuki era ekonomi wisata.

Paham sekularisme memang meniscayakan dunia menjadi tempat untuk bersenang-senang. Wajar akhirnya semua negara menggarap alam, budaya atau kearifan lokal dan karya manusia sebagai destinasi wisata.

Pariwisata menjadi primadona karna dinilai dapat mempercepat arus modal dan investasi, korporasi ataupun personal ke suatu negeri termasuk Indonesia. Hal ini seolah menjadikan sektor ini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya sekalipun persentase itu ada kenaikan, tetap tidak mampu mensejahterakan negeri dan rakyat. Karena keuntungan sektor pariwisata hanya berlari kepada pemilik modal. Upaya pembiaran aktivitas kesyirikan dalam sektor pariwisata pun adalah keniscayaan.

Di tengah kehidupan yang bernafaskan liberalisme dan sekulerisme ini, segala hal dipandang boleh apabila mampu menghasilkan keuntungan materi. Padahal, kesyirikan yang menjamur ini mampu melemahkan aqidah umat Islam di dalam negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Namun, tak ada standar halal haram, standar baku dalam sistem sekuler adalah apakah itu memberi manfaat ataukah tidak.

Ini justru dinilai menjanjikan di hadapan para turis asing yang ingin dimanjakan secara visual kedaerahan, praktik kesyirikan pun terus diadakan.

Dan keberadaan pariwisata tentu tidak akan menyelamatkan ekonomi negeri ini di tengah perang dagang AS-China yang saling ingin menguasai.

Tidak dipungkiri bahwa negeri-negeri muslim termasuk Indonesia adalah target dari perang dagang yang diluncurkan oleh dua negara ini. Justru di negeri muslim inilah ketersediaan sumber daya alam yang diciptakan oleh Allah sedemikian melimpah.

Oleh karena itu, bisa dipastikan AS dan China akan berebut kekuasaan di wilayah Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Kedua negara ini akan selalu berupaya agar mengeruk dan menjajah kekayaan alam dan sektor strategis di negeri kaum muslim.

Adanya penggalian potensi pariwisata kian memperkokoh dua negara yang kuat secara ideologi ini untuk mengeruk kekayaan dalam negeri, sementara kita dibuai untuk fokus pada sektor non strategis seperti pariwisata.

Berbagai kekayaan alam sudah dibagi-bagi kepada asing dan Aseng, sementara kita merogoh kocek recehan dari penghasilan pariwisata yang mengkapitalisasi keindahan alam dan kesyirikan di tengah masyarakat.

Keberadaan pariwisata tidak akan menutup borok adanya perang dagang yang terjadi, justru mengokohkan dusta di tengah masyarakat.

Ini seharusnya menjadi kesadaran bersama bahwa dikte penjajah akan terus berjalan demi memuluskan kepentingan para kapitalis yang ditopang oleh negara adidaya untuk menguasai kekayaan strategis.

Wacana kemajuan ekonomi hingga tameng menghadapi perang dagang sejatinya hanya topeng untuk menjadikan negeri ini semakin terjajah.

Sungguh, keberadaan ideologi bathil yang ditancapkan di negeri ini tidak membawa kebaikan sama sekali bagi kehidupan manusia, justru memunculkan hal-hal yang buruk dan terpuruk.

Sudah saatnya kita mengakhiri episode kebobrokan ideologi kapitalisme ini dengan kembali pada ideologi Islam yang kaffah, menerapkannya dalam kehidupan agar mampu mewujudkan negara yang mandiri, sejahtera dan kokoh dalam bingkai daulah khilafah. Wallahu’alam.[]

*Fani Ratu Rahmani, Aktivis Muslimah dan Pendidik PKBM Anak Tangguh Balikpapan

Comment

Rekomendasi Berita