by

Sania Nabila Afifah*: Akibat Salah Didik, Anak Jadi Korban

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kekerasan pada anak yang dipicu gegara orang tua kesal pada anaknya di sebabkan game online.

Menurut orangtua, anaknya susah diatur hingga pada akhirnya mereka bersikap keras terhadap anak dengan menyakiti fisik seperti menyekap di kandang ayam dengan tangan diborgol dan lain-lain.

Terkadang sebagai orang tua tidak menyadari dari mana sumber masalah yang sebanarnya. Para orangtua sudah merasa melakukan tindakan atau mensolusi masalah tersebut dengan benar, dan merasa sudah cukup bersabar menghadapi tingkah sang anak, tetapi tidak berhasil.

Sudah separah itukah kondisi generasi kita? Banyak generasi terpapar game online hingga mereka lupa waktu, lupa kewajibannya menjadi hamba Allah, lupa diri untuk menjadi anak yang harus berbakti kepada orangtua dan belajar atau menuntut ilmu.

Padahal masa muda adalah masa-masa produktif  untuk belajar dan meraih masa depan di mana mereka kelak akan menjadi tonggak utama tegaknya suatu peradaban mulia. Menjadi penerus yang akan melanjutkan kehidupan ini.

Lantas bagaimana jadinya jika sejak dini mereka telah terpapar game online?

Masa-masa muda kelak akan Allah tanyakan di hari di mana mulut kita tidak bisa berbicara seperti ketika di dunia, tidak bisa mengelak terhadap apa yang telah kita perbuat.

Masa muda yang sangat Allah cintai adalah ketika masa itu digunakan untuk selalu mendekat kepada-Nya. Salah satunya ialah hatinya selalu terpaut dengan masjid, waktunya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif untuk kemashlahatan. Bukan diisi dengan hal-hal yang sia-sia apalagi mengundang mudlarat bagi diri, kehidupannya serta masa depan.

Kehidupan yang serba bebas saat ini menjadikan para muda-mudi terjebak dalam kubangan kemaksiyatan.

Menjadi manusia individualis, hedonis, materialis sebagai sebuah  dampak diterapkannya aturan hidup buatan manusia yaitu sistem kapitalis sekuler yang bertentangan dengan fitrah manusia juga Islam.

Sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan telah menjanggkiti muda-mudi di abad dan zaman ini.

Kehidupan moderen dan serba canggih bukannya menjadikan manusia menjadi pintar dan terdepan dalam sain teknologi namun malah menjadi manusia yang terbelakang dalam segala hal. Sebab telah dilenakan oleh kesenangan yang menipu.

Kehidupan yang serba instan dan canggih melahirkan manusia bermental malas berpikir, malas keluar rumah, malas bersoalisasi, sebab disibukkan dengan gadget.

Untuk mewujudkan generasi yang tidak mudah terbawa arus kerusakan disebabkan kebebasan, maka haruslah ada sinergi antara keluarga, lingkungan dan negara.

Kurangnya kontrol keluarga, lingkungan sekitar kita, dan juga kontrol penguasa yang sangat dibutuhkan untuk menjaga generasi agar tidak terjerumus pada kesalahan yang fatal.

Kontrol keluarga adalah perkara yang harus lebih diutamakan, yaitu membentengi anak-anak dengan menguatkan keimanan memberikan pemahaman tentang agama Islam dan pemahaman nilai-nilai spiritual serta akhlak. Mengontrol penggunaan gadget mereka, membatasi pada waktu-waktu tertentu, memeberikan pemahaman manfaat dan dampak buruknya gadget.

Peran penting lingkungan juga sangat berpengaruh sebab di sanalah tempat anak-anak tumbuh berkembang sejak kecil hingga menjadi dewasa.

Sangat dibutuhkan sinerginya dengan selalu mencegah terjadinya pemicu yang mengarah kepada kerusakan generasi, tentunya tidak hanya kontol gadget, namun juga pergaulan yang dapat merusak prilaku anak-anak dengan senantiasa saling mengingatkan kepada kebaikan di antara anggota masyarakat.

Begitu pula dengan negara,  harus berperan dalam mengatur serta membatasi batasan-batasan situs yang memungkinkan dapat berpengaruh pada kerusakan masyarakat dan memberi dampak buruk harusnya dikaji ulang seperti, menutup situs-situs yang berbau porno dan lain-lain.

Jika semua bersinergi bersama-sama maka tidak akan ada lagi korban kekerasan terhadap anak disebabkan oleh gadget.

Negara harus hadir membuat batas-batas umum sesuai dengan syariah Islam.

Dalam rangka menjalankan kewajiban untuk meriayah masyarakat, dan membangun masyarakat yang Islami dan kuat, berpegang teguh pada hukum-hukum Allah serta terikat dengannya, menyebarluaskan kebaikan, sehingga tidak ada lagi pemikiran yang merusak, juga menjadi tempat edukasi. Wallahu a’lam bis-showab.[]

*Komunitas Muslimah Rindu Jannah, Jember

Comment

Rekomendasi Berita